Membidik Suara Emas SBY pada HUT Ke-20 Partai Demokrat
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 18 Sep 2021, 22:11:57 WIB Opini
Membidik Suara Emas SBY pada HUT Ke-20 Partai Demokrat

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Bila Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus berpidato pada seluruh kader Partai Demokrat (PD), itulah suara emas dari seorang Ketua Majelis Tinggi PD. Apalagi pada momentum HUT ke-20 PD dan juga HUT ke-72 kelahiran SBY sendiri (9 September 2021).  Inilah kairos SBY bersuara demi ‘tengoklah ke dalam.’ Atau bisa juga terbaca bahwa SBY sekian cantik bersuara demi lingkup internal PD, yang sebenarnya membias ke seluruh tumpah darah Indonesia.

Bila mesti bertumpuh pada other side approach atau ‘gema terbalik’ dari petuah SBY, maka betapa sungguh bermakna kesadaran politik yang mesti dibangun oleh segenap Keluarga Besar PD. Katakan bahwa semuanya tak sekadar medium positivum. Tetapi ada alarm via negativa-nya. Maksud sederhananya bahwa ada harapan serentak ada alarm untuk tidak lagi seperti yang sudah-sudah. Semuanya demi tegaknya citra Partai Demokrat.

Ajakan untuk ‘dekat dan perjuangkan kepentingan rakyat’ adalah marwah bahwa rakyat dan kepentingannya (bonum commune) adalah segalanya bagi PD. Kesadaran politik seperti ini adalah jalan mulia menuju citra PD yang sesungguhnya. Dalam sejarah 20 tahun itu, ada kisah-kisah keemasan yang ditorehkan PD demi seluruh tumpah darah Indonesia. Walau tak diutarakan, SBY pasti tahu bahwa ‘katakan tidak pada (hal) korupsi’ adalah jargon sehat yang kemudian ‘membusuk.’ Betapa tindakan koruptif yang mendera kader-kader elite PD justru telah lukai kepentingan rakyat.

Baca Lainnya :

Saat disuarakan ajakan untuk merasa peka, sensitif atau penuh kepedulian pada sejumlah isu, yang berujung pada visi ‘masyarakat yang rukun dan bersatu, tampak komitment PD demi Persatuan Indonesia. Tak hanya itu! Suara SBY menyasar pula pada isu kebebasan, serta ekonomi yang adil. Ini pun adalah suara penuh keberanian, saat publik yakin SBY tak mungkin luput dari kenangan pahit seputar kasus Hambalang, Bank Century, plus sekian banyak proyek mangkrak yang melukai ‘ekonomi yang adil.’

Adalah penuh wibawa pula saat SBY gemakan  dukungan agar PD harus menjalankan Demokrasi yang sesungguhnya. Tak hanya itu! PD bahkan harus ‘menjadi champion of Democracy.’ Tentu ini jadi seruan yang ditembakkan pada diri sendiri. Itu artinya, PD tak boleh menjadi kekuatan yang melukai alam Demokrasi. Kecurigaaan publik sekian kejam terhadap PD yang dianggap sebagai bohir untuk berbagai keonaran di tanah air. Apalagi saat mencuatnya pandangan miring bahwa ormas-ormas radikal yang ‘rajin bikin bising’ justru lahir dan ngerinya lagi ‘dirawat’ pada masa kejayaan PD.

PD memang harus jadi Pemenang Demokrasi untuk mendukung Kuasa Pemerintahan yang memang dipilih secara demokratis. Tentu dengan tidak merasa ribet akan kekuasaan kini yang lagi berjuang demi Indonesia Raya. Pemenang Demokrasi pasti berpikir serius dan mencari solusi yang tepat guna keluar dari berbagai persoalan kebangsaan.

Tetapi, adalah tantangan yang tak kecil, saat tabrakan KLB PD yang mengusung Moeldoko sebagai Ketum telah menjadi-jadi dan tak pernah surut. Ketika Demokrasi a la Partai Demokrasi ditafsir sebagai ‘konsolidasi sistem dinasti: Dari Cikeas, Oleh Cikeas dan untuk Cikeas’ sebagaimana terdengar, tentu menjadi tantangan yang ‘tidak main-main.’ Menjadikan PD sebagai partai ‘demokratis, terbuka dan modern’ seturut Pidato pertama Moeldoko, tentu membidik PD di bawah AHY yang berbau ‘dinasti dan tertutup dan terlalu berporos pada Yudhoyono gate.

Maka, dapat dibayangkan betapa Champion of Democracy jadi pertarungan yang tak kecil pada PD di bawah AHY di hari-hari selanjutnya. Pada harapan berikutnya, tak lupa SBY tegaskan pada seluruh kader PD untuk jadikan ‘Partai Politik yang konsisten yang tidak miliki standar ganda.’ Jika demikian, maka yang ditegaskan adalah standar tunggal. Pertanyaannya adalah kualitas standar tunggal macam manakah yang diperjuangkan PD di bawah AHY sebagai Ketua Umum-nya?

Kiranya menjadi partai di jalur oposisi, kini, apakah memang menjadi perjuangan PD untuk mengkritisi Pemerintah? Ataukah sebagai akibat dari kegalauan PD sebab tak (belum) dilibatkan dalam roda pemerintahan? Pada analisis lainnya, justru Pemerintahlah yang berharap, selagi PD masih berstandar pada konsolidasi Partai yang berakar pada dinasti, ada bagusnya, biarlah ia begerak dalam standarnya itu. Karena toh kesibukan kepemerintahan itu amat berpautan dengan kepentingan seluruh tumpah darah Indonesia. Bukannya untuk berpikir, berjuang, serta bekerja untuk membesarkan satu kelompok kecil.

Bagaimanapun, arahan SBY dalam pidato yubileum 20 tahun PD, secara politis, tertuju pada pelbagai kelompok sasaran. Tidakkah ia menyasar publik? Bukankah ia mengarah ke partai-partai koalisi Pemerintah? Bukankah SBY membidik serius pemerintahan di bawah Presiden Jokowi? Dan pada akhirnya, dengan sendirinya, SBY menggerakkan seluruh Keluarga Besar PD untuk bertarung dan akan tempil sebagai pemenang demi Ibu Pertiwi Indonesia.

Semua yang dilontarkan SBY sebagai Ketua Majelis Tinggi PD tentu ditangkap baik oleh Presiden Jokowi. Arahan-arahan indah itu sepertinya dikembalikan, ya katakanlah diukurkan kembali pada PD oleh seorang Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

Sebab, kata Presiden Jokowi, “Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak Keluarga Besar Partai Demokrat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, membangun demokrasi Indonesia yang sehat dan berkualitas….” (kompas 9/9/2021)

Sungguh! Kata-kata SBY amat dahsyat bagi segenap Keluarga Besar Partai Demokrat. Dan ketika sungguh diyakini bahwa hidupnya PD tak mungkin dapat dipisahkan dari segala jasa baik SBY, maka terasa wajar bila di peringatan HUT ke-20 PD, ada penghargaan khusus buat SBY. Ketua Umum PD, AHY, putra sulung SBY, dan segenap elite DPP PD, atas nama PD, memberikan penghargaan  untuk kedua kalinya kepada SBY “Lifetime Achievement”, Penghargaan Capaian Seumur Hidup oleh Partai. Tentu, penghargaan PD versi AHY tak mungkin terarah ke tangan Marzuki Alie atau Jhoni Allen Barbun ataupun  Max Sopphacua. Namun, kapan ya perseteruan antara PD versi Ketum AHY dan PD versi KLB Moeldoko berakhir? Entahlah. Di situlah seninya dunia politik.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment