Pandemi Covid-19 dan Bulan Kitab Suci
Oleh:Frans Obon

By Editor Florespos 04 Okt 2021, 08:47:36 WIB Opini
Pandemi Covid-19 dan Bulan Kitab Suci

Frans Obon, Reaktur Flores Pos Net


Pada bulan September, Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2021, orang-orang Katolik di Indonesia merefleksikan pandemi Covid-19 dalam terang Kitab Suci. Dalam semangat “Seratus Persen Katolik dan Seratus Persen Indonesia”, umat Katolik hendak memberikan kontribusi mereka dalam menyikapi pandemi Covid-19. Berdasarkan refleksi imannya itu pula mereka membangun sebuah kerangka solutif baru dan harapan baru pasca pandemi Covid-19.

Kontribusi iman tidak lain dalam pengertian bahwa bagaimana umat Katolik di Indonesia merefleksikan pandemi Covid-19 yang telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan dan darinya berusaha bangkit kembali dari keterpurukan yang ada. Refleksi iman yang dapat memberikan harapan baru bagi masa depan bersama sebagai suatu bangsa.

Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dalam hal ini Lembaga Biblika Indonesia, telah menyediakan buku panduan refleksi pada Bulan Kitab Suci Nasional 2021, yang akan direnungkan bersama dalam setiap kelompok basis gerejawi di seluruh Indonesia. Bahan-bahan ini akan dibahas, dibicarakan, dan direfleksikan bersama oleh umat Katolik di akar rumput.

Baca Lainnya :

Dengan demikian refleksi atas situasi yang ada bergerak dari akar rumput dan serentak membangun ketekadan dan kemauan bersama untuk tidak “menyerah pada keadaan” melainkan membangun dan melahirkan optimisme baru bahwa kita sebagai bangsa harus membangun kembali “apa yang hilang” akibat pandemi Covid-19.

Dalam terang iman, kita  percaya bahwa mereka yang telah menjadi korban dari pandemi Covid-19 memperoleh kehidupan abadi. Namun, kita diharuskan pula oleh pengharapan yang timbul oleh iman untuk menata dan membangun kembali hidup kita.

Krisis ini sudah sejatinya mendorong kita melahirkan pengalaman baru dan semangat baru untuk memulihkan apa yang rusak dari kehidupan kita. Mendorong kita untuk melihat semuanya dalam kaca mata iman. Oleh iman yang sama kita melakukan transformasi.

Kembali ke Dalam Diri

Pandemi Covid-19, yang mengharuskan kita bekerja dan beribadah dari rumah, dalam konteks tertentu, adalah kesempatan untuk melihat kembali ke dalam diri. Kesempatan bagi kita mengevaluasi kembali seluruh perjalanan hidup kita, karya kita, dan semangat kita.

Krisis ini tidak saja membuat kita terpuruk dalam sekian banyak dimensi kehidupan, tetapi juga mendorong kita untuk mengevaluasi dan membuat keputusan baru. Mungkin saja sebelum pandemi Covid-19 segala hal berjalan sebagaimana adanya dan kita terperangkap dalam rutinitas.

Namun krisis ini membuat kita mengevaluasi kembali cara kita bekerja, jenis pekerjaan, kebersamaan kita dengan keluarga dan cinta kasih dan semangat solidaritas kita dengan orang lain. Bahkan kita merenungkan kembali makna hidup, arti pekerjaan dan apa artinya keluarga bagi kita.

Ibadat kita tidak lagi dilakukan secara massal, tetapi ibadat dilaksanakan di rumah bersama keluarga dan secara pribadi. Kita berdoa di dalam keheningan diri. Dalam doa, kita lihat kembali iman kita dan pengalaman perjumpaan kita dengan Allah. Kita mengalami Allah secara personal yang digambarkan oleh Kitab Suci sebagai Bapa yang penuh belas kasihan. Allah yang merentangkan tangan-Nya dan merangkul kita dalam pelukan-Nya yang penuh kasih.

“Tenanglah! Aku ini. Jangan Takut! (Mat. 14:27). Kata-kata ini, yang merupakan jawaban terhadap badai kecemasan dan ketakutan para murid, memperlihatkan bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang selalu menyertai kita. Dia adalah Imanuel. Allah hadir secara aktif di dalam perguluman kehidupan umat-Nya.

“Angin sakal yang mengakibatkan gelombang besar telah mengombang-ambingkan perahu para murid-Nya” (Mat. 14:24) secara analog dapat disamakan dengan situasi krisis yang disebabkan pandemi Covid-19. Pandemi ini membuat kita takut. Kehilangan orang-orang yang kita cintai menimbulkan krisis yang hebat dalam diri kita.

Namun di tengah badai ini, Tuhan datang dan mengulurkan tangan-Nya. “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”(Mat. 14:27). Namun Petrus mewakili sikap kemanusiawian kita yang ragu-ragu, yang kurang percaya. Petrus berkata: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (ayat 28).

Yesus bilang: “Datanglah”(ayat 29). Tapi karena angin sakal itu begitu kuat, imannya menjadi lemah. Dia mulai ragu. Pengalaman iman Petrus adalah pengalaman kita juga. Seringkali di tengah kerasnya sebuah krisis, kita mulai ragu dan iman kita bisa menjadi lemah.

Di dalam kelemahan itu Petrus berteriak: “Tuhan, tolong aku” (ayat 30). Dan Yesus mengulurkan tangan-Nya, sambil berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang” (ayat 31).

Perikop Matius 14:22-33 ini, sebagaimana juga terungkap dalam buku panduan Bulan Kitab Suci Nasional 2021, memperlihatkan kepada kita bahwa doa dan iman adalah sebuah ruang terbuka di mana kita memperoleh kekuatan dari Allah ketika menghadapi sebuah krisis. Apapun bentuk krisis tersebut.

Dalam kesunyian doa pribadi, di suatu tempat yang memungkinkan kita berjumpa dengan Allah – yang dalam konteks Injil adalah gunung atau bukit – kita menemukan kekuatan yang luar biasa. Melalui doa kita menemukan kembali kekuatan iman.

Pandemi Covid-19 bisa juga menimbulkan krisis iman. Kehilangan anggota keluarga akibat pandemi Covid-19 dapat saja menimbulkan krisis iman.  Kita merasa berada dalam kegelapan dan tidak ada cahaya di dalam kehidupan. Bahkan kita merasa Allah telah meninggalkan kita.

Namun dalam situasi krisis, melalui doa yang tekun, kita sering pula menemukan jalan-jalan baru menuju Tujan. Kadang satu peristiwa menuntun kita pada pencarian Allah. Secercah harapan datang di tengah kegelapan badai kehidupan.

Di sana kita dapat mendengar suara-Nya. “Tenanglah! Aku ini, Jangan takut!” (Mat. 14:27). Tuhan datang meneguhkan dan menenangkan hati. Dia hadir dalam kesusahan kita. Dalam seluruh kegetiran yang dialami, kita menemukan jawabannya.

Teks panduan pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional 2021 mengatakan, “Aku ini” (Yunani, ego eimi), dalam konteks teologi memperlihatkan identitas keilahian Yesus. Kata-kata ini mengulang kembali perkenalan diri Tuhan kepada Musa. “Aku adalah Aku” (Keluaran 3:14).

Bagi orang Katolik, demikianlah cara Allah menyebut diri-Nya, “Aku adalah Aku” bermakna bahwa Allah akan selalu menyertai umat-Nya. Hal serupa dikatakan Yesus: “Aku ini”. Dengan mengatakan demikian, Yesus menegaskan identitas Ilahinya. Allah yang selalu menyertai umat-Nya. “Sesungguhnya Engkau Anak Allah” (ayat 33) adalah pengakuan akan identitas ke-Allah-an Yesus.

Solidaritas

Pandemi Covid-19 telah menghantam kita dan meremukkan berbagai dimensi kehidupan kita. Tapi di sisi lain krisis ini melahirkan sikap solidaritas. Gereja Katolik di berbagai keuskupan di Indonesia dan juga gereja-gereja lokal di seluruh dunia berpartisipasi dalam usaha-usaha mengurangi dampak pandemi Covid-19.

Gereja di Flores pun demikian. Melalui lembaga Karitas, Gereja memberikan bantuan-bantuan kepada keluarga-keluarga yang rentan terkena dampak. Gereja mengambil bagian di dalam kampanye melawan Covid-19. Gereja melakukan ibadat melalui daring. Ikut membagikan masker. Ada banyak usaha lainnya.

Keterlibatan ini merupakan suatu kontribusi nyata kepada mereka yang terdampak. Sikap dan keterlibatan demikian lahir dari rasa prihatin, senasib dan sepenanggungan. Bahwa Gereja peduli dengan mereka yang terdampak. Gereja menangis dengan orang yang menangis. Bergembira dengan orang yang bergembira.

Ada banyak interpretasi terhadap suatu situasi dan peristiwa. Namun suatu situasi dan peristiwa dapat memberikan sudut pandang lain jika dilihat dari mata iman.

Demikian pula dalam kisah Lazarus dalam perikop Yoh. 11:1-45. Tomas yang disebut Didimus mempunyai interpretasi lain (ayat 16). Marta juga demikian bahwa Lazarus saudaranya itu akan bangkit namun pada akhir zaman (ayat 24). Setiap tokoh dalam perikop ini memiliki tanggapannya mengenai peristiwa ini.

Demikian halnya dengan situasi kita. Ada banyak interpretasi dari masing-masing kita sesuai dengan tingkat pendidikan, pemahaman dan pengalaman. Ada iman yang bertumbuh di sana. Ada pula absurditas dari kemanusiaan kita. Ada juga yang menyerah pada nasib, dan lain-lain.

Namun, sikap iman juga bertumbuh. Sikap iman itu tidak lain adalah rasa peduli, prihatin dengan keadaan yang ada dan cinta pada kehidupan. Kita peduli dengan tetangga kita dengan menyediakan makanan untuk mereka yang mengisolasi mandiri. Kita peduli dengan keluarga-keluarga yang menjadi korban pandemi Covid-19.

Sikap peduli itulah yang diperlihatkan Yesus pada keluarga Lazarus, Maria dan Marta. “Dia sangat terharu” (Yoh. 11:33) dan “menangis” (Yoh. 11:35), sehingga orang Yahudi yang ada saat itu mengatakan, “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya” (Yoh. 11:36).

Kita menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan selama masa pandemi Covid-19 karena kita peduli pada kehidupan kita sendiri dan orang lain. Kita menghindari kerumunan dan tidak menggelar acara yang mengumpulkan banyak orang karena kita mencintai kehidupan sendiri dan orang lain. Pandemi ini mengajarkan kita untuk lebih mencintai kehidupan sendiri dan sesama.

Ketika kita menggunakan masker, misalnya, kita tidak hanya melindungi diri sendiri tapi juga melindungi orang lain. Kita menjaga dan memelihara kehidupan orang lain. Dengan demikian kita ikut dalam usaha bersama untuk menghidupkan budaya kehidupan bukannya budaya kematian.

Pandemi ini juga mengajarkan kita mengenai keteladanan dalam kehidupan bersama. Kita tidak hanya mengatur kehidupan orang lain berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab yang kita miliki, tetapi oleh tugas dan tanggung jawab yang dibebankan pada pundak kita, kita memberikan teladan. Kendati seluruh protokol kesehatan sudah kita laksanakan, namun kita masih punya tanggung jawab untuk memberikan keteladanan. Dengan itu kita menjadi mercusuar yang memberi arah pada orang lain.

Dengan inspirasi dari Injil Lukas 10:25-37 tentang “Orang Samaria yang Baik Hati”, kita belajar untuk mengembangkan budaya kasih lintas batas. Kita keluar dari prasangka-prasangka sosial, budaya, politik, ekonomi dan agama. Kita keluar dari kerangka kepentingan diri dan kelompok, kepentingan politik elektoral, kepentingan ekonomi, dan rupa-rupa kepentingan lainnya. Kita dituntut untuk melihat sesama sebagai aku yang lain.

Cerita mengenai orang Samaria yang baik hati itu adalah konkretisasi dari pertanyaan siapakah sesama manusia? “Siapakah sesamaku manusia” (Luk. 10:29). Yesus menjawabnya dengan sebuah cerita.

Dari tiga orang yang melihat korban tergeletak di jalan, orang Samarialah yang “tergerak hatinya oleh belas kasihan” (Luk. 10:33). Maka Yesus pun bertanya: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (Luk. 10:36). Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya”. Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian” (Luk. 10:37).

Sikap solider, merasa senasib dan sepenanggungan lahir dari kasih yang penuh belas kasihan. Kasih ini yang menjadi moral dasar cinta kasih Kristen menjadi nyata dalam sikap solidaritas dengan sesama manusia, terutama mereka yang menderita, kelompok rentan dan kelompok marjinal.

Solidaritas kita hendaknya bersifat inklusif, melampaui sekat agama, politik, sosial, budaya dan ekonomi. Itulah cinta kasih Kristen.

Transformasi

Pandemi Covid-19 mendorong kita untuk melakukan transformasi diri dan transformasi sosial. Bila ibadat kita sebelum pandemi berlangsung massal sehingga mempersempit ruang perjumpaan pribadi dengan Allah, maka pandemi mendorong kita untuk membuka lebar ruang perjumpaan pribadi dengan Allah. Dengan itu kita masuk lebih dalam ke dalam inti diri. Kita menempa kembali spiritualitas pribadi kita.

Bila sebelumnya kita mengagung-agungkan otonomi diri, maka kita kembali menyadari kerapuhan hidup manusiawi kita. Kita melakukan transformasi diri dari pola hidup yang mementingkan diri sendiri menuju suatu sikap altruisme. Pandemi Covid-19 menjadi cermin besar untuk melihat kembali sikap solidaritas kita dengan sesama dan lingkungan dan juga solidaritas kebangsaan kita.

Bila sebelum pandemi, kita mendewa-dewakan uang dan materi, maka saatnya kita menilai kembali semuanya itu. Bahwa hidup manusia bukan sepenuhnya bergantung pada kekayaan dan materi melainkan menemukan makna terdalamnya di dalam Allah sebagai tujuan akhir dari ziarah hidup kita.

Pandemi ini seharusnya menjadi momen kita menginstropeksi diri dan menata kembali seluruh dimensi politik, sosial, agama, ekonomi dan lingkungan alam dan lingkungan sosial kita.

Dari sudut iman, pandemi ini membuat kita setia pada iman yang terlibat dalam kehidupan sosial. “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas. Jadi karena engkau suam-suam kuku dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (Why 3:15-16).

Iman kita menuntut agar pandemi Covid-19 menjadi sebuah garis pisah yang tebal untuk menata kembali semuanya. Sebuah garis yang menunjukkan jati diri Kristen yang benar. Jati diri yang keluar dari gheto spiritual yang nyaman menuju iman yang terlibat. Kita membutuhkan transformasi pribadi dan sosial.

Karena itu Bulan Kitab Suci Nasional 2021 menjadi momen kita menimba inspirasi dari Kitab Suci dalam menanggapi pandemi Covid-19 dan melakukan pembaruan pribadi dan sosial agar menumbuhkan iman yang terlibat dalam membangun negara dan bangsa.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment