Muspas di Tengah Pandemi Covid-19
Frans Obon

By Editor Florespos 12 Nov 2021, 14:03:47 WIB Bentara Net
Muspas di Tengah Pandemi Covid-19

Frans Obon


KEUSKUPAN AGUNG ENDE sukses menggelar Musyawarah Pastoral (Muspas) VIII di Kabupaten Ngada, 27-30 Oktober 2021.

Seharusnya Muspas dilaksanakan tahun 2020, tetapi karena pandemi coronavirus disease (Covid-19) maka ditunda ke tahun 2021. Dengan alasan protokol kesehatan itu pula, peserta dibagi dalam tiga kelompok besar di tiga tempat yang berbeda.

Sejak 1987 atau sudah 34 tahun lamanya Keuskupan Agung Ende menggelar musyawarah pastoral dengan menggunakan pola proses dan partisipatif dengan melibatkan hampir 500-an orang dan jumlahnya kali ini berkurang karrena pandemi Covid-19.

Baca Lainnya :

Dengan alasan tertentu Muspas tidak menggunakan kata sinode untuk pertemuan pastoral lima tahunan ini, sebagaimana diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983 Nomor 460-468.

Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota pada pembukaan Muspas VIII mengatakan, kendati pertemuan pastoral tersebut menggunakan nama Muspas, namun sama sekali tidak menghilangkan karakter sinodalnya.

Muspas yang berjalan dalam banyak tahun tersebut terus menerus diperbarui dalam metode dan polanya sejalan nafas zaman.

Persoalan-persoalan pastoral dibahas mulai dari tingkat komunitas umat basis hingga pada puncak pertemuan pastoral yang bernama Muspas.

Evaluasi dan penelitian dilakukan untuk mendapatkan kekuatan, kelemahan, tantangan dan peluang-peluang baru yang tersedia dalam perencanaan pastoral.

Evaluasi berjenjang dan evaluasi lintas komisi dilakukan secara teratur untuk melhat daya guna dan daya gugah dari reksa pastoral yang dibuat.

Dari proses-proses demikian tampak jelas bagi kita mengenai karakter pentekostal dari reksa pastoral Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende.

Peta jalan (roadmap) reksa pastoral Gereja Keuskupan Agung Ende memang disusun untuk menjawabi tuntutan zaman. Ada pembaruan yang terus menerus dilakukan. Ada sikap yang terbuka terhadap tuntutan-tuntutan baru. Ada upaya serius untuk membaca tanda-tanda zaman. Ada perbaikan yang terencana dalam perumusan dan prioritas program reksa pastoral.

Dengan cara demikian, Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende menjadi sebuah organisme yang hidup, berdinamika, dan berkarakter dialogal yang didasarkan pada Allah Tritunggal Mahakudus.

Dimensti Trinitaris dari Allah yang hidup itu menjadi dasar bagi keterbukaan Gereja untuk berdialog dengan berbagai persoalan dunia dan semua pemangku kepentingan demi kesejahteraan umat.

Dengan cara demikian itu akhirnya kita merasakan denyut kehadiran Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende karena memperlihatkan karakternya sebagai Gereja umat Allah atau umat beriman Katolik itu adalah Gereja itu sendiri dalam arti yang sepenuh-penuhnya.

Gereja adalah umat Allah yang hidup dalam segala dimensinya, suka dukanya, kegembiraan dan harapannya. Maka pantaslah juga jika duka dan kecemasan, kegembiraan dan harapan umat manusia adalah duka dan kecemasan, kegembiraan dan harapan Gereja.

Muspas VIII Keuskupan Agung Ende menandaskan dan menegaskan lagi karakter Gereja sebagai persekutuan umat beriman (communio) dan hakikat Gereja yang bersifat misioner (missio).

Dengan demikian pula sebenarnya Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende sedang mengimplementasikan dan mengarahkan seluruh reksa pastoralnya sesuai dengan semangat pembaruan Konsili Vatikan II.

Konsili Vatikan II mendorong Gereja untuk makin terlibat dalam masalah dan penyelesaian masalah manusia zaman ini.

Pertama, Gereja sebagai persekutuan umat beriman. Kita boleh bilang bahwa Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende konsisten menjalankan reksa pastoralnya sesuai dengan pemahaman baru mengenai Gereja sebagai persekutuan umat Allah (umat beriman) yang digariskan Konsili Vatikan II.

Metode dan pola partisipatif yang digunakan selama Muspas berlangsung dapat dilihat sebagai bagian dari upaya membawa Gereja sebagai persekutuan umat beriman.

Kendati kita harus mengakui bahwa karakter gereja yang hierarkis institutusional masih kuat dalam cara berpikir umat kita. Kita percaya bahwa gerakan pembaruan akan terus mendorong dan mengarahkan Gereja untuk memperkuat pemahaman Gereja sebagai persekutuan umat Allah.

Hal ini akan membawa dampak lahirnya Gereja sebagai sebuah organisme yang hidup, gereja yang dinamis dan terasa kehadirannya.

Kedua, Muspas VIII juga menegaskan mengenai pentingnya Gereja yang bergerak ke luar. Gereja dengan pintu terbuka. Gereja yang bermisi. Misio tidak lain adalah perutusan misioner Gereja ke tengah dunia.

Muspas VIII tidak ingin umat Katolik hanya sibuk dengan dirinya sendiri tetapi keluar dari zona nyaman dan terlibat dalam pergulatan manusia zaman ini dan memberikan jawaban atas persoalan manusia yang lahir dari situasi zaman ini sebagai tanggapan imannya akan Tuhan yang telah masuk dalam sejarah manusia melalui peristiwa inkarnasi.

Dorongan untuk bermisi tidak lain adalah panggilan dasar dan hakikat Gereja yang dari kodratnya bersifat misioner (Ad Gentes No. 2). Gereja dipanggil untuk memberikan kesaksian, menjadi garam dan terang dunia, “terpanggil untuk menyelamatkan dan memperbaharui seluruh ciptaan” (AG No. 1).

Konsili Vatikan II menegaskan, “semua umat kristen di mana pun mereka hidup, berkewajiban, menampilkan dengan teladan hidup dan dengan kesaksian lisan …. sedemikian rupa sehingga orang-orang lain melihat perbuatan baik mereka dan memuliakan Bapa dan dapat mengenal lebih penuh makna sejati kehidupan insani dan ikatan universal persekutuan manusia” (AG No. 11).

Konsili Vatikan II juga mendorong umat Katolik agar “kehadirannya di  tengah kelompok-kelompok umat manusia dijiwai oleh cinta kasih, cinta kasih yang mencakup semua manusia tanpa perbedaan suku bangsa, lapisan masyarakat atau agama, tidak mengharapkan keuntungan atau terima kasih.

Gereja mau bersatu dengan manusia dari tiap lapisan, terutama dengan orang miskin dan yang menderita serta rela berkurban untuk mereka. Juga berusaha dan bekerja sama dengan semua orang lain dalam menyusun tata ekonomi dan sosial.

Hendaknya juga mereka membaktikan diri dengan perhatian khusus kepada pendidikan anak anak dan kaum muda melalui pelbagai jenis sekolah; memberantas kelaparan, kebodohan, dan penyakit serta berusaha menciptakan kehidupan yang lebih baik” (Ad Gentes No. 12).

Aspek communio dan missio adalah dua sisi dari kehidupan umat beriman. Aspek communio dapat menghanguskan sikap dikotomis dalam diri umat beriman.

Di berbagai kesempatan kita mendengar keluhan bahwa terkadang kita baru merasa sebagai anggota Gereja ketika terlibat dengan program pastoral Gereja tapi tidak membawa iman yang terlibat itu dalam berbagai bidang tugas.

Dalam persoalan korupsi, misalnya, seharusnya kita menjadi saksi dan terang bagi pemerintahan yang bersih, bagi organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang bersih dan transparan.

Aspek missio adalah bagian dari panggilan dan kondrat Gereja yang bersifat misioner. Satu tahun lebih bangsa kita dilanda Covid-19. Semua sendi kehidupan terpengaruh.

Dua aspek yang paling terdampak adalah bidang pendidikan dan ekonomi. Mutu pendidikan kita amat terpengaruh oleh Covid-19. Ekonomi pun demikian.

Tiap tahun ribuan kaum muda terdidik kita tamat dari perguruan tinggi. Pengangguran bertambah. Kemiskinan bertambah. Pertumbuhan ekonomi stagnan.

Ini hanyalah sebagian dari persoalan yang kita hadapi. Kita berharap bahwa Muspas VIII yang dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19 melahirkan prakarsa-prakarsa dari orang-orang Katolik Flores untuk terlibat dalam membangun daerahnya.

Kita berharap ada aksi-aksi Katolik untuk mengentaskan orang-orang miskin, meningkatkan mutu pendidikan dan sumber daya manusia serta menciptakan peluang bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah kita. Aspek misio menjadi begitu penting untuk merestorasi Flores menuju kesejahteraan. *




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.