RUTENG, FLORESPOS.net-Lomba aneka tarian dengan latar belakang budaya Manggarai, NTT, mengisi momen gebyar akhir tahun SMPN 4 Langke Rembong.

Sedikitnya, ada 14 jenis tari yang dilombakan antar kelas di sekolah yang terletak di Lao tersebut. Pada babak pamuncak, Selasa (17/6/2024) sebanyak 8 jenis tari ditampilkan untuk mendapatkan hasil terbaik.

Pantauan wartawan, para penari tampil gemulai dalam balutan busana Manggarai di hadapan Dewan Juri, para guru, panitia, dan kepala sekolah.

Suasana meriah karena penampilan penari setiap kelas mendapat dukungan dari suporternya. Tepuk tangan, teriakan membuat suasana gebyar terasa di kompleks sekolah yang dipimpin Kasek Wens Resman itu.

Menurut Ketua Panitia Guru Belasius Sadung, yang maju ke babak pamuncak ini ada 8 grup tari. Tarian yang ada itu umumnya berlatar belakang budaya Manggarai.

“Mengapa hanya  8 grup tari yang tampil. Karena yang lain sudah gugur di babak penyisihan,” katanya.

Aneka tarian itu, yakni Ako Woja (memetik padi), Doku (tarian nyiru), Pua Kopi (memetik kopi), tarian Molas Bali Belo (gadis bali belo), tari Ngo Cebong (pergi mandi).

Lalu, tarian Tepi Dea (membersihkan padi), tarian caci (tari ketangkasan), dan tarian Rojok Loce (menganyam tikar).

Selain lomba menari, hari sama dilombakan solo vokal yang juga diikuti 8 peserta terbaik dari setiap kelas.

Dan, lomba melukis tentang suasana alam dan lingkungan. Sebanyak 40 karya lukisan yang dihasilkan para siswa tersebut.

Sebelumnya Koordinator Lomba Menari, guru Hilde Ndaeng mengatakan, proses untuk sampai pada perlombaan puncak sudah lama. Sekarang yang tampil yang terbaik dari 14 kelas di sekolah ini.

“Nanti akan dinilai secara ketat. Yang juara nantinya akan menjadi utusan sekolah untuk tampil di tingkat kecamatan atau kabupaten,” katanya.

Sedangkan Kaseknya Wens Resman mengatakan, apa yang dilakukan ini adalah agenda sekolah yang sudah dijadwalkan. Sekarang ini jadwalnya  gebyar akhir semester dan panen proyek profil penguatan pelajar Pancasila (P5).

“Kemarin ada lomba cerdas cermat rangking satu. Dan, nantinya akan ditutup dengan pameran karya para siswa,” katanya.

Dikatakan, apa yang diadakan sekolah ini tidak keluar dari kurikulum yang berlaku secara Nasional.

Teori dan praktik harus seiring sejalan dalam memberi bekal pada anak didik baik untuk pendidikan lanjut maupun bekal dalam kehidupannya kelak. *

Penulis: Christo Lawudin I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *