Internet dan Media
Oleh:Frans Obon

By Editor Florespos 31 Okt 2021, 14:31:53 WIB Opini
Internet dan Media

Frans Obon, Redaktur Flores Pos Net


TEKNOLOGI informasi dan internet telah mengubah bentuk-bentuk komunikasi sosial manusia dengan begitu cepat. Saat ini semua orang bisa mengakses informasi di mana dan kapan saja. Bahkan setiap hari kita dibanjiri berbagai informasi dan penawaran produk melalui layanan iklan.

Bersamaan dengan itu, berita bohong atau hoaks juga berseliweran. Dengan tingkat kemampuan yang berbeda baik pengetahuan maupun usia, tidak sedikit pula orang termakan berita hoaks.

Orang mengunggah begitu banyak informasi ke dalam dunia maya. Dalam banyak hal kebenaran informasi dipertaruhkan. Maka orang pun mulai berbicara mengenai literasi media dan kecerdasan dalam menerima dan membaca informasi.

Baca Lainnya :

Demikian halnya juga mengenai jurnalistik. Internet menjadi peluang baru bagi media arus utama (media mainstream)  untuk menjangkau sebanyak mungkin pembaca dengan membuka laman-laman website. Media cetak juga menggunakan kecepatan dan kemudahan akses informasi yang dimungkinkan oleh teknologi informasi.

Perkembangan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Pembaca beralih dari media cetak ke internet dengan konsekuensi pendapatan media turut terkuras. Media cetak dipaksa untuk melakukan inovasi-inovasi baru agar kue iklan dan pendapatannya bertambah dan meningkat.

Umumnya media arus utama memilih untuk tetap mempertahankan edisi cetak, tetapi juga memberi peluang pada langganan e-paper. Demikian pula iklan, pemasang diberikan dua pilihan: memuat iklan di media cetak atau website. Bahkan kedua hal ini dapat menjadi bonus yang bisa ditawarkan kepada pengiklan. Misalnya pengiklan memasang iklan pada media cetak tapi bonusnya ditayangkan pada website media bersangkutan.

Pada masa pandemi Coivd-19 banyak media arus utama mengurangi karyawan dan melepas sebagian besar kontributor dan wartawannya untuk menekan biaya, sekaligus untuk tetap bertahan. Namun ada pula media yang terpaksa menutup edisi cetak dan berkonsentrasi di media online dan pembaca bisa melanggannya secara e-paper.  Dengan demikian perkembangan teknologi informasi dan internet membuka peluang untuk melakukan inovasi-inovasi baru dan menciptakan kultur baru dalam berbisnis media.

Perkembangan teknologi informasi dan internet yang sedemikian pesat itu bukan saja berakibat pada kecepatan penyebaran informasi, tetapi juga membuka ruang terciptanya berbagai platform media semisal beragam macam media sosial dan blog.

Media sosial dan blog-blog telah mengakibatkan bahwa media arus utama tidak lagi memegang semacam monopoli dalam memproduksi dan menyebarluaskan informasi dan opini. Tapi semua orang bisa memproduksi dan menyebarluaskan informasi. Bahkan media arus utama terkadang menjadikan informasi media sosial sebagai sumber informasi atau mengarahkan liputan berdasarkan informasi yang ramai dibicarakan di media sosial.

Konsekuensi yang paling dimungkinkan oleh perkembangan ini adalah pers sebagai kekuatan atau pilar keempat demokrasi tidak lagi menjadi pemain tunggal. Media sosial dan blog telah menjadi salah satu pilar pembentukan arus opini publik berkat partisipasi semakin banyak orang dalam penggunaan media komunikasi sosial.

Sudah banyak contoh bagaimana sebuah kebijakan berubah karena arus opini publik yang mengalir deras di ruang publik melalui media sosial. Politik sungguh memperhatikan opini publik yang tercemin di dalam survei-survei politik oleh lembaga-lembaga survei. Sudah banyak kejadian di mana perubahan politik dari suatu negara disokong oleh pengguna media sosial.

Berimbas pada Jurnalisme

Perkembangan teknologi informasi dan internet berimbas pula pada jurnalisme. Teknologi informasi dan internet telah membuka ruang bagi setiap orang untuk membuka laman website. Regulasi memberi ruang bagi inovasi seperti ini. Misalnya beberapa orang membuka laman website, lalu membuat berita dan menyebarluaskannya.  

Di tengah berkecamuknya informasi ke publik melalui laman website semacam ini, publik mulai mempertanyakan mutu jurnalisme. Ada berita yang disebarkan ke publik dan mendapat tanggapan luas karena mutu bahasanya yang buruk. Informasinya sumir.

Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial tahun 2005 menerbitkan sebuah dokumen mengenai Etika dalam Internet. Dokumen tersebut menegaskan bahwa jurnalisme mengalami perubahan yang mendalam dalam keadaannya terkini.

Menurut Dokumen tersebut, internet adalah alat yang sangat efektif untuk menyampaikan kabar dan informasi secara cepat kepada orang-orang. Kendati demikian, dokumen itu menegaskan: “Tetapi persaingan ekonomi dan kehadiran jurnalisme online sepanjang waktu juga berkontribusi pada sensasionalisme dan penyebaran rumor, pencampuran berita-berita, publikasi dan pertunjukan, dan pada kemerosotan yang nyata atas kronik dan komentar yang serius. Jurnalisme yang jujur sangat penting untuk kebaikan bersama bangsa-bangsa dan komunitas internasional. Masalah-masalah yang terlihat jelas dalam praktik jurnalisme di internet ini memerlukan sebuah penyelesaian yang cepat dari pihak para wartawan sendiri”.

Apa yang dipertaruhkan dan dikorbankan di sini adalah persoalan keakuratan informasi dan relevansinya. Dokumen ini mengatakan: “Informasi di internet yang luar biasa banyaknya, yang sebagian besar tidak dievaluasi keakuratan dan relevansinya menjadi masalah bagi banyak orang. Tetapi, kami juga prihatin akan kenyataan bahwa para pengguna internet memakai teknologi, yang memungkinkan mereka menciptakan informasi-informasi hanya untuk membuat penghalang-penghalang elektronik melawan gagasan-gagasan yang kurang dikenal. Hal itu merupakan perkembangan tidak sehat dalam dunia pluralistik, di mana orang-orang perlu lebih berkembang dalam memahami satu sama lain. Jika para pengguna internet harus selektif dan mendisiplinkan diri, hal itu hendaknya tidak sampai secara ekstrem membentengi diri dari yang lain.”

Mengapa persoalan ini terjadi dalam  dunia jurnalisme?

Pada laman website pribadi atau sekelompok orang, ada hal-hal esensial dari kerja jurnalistik yang diterabas.

Pertama, tidak ada orang tertentu yang ditugaskan sebagai editor naskah dan editor bahasa (penyelaras bahasa). Apalagi tersedianya sebuah buku panduan (style book). Misalnya bagaimana harus ditulis kata: persentase atau prosentase, praktek atau praktik. Bagaimana harus menulis judul, lead dan bahasa.

Kedua, pada media arus utama semua berita melewati beberapa etape. Naskah diserahkan ke kepala desk, lalu diserahkan ke editor untuk mengedit, diselaraskan bahasanya oleh editor bahasa, diperiksa oleh Redaktur Pelaksana, dilihat oleh Redaktur Produksi, dan terakhir oleh orang yang bertanggung jawab untuk keseluruhan.

Proses semacam ini memang pasti berbeda untuk setiap media arus utama. Tetapi pada prinsipnya sebuah berita melewati beberapa tahap sebelum disiarkan ke publik. Proses kerja seperti ini akan dapat menjamin keakuratan informasi dan relevansinya bagi kehidupan publik.

Mekanisme kerja demikian juga merupakan kesempatan latihan dan pendidikan bagi para reporter secara internal. Maksudnya, seorang reporter berita akan menjadi “matang” dalam tulisannya karena melalui mekanisme kerja yang berlapis seperti ini.

Redaktur akan mengarahkan proses liputan, mempertajam angle berita bahkan reporter harus bolak balik untuk melengkapi data-data dan informasi dasar dalam sebuah berita agar berita menjadi lengkap dan utuh. Editor akan menanyakan hal-hal detail mengenai satu informasi dan menyuruh reporter melengkapinya.

Dengan demikian berita yang diterbitkan pada media cetak bukanlah melulu hasil kerja pribadi seseorang, melainkan kerja tim. Meski nama penulisnya hanya satu orang, misalnya, tapi peranan editor di dalamnya sangat besar.

Proses kerja seperti ini mematangkan reporter. Karena dia bertemu muka, bahkan duduk di samping editor ketika laporannya diedit. Bila tidak jelas, editor akan menanyakan kepada reporter. Dari proses dialogal seperti itu, seorang reporter menjadi lebih paham, terlatih dan terasah dalam membuat berita dan menggali informasi dan menulis berita.

Pada masa pandemi Covid-19 proses itu menghilang karena editor dan reporter tidak bertemu muka di ruang redaksi. Proses kerja menjadi rumit dan memakan ongkos karena harus dilakukan secara daring.

Sebuah informasi yang tercetak di media arus utama sebelum diterbitkan sudah melewati banyak penilaian. Bahasanya, dampak hukum, dan kode etik jurnalistik. Pendek kata, semua hal diperhitungkan. Check and recheck, cover both sides, verifikasi, adil (fairness), dan berimbang.

Aspek-aspek inilah yang membedakan informasi media sosial dan produk jurnalistik. Produk jurnalistik tidak hanya sekadar 5 W dan 1 H, tapi ada aspek substansial lainnya yang perlu diperhitungkan. Di sinilah pentingnya peranan Redaksi sebagi penjaga gawang (gate keeper) dari sebuah media. Mutu kerja jurnalistik ditentukan di ruang Redaksi.

Dari proses kerja semacam inilah, terjadi mobilitas vertikal dalam penjenjangan karier seorang wartawan. Orang-orang yang terbaik yang lahir dari proses kerja yang bertahun-tahun perlahan-lahan diberi tanggung jawab. Itulah manajemen surat kabar. Jadi, seseorang menduduki jenjang yang lebih tinggi dalam suratkabar, misalnya, karena dia telah memenuhi kualifikasi tertentu. Dia sudah matang dan berpengalaman luas. Dia merangkak dari reporter lapangan hingga posisi puncak di sebuah surat kabar. Dengan itu dia akan dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan dan latihan yang terus menerus.

Apakah harus selalu demikian? Mestinya harus demikian. Bisa saja seseorang menempati jabatan Pemimpin Redaksi, tetapi dia diangkat dari luar suratkabar bersangkutan. Namun pemilik media memilihnya karena orang yang bersangkutan sudah malang melintang atau berpengalaman di berbagai media.

Jurnalisme Warga

Bagaimana dengan jurnalisme warga?

Beberapa dekade lalu, media arus utama mengembangkan apa yang disebut jurnalisme warga (citizen journalism). Konsep ini sejalan dengan gerakan masyarakat sipil pada tahun 1990-an yang mendorong partisipasi publik dalam wacana kehidupan negara. Salah satu tujuan utama dari gerakan sosial ini adalah keterlibatan masyarakat dalam menyuntikkan informasi ke ruang publik untuk mengimbangi dominasi negara dalam sektor informasi publik.

Dalam negara yang berwatak otoritarian, negara mendominasi informasi  publik baik melalui pengaturan lalulintas informasi maupun pengekangan-pengekangan lainnya. Dengan partisipasi warga dalam menyediakan informasi ke ruang publik, maka diharapkan ada keberimbangan dalam informasi. Ada suara dari bawah (bottom up) sebagai sandingan dari informasi yang diberikan negara.

Namun di sisi lain, jurnalisme warga ini juga memberikan keuntungan kepada media. Partisipasi warga dalam memproduksi berita telah membuka ruang bagi media untuk memperluas pembacanya.

Strategi yang sama berlaku pula dalam dunia pendidikan. Media arus utama mengembangkan konsep News in Education. Pengembangan seperti ini berdampak jangka panjang. Sederhananya demikian. Suratkabar memerlukan regenerasi pelanggan. Akan membahayakan eksistensi surat kabar bila tidak ada regenerasi pelanggan. Maka News in Education adalah strategi untuk menciptakan pelanggan potensial di masa depan. Maka konsep News in Education dikembangkan mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga perguruan tinggi. Modelnya disesuaikan dengan tingkat pendidikan.

Apakah jurnalisme warga menerabas prinsip-prinsip dasar jurnalistik? Sejauh terkait dengan media arus utama, jurnalisme warga tidak boleh menerabas prinsip-prinsip dasar jurnalisme. Jurnalisme  warga tidak hanya berhenti pada keterlibatan warga dalam memproduksi informasi. Dia harus mengikuti dan memenuhi prinsip-prinsip dasar kerja jurnalisme yang sehat dan baik. Ada banyak sekali koresponden media di berbagai daerah yang mengirim tulisannya ke media arus utama dan Redaksi melakukan tugasnya sesuai dengan prinsip dasar kerja jurnalisme pada media bersangkutan.

Apakah informasi yang disampaikan warga melalui media sosial dapat disebut sebagai karya jurnalistik? Berdasarkan prinsip dasar jurnalisme: tidak! Kendati informasi yang ada memenuhi unsur 5 W dan 1 H, namun belum dapat dikategorikan sebagai sebuah karya jurnalistik. Sebagai prinsip dasar informasi yang baik dan benar: ya. Karena informasi yang demikian telah memenuhi rasa ingin tahu masyarakat. Namun pengguna media sosial tidak memiliki kewajiban untuk melakukan cek dan ricek, liputan dua sisi, berimbang, verifikasi dan adil.

Informasi mengenai suatu pertemuan yang melibatkan para pejabat pemerintahan yang menggelar pertemuan di sebuah pulau melalui channel Youtube misalnya, mendapat begitu banyak tanggapan dan kritikan dari pengguna media sosial. Informasi sekilas itu, dengan durasi yang singkat, tidak memberikan kita gambaran yang utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Namun media arus utama harus melampaui informasi singkat itu. Media harus melakukan cek dan ricek, cover both sides, verifikasi, adil dan berimbang sehingga informasi tersebut menjadi utuh. *




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.