Oleh: Tian Rahmat, S.Fil

DINAMIKA politik lokal di Indonesia hemat penulis selalu menjadi sorotan penting, terutama menjelang pemilihan kepala daerah.

Setiap daerah memiliki karakteristik politiknya sendiri, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti budaya, agama, dan sejarah sosial-ekonomi.

Artikel ini penulis akan mengulas bagaimana dinamika politik lokal dapat membangun kebersamaan di tengah perbedaan, dengan fokus pada Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejarah Politik Lokal NTT

Nusa Tenggara Timur, dengan kekayaan budaya dan etnisnya, memiliki sejarah politik yang kompleks. Sejak era kolonial, daerah ini telah mengalami berbagai perubahan dalam struktur politiknya.

Masyarakat NTT terkenal dengan semangat gotong royong dan kebersamaan yang menjadi modal penting dalam membangun dinamika politik yang inklusif.

Frans Seda dan Ben Mboi hemat penulis adalah contoh tokoh lokal yang berperan besar dalam membangun fondasi politik yang kuat dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Mereka menekankan pentingnya kebersamaan dan toleransi antar kelompok etnis dan agama dalam proses pembangunan daerah.

“Kebersamaan adalah kekuatan kita dalam menghadapi segala tantangan,” kata Ben Mboi dalam sebuah wawancara pada tahun 1995.

Tantangan Dinamika Politik Lokal

Meskipun demikian, hemat penulis dinamika politik lokal di NTT tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah fragmentasi sosial yang bisa muncul dari perbedaan etnis dan agama.

Dalam beberapa kasus, perbedaan ini dimanfaatkan oleh elite politik untuk memecah belah masyarakat demi kepentingan elektoral.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa NTT memiliki tingkat keragaman etnis dan agama yang tinggi.

Data menunjukkan bahwa sekitar 40% penduduk NTT adalah etnis Sumba, 30% adalah etnis Flores dan sisanya terdiri dari berbagai etnis lainnya.

Dalam hal agama, mayoritas penduduk beragama Katolik (65%), diikuti oleh Protestan (25%), dan agama lainnya (10%).

Perbedaan ini, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menjadi sumber konflik. Oleh karena itu, hemat penulis strategi untuk membangun kebersamaan di tengah perbedaan menjadi sangat krusial.

Membangun Kebersamaan melalui Kebijakan Inklusif

Pemerintah daerah NTT telah berupaya untuk membangun kebersamaan melalui berbagai kebijakan inklusif. Salah satu contohnya adalah program pembangunan desa berbasis partisipasi masyarakat yang diluncurkan pada tahun 2019.

Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa dalam proses pengambilan keputusan pembangunan, sehingga setiap kelompok etnis dan agama merasa terlibat dan dihargai.

Contoh lain adalah Festival Budaya NTT yang diselenggarakan setiap tahun. Festival ini hemat penulis menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dari berbagai etnis di NTT sekaligus sebagai sarana untuk mempererat tali persaudaraan antar masyarakat.

Data dari Dinas Pariwisata NTT menunjukkan bahwa festival ini berhasil menarik sekitar 20.000 pengunjung setiap tahun, baik dari dalam maupun luar NTT.

Peran Pendidikan dalam Membangun Kebersamaan

Pendidikan juga hemat penulis memegang peran penting dalam membangun kebersamaan di tengah perbedaan. Pemerintah NTT telah mengintegrasikan pendidikan multikultural dalam kurikulum sekolah.

Program ini bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan sejak dini kepada para siswa.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Nusa Cendana pada tahun 2021 menemukan bahwa siswa yang terpapar pendidikan multikultural cenderung memiliki sikap yang lebih toleran terhadap perbedaan.

Hasil penelitian ini hemat penulis menunjukkan bahwa pendidikan multikultural dapat menjadi alat yang efektif untuk mengurangi potensi konflik antar kelompok.

Peran Media dalam Dinamika Politik Lokal

Media juga memiliki peran yang signifikan dalam membangun kebersamaan di tengah perbedaan.

Media massa dapat menjadi sarana untuk menyebarkan informasi yang akurat dan berimbang tentang dinamika politik lokal, sekaligus sebagai platform untuk mempromosikan dialog antar kelompok.

Contoh konkret adalah peran surat kabar lokal seperti Pos Kupang, Flores pos dan media-media lainnya yang rutin mengangkat isu-isu kebersamaan dan toleransi.

Dengan memberikan ruang bagi berbagai kelompok untuk menyuarakan pendapat mereka, hemat penulis media dapat membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi dialog dan kerjasama.

Studi Kasus: Pemilihan Kepala Daerah di NTT

Pemilihan kepala daerah (pilkada) di NTT pada tahun 2020 hemat penulis menjadi contoh nyata bagaimana dinamika politik lokal dapat membangun kebersamaan di tengah perbedaan.

Dalam pilkada tersebut, isu-isu kebersamaan dan toleransi menjadi tema utama kampanye para kandidat.

Salah satu kandidat, Viktor Laiskodat, berhasil memenangkan pilkada dengan mengusung platform kebersamaan dan pembangunan inklusif.

Dalam pidato kemenangannya, Laiskodat menekankan pentingnya kerjasama antara berbagai kelompok etnis dan agama untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan bahwa Laiskodat berhasil mendapatkan dukungan luas dari berbagai kelompok, dengan perolehan suara sebesar 55%.

Masa Depan Dinamika Politik Lokal di NTT

Masa depan dinamika politik lokal di NTT akan sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam mengelola perbedaan.

Untuk itu, hemat penulis dibutuhkan komitmen yang kuat dari semua pihak untuk terus mempromosikan kebersamaan dan toleransi.

Langkah konkret yang bisa diambil antara lain adalah memperkuat pendidikan multikultural, memperluas program-program inklusif, dan memastikan media massa tetap berperan sebagai penjaga nilai-nilai kebersamaan.

Dengan demikian, NTT dapat menjadi contoh bagaimana dinamika politik lokal dapat menjadi kekuatan positif dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Penutup

Dinamika politik lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT) menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan.

Sejarah panjang dan kaya NTT menunjukkan bahwa kebersamaan dan toleransi adalah kunci untuk membangun masyarakat yang harmonis dan maju.

Tokoh-tokoh seperti Frans Seda dan Ben Mboi telah memberikan contoh bagaimana kepemimpinan yang inklusif dapat membawa kesejahteraan bagi semua.

Namun, hemat penulis tantangan tetap ada, fragmentasi sosial yang didasarkan pada perbedaan etnis dan agama masih menjadi ancaman nyata.

Data menunjukkan bahwa NTT adalah rumah bagi berbagai kelompok etnis dan agama jika tidak dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber konflik.

Oleh karena itu, penting untuk terus mengembangkan kebijakan inklusif dan pendidikan multikultural yang mempromosikan toleransi sejak dini.

Program-program seperti pembangunan desa berbasis partisipasi masyarakat dan Festival Budaya NTT adalah langkah nyata yang menunjukkan bagaimana pemerintah daerah berupaya membangun kebersamaan.

Selain itu, peran media lokal seperti Pos Kupang, Flores pos dan media-media lainnya dalam menyebarkan informasi yang akurat dan mempromosikan dialog juga tidak bisa diabaikan.

Studi kasus pilkada NTT 2020 dengan kemenangan Viktor Laiskodat menunjukkan bahwa tema kebersamaan dan inklusifitas mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Ini menjadi bukti bahwa masyarakat NTT siap untuk bekerja sama demi mencapai kesejahteraan bersama.

Ke depan, keberhasilan dalam mengelola perbedaan akan sangat menentukan masa depan NTT. Langkah-langkah konkret seperti memperkuat pendidikan multikultural, memperluas program inklusif dan menjaga peran media sebagai penjaga nilai kebersamaan harus terus dilakukan.

Dengan komitmen yang kuat dari semua pihak, hemat penulis NTT dapat menjadi contoh bagaimana dinamika politik lokal dapat menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Melalui kebersamaan, NTT akan terus maju menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan kelemahan. *

Penulis, adalah Alumnus IFTK Ledalero/Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret, Maumere-Flores NTT

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *