LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Bupati Manggarai Barat (Mabar) Edistasius Endi mengatakan, dalam perjalanan waktu puluhan tahun belakangan, pembangunan di kabupaten itu sudah banyak pencapaian, namun tak sedikit pula pekerjaan rumaha (PR) ke depannya.

Orang nomor 1 Mabar tersebut menyampaikan itu pada satu kesempatan di Labuan Bajo ibu kota Mabar Nusa Tenggara Timur (NTT) belum lama berselang.

Diungkapkan Bupati Edi, pencapaian Mabar selama 2 dekade terakhir antara lain indeks pembangunan manusia (IPM) naik dari 64,17 di tahun 2021 menjadi 67,84 pada tahun 2023.

Kamudian laju pertumbuhan ekonomi Mabar juga positif dan signifikan dari 1,29 % di 2021 menjadi 4,12 % pada tahun 2022. Pertumbuhan ekonomi ini menjadi yang tertinggi di NTT. Dan ini juga sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita dari 13,91 juta tahun 2021 menjadi 14,73 juta di tahun 2022.

Realisasi ini tentu menjadi gambaran semakin membaiknya kemampuan masyarakat Mabar dalam mengakses hasil pembangunan terkait kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan setempat.

Pada sektor kesehatan, Mabar berhasil menurunkan angka prevalensi stunting satu digit, yaitu 8,2 % pada Agustus 2023.

“Ini sesuai komitmen saya dan Wakil Bupati (Yulianus Weng). Kami berterima kasih atas kerja dan komitmen kita bersama hingga realisasi target ini tercapai dan tetap berkomitmen untuk menekan angka prevalensi stunting seminimal mungkin,” ungkap Bupati Edi.

Selain itu, kata Bupati Edi, berkat kerja sama dan sama-sama kerja dari kita semua, Manggarai Barat juga telah mendapatkan pengakuan sebagai kabupaten bebas malaria.

Lanjut Bupati Edi, pada sektor pendidikan, angka rata-rata lama sekolah meningkat dalam 2 tahun terakhir, dimana pada tahun 2022 sebesar 7,80 jadi 7,94 di 2023. Angka harapan lama sekolah juga mengalami peningkatan dari 12,31 tahun 2022 menjadi 12,53 di 2023.

Ini semua tidak lepas dari intervensi multi pihak pada sektor pendidikan, baik pada sektor infrastruktur pendidikan, kualitas pendidik dan tenaga kependidikan serta peningkatan manajemen pendidikan.

Meski banyak capaian, kata Bupati Edi, tapi masih ada juga sejumlah catatan yang menjadi pekerjaan rumah (PR) ke depan. Angka pengangguran memang mengalami penurunan dari 4,94 di tahun 2021 menjadi 4,91 pada 2022. Angka kemiskinan juga mengalami penurunan dari 17,15 tahun 2022 menjadi 16,82 pada 2023.

Akan tetapi penurunan itu belum signifikan. Dibutuhkan kerja ekstra keras untuk memaksimalkan upaya penurunan angka pengangguran dan kemiskinan dimaksud.

Tentu fakta-fakta ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Daerah (Pemda) dan kita semua agar tak hanya menjadi obyek tetapi subyek dalam menciptakan lapangan kerja baru.

Selain itu di sektor kesehatan, angka kematian ibu dan angka kematian bayi masih menjadi salah satu isu yang sangat penting untuk segera ditangani oleh kita semua. Intervensi lintas sektor pada urusan kesehatan yang komprehenaif, sinergis dan terkoordinasi menjadi hal yang sangat penting untuk segera dilaksanakan guna menekan angka kematian ibu dan bayi, tutup Bupati Edi. *

Penulis : Andre Durung I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *