Oleh: Imakulata Murni

PERSEPSI masyarakat terhadap dunia politik memang beranekaragam. Publik berharap politik dapat membawa kesejahteraan meskipun tak sedikit yang menjauhi politik karena dianggap sarat intrik dan konflik.

Pendidikan politik menjadi keharusan untuk diterapkan agar setiap orang memahami kewajiban dan haknya sebagai warga negara.

Berita tentang gaduh politik memang lebih dominan menghiasi koran, televisi, dan media lainya, dibandingkan tampilan wajah politik yang menyejukkan.

Belum lagi kebijakan publik yang dihasilkan dari proses politik kadang malah mendegradasi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga politik.

Sebagai contoh salah satu ungkapan poluler dan sangat trend di masyarakat tentang bedanya Pil KB dan Pilkada “Pil KB kalau lupa jadi, sedangkan Pilkada kalau jadi lupa”.

Sindiran ini mewakili suara publik tentang gaya politik yang menggambarkan realitas yang sebenarnya.

Pada pandangan klasik Aristoteles mengemukakan bahwa semestinya politik digunakan masyarakat untuk mencapai suatu kebaikan bersama yang dianggap memiliki nilai moral yang lebih tinggi dari pada kepentingan jabatan.

Politik yang sehat adalah sesuatu yang diimpi-impikan oleh kitasemua. Esensi dari politik sehat adalah usaha untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera. Dalam artian, semua energy dalam berpolitik harus dikerahkan demi kepentingan rakyat.

Politik di negeri ini perlu dikembalikan kepada hakikatnya sebagai jalan menuju kebaikan bersama. Pasalnya, Indonesia sendiri pernah menorehkan sejarah melaksanakan politik yang sehat, tepatnya pada pemilu 1955.

Banyak ahli sejarah perpolitikan Indonesia mengatakan pemilu 1955 pemilu yang dipuji dan dikenang sebagai kontestasi politik yang paling demokratis oleh semua kalangan. Hal itu terjadi karena pemilu 1955 dilaksanakan dengan bebas, jujur, adil dan terbuka.

Terhalangnya system politik yang sehat disebabkan oleh adanya ketidaksadaran dari banyak kalangan yang terlibat. Ketidaksadaran politik menggerogoti banyak pihak, mulai dari politisi, oligarki, penyelenggara pemilu, dan rakyat itu sendiri.

Dalam menyambut pilkada 2024 ini, diharapkan dilaksanakan dengan bebas, jujur, adil dan terbuka serta aman, tertib, dan damai, demi kebaikan dan kesejahteraan bersama. Politik bukanlah sesuatu yang baru. Yunani kuno menjadi tempat lahirnya kesadaran berpolitik.

Politik lahir ketika kesadaran berwarga negara juga mulai tumbuh. Pendek kata politik adalah sebuah seni dalam nenata kota (polis).

Penggunaan kata polis bukan saja menunjuk negara dalam pengertian secara structural atau organisasi, melainkan juga menunjuk kepada masyarakat yang hidup dalam polis tersebut.

Dengan kata lain, pembahasan mengenai polis tidak dapat dilepaskan dari manusia (masyarakat) sebagai entitas dalam bernegara.

Karena itu, dalam proses menata kota, harus dimulai dengan menata manusia yang ada dalam polis tersebut. Dalam artian bahwa, para politisi, penyelenggara pemilu, dan rakyat itu sendiri menjadi fondasi dasar untuk menciptakan politik sehat.

Mari kita jaga demokrasi kita dengan baik. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. ***

Penulis: Mahasiswa Semester VIII, Sekolah Tinggi Pastoral (Stipas) St. Sirilus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores-NTT

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *