Ketika Teologi Terkurung di Sel Tahanan (Merenung Lebam di Wajah Muhammad Kace)
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 25 Sep 2021, 21:21:10 WIB Opini
Ketika Teologi Terkurung di Sel Tahanan (Merenung Lebam di Wajah Muhammad Kace)

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Ternyata Kace tak sendirian. Di sel tahanan Bareskrim Polri itu bahkan ada Tuhan pula. Tuhan memang segala ada. Senasib berdua di tempat kelam itu. Tentu beda alasannya.  Kace terbelit dugaan penistaan agama. Tak usah diulang lagi apa dosa-dosa si Kace. Itulah sudah nasibnya. Wajar disekap di sel tahanan. Tetapi Kace memang tak sendiri. Iya, itu tadi, ada Tuhan yang menyertai. Tuhan dipastikan sudah menyusup masuk begitu mudah.

Namun, Tuhan datang tak dalam bendera damai. Sedikit pun tak ada hati sejuk pada Tuhan. Karenanya, dari Tuhan, tak ada keluar kata-kata lembut. Yang tenangkan hati Kace. Yang ingatkan Yace penuh kebapaan-keibuan. “Sadarlah anakKu! Engkau memang telah usik kenyamanan hati segelintir manusia.” Tetapi yang kini hadir adalah Tuhan penuh kekerasan!

Sungguh beruntung Napoleon Bonaparte. Si Jendral bintang dua dari institusi Polri itu ‘lolos seleksi ketat.’ Katanya, dia dikirim Tuhan demi misi mulia. Menanti Kace di sel tahanan Bareskrim.  ‘Tangannya’ dan sejumlah algojo pendamping jadi saluran maut bagi Kace. Tuhan ‘membutuhkan mereka’ untuk tindak keji itu. Ini gara-gara Tuhan sudah tersinggung berat. Ulah Kace sungguh keterlaluan.

Baca Lainnya :

Yakinlah! Sungguh puas hati si Bonaparte. Kekerasan sekitar dini hari, 26 Agustus 2021 itu, sudah buat hatinya melambung tinggi. Karena Kace, bisa jadi si Irjen Pol kelahiran Baturaja (Sumsel) ini lupa untuk sementara akan Djoko Tjandra dan dugaan tindak pidana pencucian uang yang menjeratnya. Tapi, sudahlah! Ya, biar kotor pada soal mamon, tetapi syukurlah Tuhan ‘muliakan derajatnya’ karena sudah membela-Nya.

Cermati surat terbuka si jenderal yang biasa disapa Napo Batara itu. Memang surat itu masih dicurigai asal-muasal tulisannya. Kita ambil saja inti isi hatinya, “Siapa pun bisa menghina saya, tetapi tidak terhadap Allah-ku, Al-Quran, Rasullulah SAW dan akidah Islam-ku, karena saya bersumpah akan melakukan tindakan terukur apa pun kepada siapa pun yang berani melakukannya.”

Napoleon sudah bersumpah demi keyakinan yang diimaninya. Tetapi, apa, sebagai warga Bhayangkara, ia lupa begitu saja akan Tri Brata, dengan segala etika korps Polri dengan segala ketentuannya? Ah, jangan-jangan si Bonaparte lagi ingin mendulang simpati dan atensi publik mayoritas untuk ada di pihaknya?

Ataukah memang ada segerombolan orang lagi menatap serius dari belakang latar aksi hingga memarnya wajah Kace itu? Sebagai alarm kepada yang ‘anti dunia Islam di tanah air’? Hati-hati kalau sampai tetap punya nyali bersuara melawan Allah (kami), Al Quran, Rasullulah SAW. Sebenarnya bisa ditambahkan: “Itulah nasib orang yang gemar melawan, cerewet, dan tak henti-hentinya mengkritisi cita-cita kami, kepentingan, dan perjuangan kami.”

Wajah Kace yang jadi jadi lebam itu kini jadi instrumen untuk pentaskan telak simbiosis mutualisme. Artinya, Napoleon segera jadi ‘saleh’ dalam tindak demi agama dan gerombolan itu jadi tersenyum telah tebarkan ancaman. Wah, salah-salah aksi premanisme hukum jalanan gampang terjadi. Di sel tahanan Bareskrim Polri saja dengan mudah kisah wajah lembam terjadi. Apalagi di tempat terbuka? Hati-hati kalian.

Betulkah Tuhan sekian rapuh? Sebegitu ringkihkah ‘bangunan agama’? Benarkah keyakinan imani tampak bagai rumah di atas pasir? Nyatanya, di sel tahanan Bareskrim Polri, Napoleon, telah tebalkan segalanya. Kekerasan dan tindakan menjijikkan yang diperlihatkannya tak cuma sebatas pelampiasan emosional. Ada batas terlalu tipis antara ‘manusia cepat emosional’ dan sebuah paparan teologi yang ‘menyandera Tuhan.’

Perlukah Tuhan dibela atau diagungkan dengan cara sebrutal dan sehina itu? Tentu  semuanya tak lari jauh dari daya rusak teologi maut. Perlukah ‘moralitas agama’ harus dibangun (dihidupkan) kembali dengan jalan kekerasan? Jika demikian, maka sepantasnya sosok Tuhan seperti itu, dalam agama, patut dievaluasi kembali. Tentu, ini butuh evolusi nalar dalam waktu yang tak singkat.

Benarkah Tuhan sungguh memilih para ‘pengantin-Nya’ untuk tindakan keji apa pun demi membesarkan dan membela nama-Nya? Dari sel tahanan Bareskrim Polri, dipergumpal kembali jihad yang berdansa ria dalam lagu berirama kekerasan. Bukankah hal ini membuat senyum para ekstrimis melebar? Bukankah seorang perwira tinggi Polri dengan mudah terperangkap dalam indoktrinasi suram?

Siapa pun yang waras dan melek hukum, sikap tak terpuji dan hina serta crimen telah diperlihatkan Napoleon. Dalam Napoleon, Tuhan telah terkurung dalam satu cara pandang sempit yang dipaksakan! Dalam Napoleon, dalam sel tahanan itu, entahkah Tuhan sungguh dibela? Ataukah juga bahwa agama justru dipakai untuk ‘memborgol Tuhan’ demi loloskan segala kepentingan, kehendak, cita-cita, serta perjuangan segelintir orang?

Segenap warga Indonesia yang beriman sejuk tentu tak inginkan Tuhan-nya terlalu lemah untuk ‘menuntut’ kekerasan sebagai jalan keluarnya. Tuhan yang dibawa dan diperkenalkan agama-agama  ke seluruh tumpah darah Indonesia adalah Tuhan yang cinta damai, penuh keramahan, suka akan persekutuan, Tuhan yang mengasihi, Tuhan yang bercitra solider.

Karena itulah, tak pernah boleh memborgol Tuhan dari segala kelembutan dan kebaikan-Nya yang tak terlukiskan. Si Irjen Pol Napoleon Bonaparte tentu tidak berjalan di lintasan Tuhan seperti itu. Tetapi, sebenarnya, bukan Tuhan yang perlu dibebaskan! Justru Napoleonlah yang mesti dibebaskan dan bertobat dari teologi maut seperti itu. Iya, Napoleon dan orang-orang yang terlalu lemah untuk diperdayai oleh kuasa kekerasan! Lebam di wajah Kace akan jadi kenangan yang tak terlupakan! Kebesaran dan keagungan Tuhan telah dikudeta dalam kegarangan manusia.

Andaikan saja satu imajinasi mulia. Tuhan sungguh telah ampuni dan memeluk dalam kasih si Muhammad Kace itu. Hanya saja seorang Napoleon dan orang-orang di baliknya masih merasa tak sudi. Untuk sikap Tuhan yang mahapengampun dan mahapenyayang.

Verbo Dei Amorem Spiranti




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment