LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Warga Pulau Rinca, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) NTT selalu kewatir hidup diujung tanduk hingga kapan pun. Kehidupan mereka terancam oleh karena terus bersama binatang buas Komodo (Varanus komodoensis).

Demikian Kepala Desa (Kades) Pasir Panjang, Nurdin, kepada Florespos.net, di Labuan Bajo belum lama ini. Jumlah penduduk Desa Pasir Panjang sekitar 1.890 jiwa, katanya.

Diungkapkan, Desa Pasir Panjang, termasuk Pulau Rinca, bagian dari kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) disamping Pulau Komodo Desa Komodo, Pulau Papagarang Desa Papagarang dan nusa-nusa lain sekitar 3 pulau tersebut. Pulau Rinca dan Pulau Komodo habitat asli Varanus komodoensis (Komodo).

Sehubungan dengan selalu hidup bersama binatang purba nan buas Komodo, Kades Nurdin meminta pemerintah segera membangun pagar berkualitas mengelilingi kampung-kampung yang ada di Pulau Rinca, seperti pagar keliling Kampung Rinca dan kampung lain di pulau tersebut.

Fasilitas-fasiltas umum di Pulau Rinca, seperti sekolah-sekolah dan lain-lain, juga diminta kepada pemerintah segera membangun pagar keliling yang berkualitas.

“Dari dulu sampai sekarang kita  “disuruh” konsevasi, menjaga kelestarian, menjaga Komodo di sana (Pulau Rinca). Tetapi hidup kita di ujung tanduk, terancam karena selalu bersama binatang buas itu, ” ujar Kades Nurdin.

Oleh sebab itu, diminta kepada pemerintah segera membuat pagar bagus dan berkualitas mengelilingi kampung-kampung dan fasilitas-fasilitas umum di Pulau Rinca demi keamanan, kenyamanan dan keselamatan warga/anak sekolah dan petugas setempat pun tamu/wisatawan yang berkunjung ke Pulau Rinca.

Selain itu, kepada pemerintah juga dimohon supaya membangun fasiltas air bersih di Kampung Rinca, karena debit air setempat selama ini tidak cukup, kecil, kata Kades Nurdin seraya menambah, kalau listrik tidak ada masalah di Pulau Rinca belakangan karena sudah ada PLN.

Secara terpisah Wakil Bupati (Wabup) Mabar Yulianus Weng mengatakan, air bersih di Pulau Rinca adalah masalah klasik. Itu persoalan dari dulu. Tetapi yang terpenting ada mata airnya walau debit kecil. Pemerintah berencana membangun sumur bor di sana, atau kalau ada pihak ketiga yang mau bantu dalam bentuk CSR.

Kata dia, mungkin yang Pemkab Mabar akan tangani cepat di Pulau Rinca adalah pembangun atau memperbaiki pagar keliling sekolah demi keamanan dan kenyamanan para murid, guru/pegawai setempat. Tetapi perlu perencanaan, kecuali bencana alam yang langsung bantu.

Sedangkan untuk pembangunan pagar permanen keliling Kampung Rinca belum bisa, terlalu besar. Masyarakat di sana (Rinca) dan Komodo dari dulu sudah hidup berdampingan. Soal Komodo dan air bersih itu sudah dilaporkan ke pemerintah selama ini.

Wabup Weng mengungkapkan, kewenangan mengelola TNK ada otoritasnya, yaitu BTNK. Tetapi secara administrasi berada dalam wilayah Mabar.

Maka membangun masyarakat di wilayah TNK bukan cuma BTNK, juga tanggung jawab Pemkab Mabar, itu dalam bingkai NKRI. Namun pembangunan itu bertahap, butuh perencanaan, kata eks Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai itu.

Anggota DPRD Manggarai Barat Bernadus Ambat mengingatkan Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI supaya melakukan pendekatan integral pembangunan di TNK.

Menurut politisi Partai Perindo itu, terkait ini di antaranya air bersih. Bahwa air bersih dimaksud selain guna memenuhi kebutuhan warga dalam kawasan TNK, juga untuk kebutuhan para tamu/wisatawan yang berkunjung ke sana, TNK.

Pempus mesti menyikapi konflik antara manusia versus Komodo selama ini di TNK, tak terkecuali di Pulau Rinca. BTNK representatif dari Pempus/Kementerian LHK RI harus bertanggung jawab atas keselamatan/kenyamanan hidup masyarakat dalam kawasan TNK, termasuk pengunjung/wisatawan yang datang ke sana.

Terkait ini salah satunya harus buat pagar pembatas di sekeliling kampung dan sekeliling fasilitas umum yang ada dalam kawasan TNK seperti sekolah dan lain-lain. Karena otorita/kewenangan TNK ada di Pempus/Kementerian LHK melalu instansi lapangannya yakni BTNK, kata Ambat.

Fedi, petugas BTNK-Pulau Rinca  membenarkan kesulitan air bersih warga Pulau Rinca, juga Komodo sering masuk Kampung Rinca dan sekolah setempat sejauh ini.

Di Labuan Bajo di hadapan Kepala BTNK Hendrikus Rani Siga, Fedi mengatakan, pemagaran yang dibuat BTNK keliling Kampung Rinca dan di sekeliling sekolah setempat sejauh ini sepertinya kurang maksimal.

Komodo masih bisa bolos ke kampung maupun sekolah. Di antaranya masuk melalu pintu pagar sekolah yang rusak atau melompati pagar untuk masuk kampung, katanya.

Masyarakat Pulau Rinca, lanjut Fedi, selama ini juga sering alami kesulitan air bersih, terlebih pada musim kemarau. Pada musim ini (karau) mereka beli air bersih di daratan Flores, antara lain di Menjaga, ujarnya.

Rani Siga mengungkapkan, membangun/memperbaiki pagar keliling Kampung Rinca dan pagar keliling fasilitas umum di Pulau Rinca seperti keliling sekolah jadi prioritas pihaknya tahun-tahun mendatang. Tidak bisa dibangun tahun 2024 antara lain karena keterbatasan anggaran.

Untuk 2024, menurut Rani Siga, pihaknya fokus membangun ruang rapat/pertemuan BTNK di Labuan Bajo, karena gedung lama terlalu kecil, katanya.

Sesuai data terkini, kata Rani Siga, konflik manusia versus Komodo sejauh ini sudah memakan korban 41 orang, dalam dan luar kawasan termasuk 2 wisatawan. Dan juga berdasarkan data BTNK terkini jumlah Komodo di TNK lebih dari 3000 ekor, populasinya cendrung meningkat.

Lanjut Rani Siga, terkait dengan pembangunan fasilitas air bersih di Kampung Rinca, pihaknya berharap kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat.

Dilansir media ini sebelumnya, manusia pertama yang dimangsa Komodo adalah Baron Rudolf. *

Penulis: Andre Durung I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *