RUTENG, FLORESPOS.net – Surat gembala Paskah 2024, Uskup Diosis Ruteng, Mgr. Sipri Hormat awali dengan kata kitab Suci (Mrk, 16:6) ‘Jangan Takut’ yang merupakan sapaan peneguhan malaikat kepada para wanita di kubur Yesus, yang sedang terlilit oleh penderitaan dan kecemasan mendalam.

Seruan lembut ilahi ini kiranya juga menyentuh dan menguatkan diri kita yang kini berada dalam situasi serupa.

Uskup Sipri berbicara banyak hal dan menyentil situasi konkret umat dan masyarakat yang dilanda aneka kecemasan dan keprihatinan dalam surat gembala yang kopiannya diterima juga wartawan, Sabtu (16/3/2024).

Mengapa? Karena  kondisi hidup kita sedanglah “tidak baik-baik saja”.

Kita masih bergumul dengan persoalan klasik yang dialami oleh setiap keluarga yang berpeluh keringat untuk kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pendidikan anak, dan urusan kesehatan.

Kini beban hidup kita itu diperberat oleh meningkatnya harga beras dan barang-barang kebutuhan pokok.

Masalah hidup kita itu semakin diperunyam oleh krisis lingkungan hidup yang parah.

Setelah kekeringan yang begitu lama kita alami, muncul kejadian hujan lebat berkepanjangan.

Hal ini mengakibatkan banjir dan tanah longsor, yang merusak rumah, sawah dan jalan.

Perubahan cuaca yang ekstrim ini telah pula mengakibatkan gagal tanam dan gagal panen di wilayah kita.

Dalam situasi hidup yang keruh ini, saya mengajak kita semua untuk menimba kekuatan jernih dari sumur pengharapan dan iman Kristiani: Jangan takut! (Mrk 16:6).

Sebab “barangsiapa yang berharap kepada Tuhan tidak akan dikecewakan” (T. Dan 3:40).

Masa Prapaskah yang sedang kita jalankan saat ini adalah sebuah retret agung untuk mengasah kembali harapan dan menguatkan kembali iman.

Kita ingin merasakan kehadiran Tuhan yang meneguhkan dalam ziarah jalan salib masing-masing.

Kita diundang untuk berjalan bersama Yesus dalam memikul salib hidup ini. Rahmat kasih Tuhanlah, dan bukan kekuatan kita yang rapuh, yang memampukan kita untuk terus melangkah maju dalam lorong fana dan suram di muka bumi ini.

Dia telah menyalibkan segala penderitaan dan kegelapan hidup manusia di kayu salib.

Dia pula telah menerbitkan fajar cerah kehidupan baru dalam peristiwa paskah.

Kristus yang bangkit, yang kini bertakhta dalam singgasana surgawi, terus terlibat dalam pergumulan hidup kita di dunia ini melalui kehadiran Roh Kudus-Nya: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Why 21:5).

Dikatakan, dunia tempat kita hidup ini sedang berada di titik nadir yang krusial. Krisis ekologi yang parah telah menjadi krisis manusiaan yang dahsyat.

Kerusakan alam yang masif dewasa ini, bila tidak segera diatasi, akan mengancam kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini.

Paus Fransiskus dalam surat apostolik Laudate Deum Oktober 2023 mengingatkan dengan sangat serius bahwa ibu bumi menjerit dan saudari alam mengerang kesakitan karena krisis lingkungan hidup.

“Dunia tempat kita hidup sedang menuju keruntuhan dan mungkin mendekati titik puncaknya” (LD2).

Secara kasat mata dan nyata, kita di Manggarai Raya juga mengalami pencemaran masif di udara, laut, darat dan air.  Sampah terutama plastik dan sisa makanan tersebar dan menumpuk di mana-mana.

Kerusakan lingkungan yang parah terjadi di hutan, lahan pertanian, terumbu karang, pantai dan lapisan ozon di udara. Yang paling mencemaskan adalah krisis pemanasan global yang telah terasa dalam perubahan cuaca yang ekstrem.

Kenaikan suhu 1,5 derajat celcius yang berkembang tidak terkendali dapat berakibat fatal bagi bumi dan manusia yang menghuninya.

“Dilatarbelakangi oleh situasi krisis ekologis ini, maka Keuskupan Ruteng dalam tahun ke-9 implementasi Sinode III mencanangkan tahun “Ekologi Integral” 2024,”katanya.

Diinspirasi oleh spirit omnia in caritate, kita ingin mewujudkan kasih Allah yang meresapi kemanusiaan sekaligus merangkul seluruh alam ciptaan.

Seturut ajaran rasul Paulus, kita yakin bahwa juga alam semesta tidak lepas dari karya penebusan Tuhan. Daya kekuatan penebusan Kristus sedang bekerja untuk mewujudkan ciptaan baru.

Karena itu seluruh alam ciptaan “juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan dan kemuliaan anak-anak Allah” (Rom 8:21).

Bersama seluruh ciptaan, kita berdendang memuliakan sang Khalik: “Langit dan bumi, pujilah Tuhan!”, “Coelum et Terra, laudate Dominum!” (Mzm 148).

Sebelumnya RD. Erik Ratu dari Komsos Puspas mengatakan, surat gembala Uskup ini telah diberikan ke mana-mana, terutama di paroki-paroki guna dibacakan setiap momen pertemuan umat.

“Surat gembala ini harus dibacakan guna diketahui, dipahami, dan dilaksanakan siapapun di Keuskupan ini,” katanya. *

Penulis: Christo Lawudin/Editor: Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *