ENDE, FLORESPOS.net-Angka prevalensi stunting di Kabupaten Ende pada tahun 2023 lalu sebesar 6,8% atau 1.241 kasus stunting. Pada tahun 2024 tepatnya masa timbang bulan Februari naik menjadi 8,2% atau 1.448 kasus.

Penjabat Bupati Ende, Dr Agustinus Ngasu usai menghadiri kegiatan Rembuk Stunting tingkat Kabupaten Ende di Aula Hotel Flores Mandiri, Kamis (20/6/2024) mengatakan naiknya angka stunting ini menuntut peran dari semua pihak untuk bersinergi melakukan intervensi untuk menekan angka tersebut.

“Pemerintah bersama seluruh komponen masyarakat baik dari tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga DPRD mesti berkomitmen turunkan angka stunting sesuai dengan target yang ditetapkan,” kata PJ Bupati.

Dokter Gusti mengatakan pada tahun 2023 angka stunting di Ende 6,8 % dan ditargetkan turun ke 5,3 pada tahun 2024. Namun kenyataan naik lagi ke angka 8,3%.

Pemerintah dan seluruh komponen di daerah ini bergandengan tangan untuk melakukan intervensi lapangan untuk menurunkan angka stunting sesuai dengan target yang ditetapkan.

Dr Agustinus mengimbau agar intervensi yang dilakukan mesti tepat sasaran atau sesuai dengan kondisi riil lapangan. Misalnya permasalahan di lapangan adalah sanitasi maka intervensi yang dilakukan adalah masalah sanitasi bukan pemberian makanan tambahan.

“Selama ini yang dilakukan intervensi lapangan tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan, yang penting pemberian makanan tambahan padahal permasalahannya adalah sanitasi,” katanya.

Pj Bupati mengingatkan kepada instansi pemerintah terkait yang melakukan penanganan agar intervensi lapangan harus sesuai dengan permasalahan lapangan.

Faktor penyebab dari naiknya angka stunting antara lain asupan gisi dan kesehatan ibu saat masa hamil anak pada seribu hari kehidupan rendah.

Faktor lain yaitu sanitasi di sekitar tidak mendukung seperti rumah tidak layak huni dan lingkungan yang kotor dan juga faktor budaya.

Kegiatan rembuk stunting Kabupaten Ende dihadiri oleh pimpinan OPD terkait di Ende, Camat, Lurah, Kepala Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan stakeholder terkait lainnya. *

Penulis: Willy Aran I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *