RUTENG, FLORESPOS.net-Uskup Keuskupan Ruteng, Mgr. Sipri Hormat sendiri yang memimpin misa pemakaman imamnya, Rm. Beny Jaya di gereja devosional St. Yosef (katedral lama Ruteng), Minggu (21/4/2024).

Dalam khotbahnya yang menggetarkan, Uskup Sipri mengatakan, hari ini, kita berkumpul dalam kenangan khusyuk saat kita merayakan kehidupan dan warisan hidup dari saudara kita Romo Beny Jaya.

Dia seorang Imam Tuhan yang setia, yang perjalanannya di dunia ini begitu indah dan menyentuh hati kita.

“Di hadapan kita semua, Romo Beny, berbaring dalam istirahat abadinya, sesudah meninggalkan kita semua,” katanya.

Tema perayaan kita, yang diambil dari motto perayaan perak imamat almarhum sendiri, “Tangan-Mu yang menjadikan dan membentuk aku” (Mazmur 119:73a), selaras dengan kebenaran mendalam tentang kehadiran Tuhan yang kreatif dalam kehidupan Romo Beny, bahkan di tengah pencobaan penyakitnya yang luar biasa berat dan panjang.

Dalam bacaan pertama dari Mazmur 119:59-77 dan Injil Matius 5:1-12, kita menemukan beberapa tema inspiratif yang menerangi iman dan kesaksian hidup saudara kita Romo Beny selama ini.

Pertama, Pengabdian. Pemazmur dalam bacaan pertama mengungkapkan pentingnya pengabdian total kepada Tuhan. Pemazmur menawarkan model hidup penuh “ketundukan” yang dilandasi “kecintaan” pada Tuhan.

Romo Beny “mencontohkan” pengabdian ini melalui komitmen yang tak tergoyahkan dalam doa, pelayanan, dan kepedulian pastoral.

Meskipun menanggung beban penyakit, pengabdian Romo Beny pada kehendak Tuhan tidak pernah goyah.

Romo Beny adalah imam yang setia (devoted priest)—sampai akhir, bahkan melampaui batas kemampuannya.

Pada yang pertama ini, dia adalah Imam Tuhan yang “devosional” dalam laku tapa maupun aksi.

Kedua, Welas Asih. Yesus, dalam Sabda Bahagia (Injil), mengagungkan dua sisi dari satu keutamaan kepedulian; pertama, belas kasih,  dan kedua, kebaikan hati.

Pada yang pertama, pengampunan menonjol dengan kuat, sedangkan pada yang kedua perbuatan baik tanpa pamrih bagi sesama menjadi nilai utama.

Sebagai seorang imam, Romo Beny mewujudkan kebajikan-kebajikan ini—dan secara radikal—menjalani semuanya ketika penderitaan fisik mewarnai hari-harinya pada kurang lebih 3 tahun ini.

Kita semua mengetahui hal ini. Dalam deraan tantangan fisik, saudara kita ini selalu memiliki sikap welas asih, menjangkau mereka yang membutuhkan, menghibur yang menderita, dan menunjukkan kebaikan kepada semua orang.

Pada tema kedua ini, Romo Beny hadir sebagai seorang Imam Tuhan yang penyayang (compassionate priest).

Ketiga, Ketahanan. Yesus dalam Injil juga berbicara tentang “berbahagianya” orang yang “bertekun” dalam kebenaran.

Kita semua melihat bagaimana Romo Beny hidup dalam “cara” ini dengan unik.

Dia seringkali menyampaikan kebenaran tanpa tedeng aling-aling, kadang-kadang dalam ungkapan yang brutal, menghantam ulu hati lawan bicaranya.

Itu terjadi karena kebenaran dalam Tuhan adalah alas hidupnya.

Itu pula yang membuat dia kuat, tangguh, dan tak mudah dikalahkan—bahkan komplikasi sakit-penyakit seolah kehilangan “sengatnya” di hadapan ketangguhan seorang Rm. Beny Jaya.

Dia menanggung rasa sakit dan keterbatasan dengan anggun dan bermartabat, tidak pernah melupakan panggilannya untuk mencintai dan melayani umat Tuhan.

Pada tema yang ketiga ini, Romo Beny adalah seorang Imam Tuhan yang tangguh (resilient priest).

Keempat, Harapan (Pengharapan). Sabda Bahagia menawarkan harapan bagi mereka yang menanggung cobaan.

Tidak ada yang akan berakhir dalam kesia-siaan, ketika pengharapan menjadi salah satu aras perjuangan iman.

Romo Beny, sepanjang sakitnya, tetap menaruh pengharapan yang teguh pada janji-janji Tuhan.

Perkataan Tuhan, “Tangan-MU yang telah menjadikan dan membentuk aku” (dalam keyakinan imamatnya), mengkristal dalam pengharapan, sekaligus menopang dia melewati masa-masa sulit selama ini.

Pada yang terakhir ini, Romo Beny menunjukkan dirinya sebagai Imam Tuhan yang berpengharapan (hopeful priest),”katanya.

Dikatakan, perjalanan hidup dan imamat Romo Beny, bukannya tanpa cobaan, khususnya perjuangan melawan sakit.

Namun, dalam penderitaan, dia menemukan makna dan tujuan yang lebih dalam. Dia berbuat baik bagi sesama tanpa mengenal “musim” dan melampaui kondisi dirinya.

Itulah mengapa dalam keadaan sakit, pelita cintanya terus bernyala mengantar orang pada  pada kebaikan.

Kehidupannya menjadi bukti kekuatan kasih Tuhan yang transformatif, membentuk dirinya menjadi bejana rahmat dan kasih sayang.

Penderitaannya merupakan bukti misteri keberadaan manusia, di mana rasa sakit dan kasih karunia Tuhan bercampur, di mana iman menjadi mercusuar terang dalam kegelapan.

Saat kita mempercayakan Romo Beny ke dalam pelukan penuh kasih Bapa Surgawi kita, kita dapat menimba kekuatan dari teladan iman, pengabdian, kasih sayang, ketahanan, dan harapannya yang tak tergoyahkan.

Semoga dia mengilhami kita untuk menjalani hidup kita sendiri dengan kepercayaan dan penyerahan diri pada pemeliharaan Tuhan yang penuh kasih.

Semoga kita terhibur karena mengetahui bahwa Tangan Tuhan memang telah membentuk Romo Beny untuk sebuah misi yang memiliki tujuan, dan sekarang, dalam kerajaan Tuhan yang kekal, dia merasakan kepenuhan sukacita dan kedamaian.

Semoga kita meneruskan warisan iman dan cinta Romo Beny, yang mewujudkan nilai-nilai yang dia jalani, dan semoga Tuhan memberinya istirahat dan kedamaian abadi di hadirat-Nya.

“Yang terkasih. Romo Beny, imamku (anakku) dan saudaraku, selamat jalan ke Rumah Bapa di Surga,” ujar Uskup Sipri yang pernah menjadi Sekretaris Eksekutif KWI itu.

Romo Beny Jaya seperti diberitakan media ini, sebelumnya, meninggal dunia di RS CMC Pulomas, Jakarta, Kamis (18/4/2024) Pkl. 20.00 Wita.

Adapun rangkaian acara perkabungan untuk Almarhum, yakni jenazah diterbangkan dari Jakarta, Jumat (19/4/2024) pagi menuju Labuan Bajo, Mabar.

Tiba di Bandara Komodo akan diterima resmi dan seterusnya dibawa ke Paroki Roh Kudus, Labuan Bajo. Pkl. 18.00 Wita akan diadakan misa requem untuk mantan Ketua Komisi PSE Keuskupan Ruteng tersebut.

Lalu, Sabtu (20/4/2024), jenazah disemayamkan di Paroki Roh Kudus, Labuan Bajo. Misa requem dan doa diatur administrator Kevikepan Labuan Bajo.

Kemudian, Minggu (21/4/2024), pagi hari jenazah diarak menuju gereja devosional St. Yosef, gereja Katedral lama Ruteng. Di gereja Katedral lama  ini, diadakan misa pemakaman.

Usai misa, jenazah diantar ke tempat pemakamannya di penguburan Unio di Kuwu, Ruteng, Manggarai.

Dan, Rabu (24/4/2024), pkl. 11.00 Wita akan diadakan acara tutup doa di gereja Paroki Roh Kudus Labuan Bajo. *

Penulis: Christo Lawudin I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *