MAUMERE, FLORESPOS.net-Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) Indonesia menggandeng Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK) dalam upaya mendukung warga Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka untuk melestarikan tradisi konsumsi Ondo (Ubi Hutan).

Upaya melestarikan Ubi Hutan dan Ondo dijadikan pangan alternatif sebagai langkah antisipasi dan adaptasi kelangkaan pangan jika sesewaktu warga terkena  dampak buruk perubahan iklim.

Langkah untuk melestarikan atau Pelestarian Tradisi Konsumsi Ubi Hutan ini diawali dengan sosialisasi yang dilakukan Yayasan PAPHA dan YSIK di Aula Kantor Desa Done,baru-baru ini. Kegiatan sosialisasi diikuti 40 orang anak muda. Sosialisasi dibuka oleh PJ Kepala Desa Done, Silvanus Abson.

PJ Kades Done Silvanus Abson dalam sambutannya antara lain menyampaikan apresiasinya aras dilaksanakannya kegiatan  sosialisasi dimaksud, dan atas upaya Yayasan PAPHA dan YSIK yang terus mendorong warga untuk melestarikan ubi hutan sebagai makanan alternatif.

Kades juga menyambut baik program ini karena menurutnya tradisi ini justru sangat baik dan positif di dalam mendukung ketahanan pangan dan juga memiliki nilai-nilai budaya yang baik tentang manajemen keamanan dan ketahanan pangan.

“Untuk melestarikan tradisi konsumsi ondo ini, perlu dimulai dengan perang melawan stigmatisasi buruk terhadap kebiasaan mengkonsumsi Ondo ini, kata Pj Kades Done.

Ondo Memiliki Kandungan Gizi

Untuk mendapatkan gambaran tentang Ubi Hutan/Ondo maka panitia mempercayakan dua nara sumber untuk mengupas materi tentang Ondo.

Yaviani Margaretis,S.Gz.M.Kes salah seorang pemateri pada kesempatan ini antara lain mengemukakan bahwa Ondo/ubi Gadung ini memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi.

Ia menjelaskan bahwa ada banyak manfaat dan nilai gizi dari ondo/ubi gadung ini dalam memenuhi kebutuhan energi tubuh. Karbohidrat di dalam gadung didominasi oleh pati. Ondo/Ubi Gadung juga memiliki energi 100 kal., protein 0,9 gran, Lemak 0,3 gram, KH 23,5 gram, Serat 2,1 gram, Kasium 79 mg, Fosfor 69 mg, Besi 0,9 mg, dan Kalium 687,2 mg.

Narasumber lainnya, Yuldensia Theresiana Hesty menyampaikan beberapa alasan mengapa Ondo yang didorong sebagai pangan alternatif di antaranya karena Ondo itu paling tahan dan bisa hidup subur entah ketika curah hujan sangat rendah maupun ketika curah hujan sangat tinggi.

“Artinya Ondo ini tetap ada meski iklim dan curah hujan berubah. Karena itu tradisi konsumsi Ondo ini harus terus dipelihara untuk menopang ketercukupan pangan,” kata Yuldensia.

Antisipasi Dampak Perubahan Iklim Buruk

Sementara, Direktur PAPHA Bernardus Lewonama Hayon atau yang akrab disapa Narto kepada Florespos.net, di Maumere, Rabu (3/7/2024) menambahkan, masyarakat perlu mengantisipasi adanya perubahan iklim yang membawa dampak buruk yang bisa mengakibatkan adanya gangguan ketersediaan makanan.

Menurutnya, salah satu upaya antisipasi yang dilakukan yakni dengan mempersiapkan makanan alternatif, di antaranya Ubi Hutan atau yang dalam Bahasa Lio disebut Ondo, atau Magar dalam Bahasa Tana Ai, Bagian Timur Kabupaten Sikka.

PAPHA Indonesia sebagai salah satu NGO lokal yang memiliki komitmen terhadap masyarakat dan kelompok rentan, berupaya sebisanya di dalam kerangka memperkuat ketahanan warga mengahadapi berbagai dampak buruk perubahan iklim itu, katanya.

Narto menggarisbawahi bahwa kelangkaan pangan adalah salah satu dampak serius dari perubahan iklim, sementara tradisi lokal yang baik yaitu mengonsumsi Ondo justru sedang di stigmatisasi buruk oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu PAPHA Indonesia mencoba menggandeng Yayasan Sosial Indonesia Untuk Kemanusiaan (YSIK) di dalam Program Hibah Pundi Hijau, berupaya menghidupkan kembali tradisi yang baik ini.

Targetnya anak-anak muda usia sekolah di Desa Done, tahu dan terampil mengolah Ondo tidak hanya sebagai pangan layak konsumsi tetapi juga menjadi produk selera pasar.

Artinya akan ada produk turunan berbahan baku Ondo yang bisa dipasarkan. Semoga, tidak ada lagi yang menstigmatisasi buruk, warga yang mengkonsumsi Ondo, kata Narto Alumnus IFTK Ledalero ini.

Latar Belakang

Untuk diketahui, Ondo merupakan  sebutan bagi masyarakat Lio yang mendiami belahan barat wilayah Kabupaten Sikka, NTT, terhadap ubi hutan yang bernama latin Discorea Hispida dennst. Sementara masyarakat Tana Ai yang mendiami wilaya Kabupaten Sikka bagian timur menyebutnya dengan nama Magar.

Meskipun memiliki kandungan racun, namun Ondo ini sudah dikonsumsi turun temurun oleh masyarakat Lio, dan tidak pernah ada ceritera sampai saat ini bahwa ada masyarakat yang keracunan dan meninggal karena memakan Ondo atau ubi hutan ini.

Ondo dikonsumsi sebagai cemilan pagi dan sore saat minum kopi atau teh. Ondo juga dikonsumsi sebagai pengganti nasi.Karena itu, Ondo menjadi salah satu pangan alternatif sejak zaman nenek moyang orang Lio, yang dikonsumsi ketika cadangan beras atau jagung semakin menipis bahkan habis.

Mengkonsumsi Ondo adalah sebentuk kearifan lokal masyarakat Lio khususnya Desa Done, dan cara ini sebagai salah satu pola ola dan management konsumsi untuk menopang ketercukupan pangan di tengah ancaman kerawanan pangan oleh karena dampak buruk perubahan iklim.

Namun demikian dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun terakhir, terlihat ada upaya stigmatisasi buruk terhadap tradisi masyarakat Lio mengkonsumsi Ondo.

Upaya ini, boleh dibilang dilakukan secara sengaja dan sistematis untuk kepentingan yang buruk. Setiap masyarakat yang mengkonsumsi Ondo, dianggap sedang mengalami kemiskinan dan kelaparan.

Dan peristiwa masyarakat mengkonsumsi Ondo ini diglorifikasi sedemikian massif terutama melalui media-media massa untuk menarik perhatian dan empati dari berbagai pihak yang pada ujungnya adalah untuk mendapatkan donasi.

Tradisi arif masyarakat Lio mengkonsumsi Ondo ini yaitu untuk management saving pangan, yang juga sangat dinikmati atau digemari karena rasanya yang khas, justru sengaja dipersepsikan buruk dan rendahan untuk kepentingan atau pihak-pihak tertentu.

Dampak dari stigmatisasi buruk tersebut, kini masyarakat Lio pada umunya dan masyarakat Desa Done pada khususnya, menjadi semakin enggan untuk mengonsumsi Ondo karena menganggap bahwa mengonsumsi Ondo akan merusak martabat dan harga diri mereka sendiri dan wibawa pemerintah setempat.

Sebuah tradisi dan kearifan lokal yang baik ini, yang sarat dengan nilai budaya itu akhirnya terberangus di tengah situas di mana produktivitas padi, baik di sawah maupun di ladang sebagai sumber pangan utama semakin menurun akibat kekeringan panjang.Banyak anak-anak atau generasi muda Lio khususnya Desa Magepanda tidak lagi mengetahui teknik atau cara-cara mengolah Ondo menjadi bahan pangan yang layak dan sehat untuk dikonsumsi.

Jika kondisi ini terus dibiarkan maka dalam beberapa waktu ke depan, tradisi yang baik dan sarat nilai budaya ini bisa hilang.

Karena itu, Yayasan PAPHA Indonesia dengan menggandeng Yayasan Sosial Indonesia Untuk Kemanusiaan (YSIK)di dalam program hibah Pundi Hijau berupaya melestarikan tradisi konsumsi ondo ini. *

Penulis: Wall Abulat I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *