Kasus HIV di NTT Setiap Tahun Terus Meningkat
Penulis: Leo Ritan/Editor: Wentho Eliando

By Editor Florespos 09 Okt 2021, 12:17:30 WIB Nusantara
Kasus HIV di NTT Setiap Tahun Terus Meningkat

Sekretaris Eksekutif KPA NTT, dokter Husein Pancratius (kacamata) didampingi Pengelola Program KPA NTT, Adi Lamuri.


Kupang, Florespos.net-Kasus human immunodeficiency virus (HIV) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kurun waktu tahun 2018 hingga Juli 2021 terus meningkat. Sedangkan kasus acquired immune deficiency syndrome (AIDS) menunjukkan trend menurun.

Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi NTT, dokter Husein Pancratius mengungkapkan, pada tahun 2018 ditemukan 330 kasus HIV dan 331 kasus AIDS.

Tahun 2019, kasus HIV meningkat yakni sebanyak 387 kasus tapi kasus AIDS menurun yakni sebanyak 313 kasus.

Baca Lainnya :

Pada tahun 2020, kasus HIV meningkat menjadi 393 kasus, sedangkan AIDS sebanyak 122 kasus. Sedangkan tahun 2021, dari periode Januari sampai Juli, ditemukan kasus HIV sebanyak 169 kasus dan AIDS 90 kasus.

“Secara kumulatif, terhitung sejak tahun 2017 sampai 2020, kasus HIV sebanyak 2.620 kasus dan AIDS sebanyak 2.910 kasus,” kata Husein didampingi Pengelola Program KPA NTT, Adi Lamuri di Kupang, Jumat (8/10/2021).

Mantan Direktur RSUD W.Z. Johannes Kupang ini menjelaskan, virus HIV ditularkan dari orang yang positif ke negatif melalui hubungan seksual.

Penulara juga dapat dilakukan oleh mereka yang sengaja memelihara HIV dalam darah hidup. Transfusi darah juga bisa menyebabkan penularan HIV karena membiarkan tetap hidup.

Artinya, darah yang diambil dari mereka yang dinyatakan positif, membiarkan virus tetap hidup ke orang yang mendapat transfusi darah.

Ia berargumen, walau penularan kasus HIV bersifat perorangan, namun terus meningkatnya kasus yang melemahkan imun tubuh itu menunjukkan perilaku sex menyimpang di kalangan masyarakat cukup marak.

Misalkan, pada tahun 2020, dari jumlah masyarakat yang dites sebanyak 56.767 orang, yang dinyatakan positif HIV sebanyak 393 orang.

“Perilaku sex menyimpang masuk dalam kelompok beresiko tinggi karena mereka berhubungan sex dengan orang yang berstatus HIV aktif,” ujar Husein.

Lebih lanjut ia mengatakan, ada empat aspek yang menyebabkan terjadinya penularan HIV yakni adanya faktor exit dari laki- laki, survive atau bertahan dalam organ pembuahan perempuan, dalam jumlah yang cukup dan masuk dalam organ perempuan.

Selain akibat hubungan seksual, kata Husein, penularan HIV juga disebabkan oleh transfusi darah karena membiarkan darah yang mengandung virus HIV tetap hidup. Penularan juga dari ibu ke bayi menyusui.

Untuk ini bisa diatasi dengan terlebih dahulu air susu ibu (ASI) yang hendak diberikan kepada bayi dipanaskan terlebih dahulu dengan suhu 60 derajat celcius. Virus HIV akan mati bila berada pada suhu seperti itu.

“Ibu hamil yang positif HIV bisa saja tidak menularkan virus itu ke calon bayi yang sedang dikandungnya asalkan plasentanya sehat atau tidak bocor. Namun dalam tiga bulan pertama hamil, harus makan obat ARV,” terang Husein.

Husein mengimbau kepada semua mereka yang memiliki resiko tinggi terhadap penularan kasus HIV seperti perilaku sex bebas, hendaknya memeriksakan diri di rumah sakit atau klinik VCT yang telah mengantongi sertifikasi untuk melakukan pemeriksaan. Karena hanya tenaga kesehatan terlatih dan memiliki sertifikat saja yang dapat melakukan pemeriksaan.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment