BAJAWA, FLORESPOS.net-Don Bosco S.Wae (29), warga Jalan Merya Sari Gang Bambu Utama Sidakarya, Denpasar Selatan yang mengantar mayat almarhumah istrinya Carmila Edo Redo (29) kabur di Bandara Komodo, Labuan Bajo pada Minggu (25/2/2024).

Untuk diketahui, almarhumah Carmila ditemukan tewas tergantung di kos-kosan kamar No 4, Jalan Merya Sari Gang Bambu Utama No 3, Denpasar pada Rabu (21/2/2024) diduga bunuh diri.

Mayat Carmila hendak diberangkatkan ke Gou, Desa Wololika, Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada untuk dimakamkan di kampung halamannya tersebut setelah diterbangkan dari Denpasar.

Keluarga dekat Almarhumah Carmila Edo Redo yakni Sergelius Pati dan Viktor Noli ketika ditemui di Rumah Duka, Dusun Gou, Desa Wololika, Kecamatan Bajawa Utara, Senin (26/2/2024) mengatakan Don Bosco kabur di Bandara Komodo usai mayat almarhumah Carmila tiba di Bandara Komodo.

Sergelius menuturkan, mayat almarhumah Carmila diberangkatkan dengan pesawat Batik Air dan suami serta ketiga anak mereka berada dalam 1 pesawat dengan almarhumah.

Sedangkan kakak kandung almarhumah yakni Alfonsia Ega dengan pesawat berbeda dan tiba 1 jam sebelumnya juga dari Denpasar menuju Labuan Bajo.

Tiba di Bandara Komodo mayat almarhumah Carmila, suami serta anaknya dijemput kakak kandung almarhumah dan sambil menunggu serah terima jenazah mereka masih sempat sama-sama makan di Bandara.

Saat itu menurutnya, suami  almarhum pamit kepada kakak iparnya untuk membeli air namun ditunggu tak kunjung kembali.

Kakak iparnya bersama beberapa orang keluarga di Labuan Bajo sempat mencarinya namun tidak ditemukan bahkan menunggu lama sampai keberangkatan menuju Bajawa selanjutnya ke Gou juga sempat molor 2 jam dan mayat masih tetap berada dalam ambulans di Bandara.

Dijelaskan, Carmila dan suaminya Don Bosco telah dikaruniai tiga anak dan baru menikah pada bulan Januari 2024 lalu di Denpasar.

Kematian Carmila justru disampaikan oleh keluarga almarhumah yang ada di Denpasar sedangkan suaminya sendiri tidak menyampaikan kepada keluarga di Gou.

Diungkapkannya bahwa kehidupan dan kematian ada di tangan Tuhan sehingga kematian ponaanya memang belum bisa disimpulkan apakah benar bunuh diri atau karena dibunuh selanjutnya digantung karena  yang mengetahui seluruhnya adalah suaminya sendiri.

“Apakah dia kabur karena dia pelaku atau karena takut hadapi keluarga kita juga tidak tahu. Kami cuma harapkan suaminya datang serahkan diri ke Polisi atau ke keluarga,” harapnya.

Suami dari almarhumah yang kabur di bandara dengan membiarkan istrinya sendiri yang sudah meninggal dunia tersebut beserta tiga anaknya menjadi pertanyaan keluarga tentang kematian Carmila.

Ditambahkannya, almarhumah Carmila memang sudah diotopsi di RS. Bali Mandala,Ayu Pradnya.

Keluarga tidak pernah berharap bahwa korban dibunuh dan digantung seolah-olah bunuh diri namun ketika kabur di Bandara Komodo maka kesimpulan keluarga bisa saja korban dibunuh.

Dirinya bersyukur karena mujur ada kakak kandung almarhum yang hadir juga di Bandara Komodo sehingga bisa mengurus jenazah adiknya untuk di bawah ke Gou.

Yang keluarga ketahui bahwa korban disampaikan meninggal karena bunuh diri sehingga pihak keluarga menyerahkan kepada aparat penegak hukum yang mengurusnya.

Membongkar kasus ini juga tentunya harus ada suami dari almarhumah yang mengetahui sejak awal kejadian tersebut bahkan suaminya sendiri yang menemukannya sesuai dengan pengakuannya kepada Polisi di Denpasar.

Viktor Noli, keluarga almarhumah lainnya pada kesempatan itu juga mengatakan almarhumah beserta suaminya pada bulan Desember tahun lalu sempat datang ke Gou dan perilakunya baik dan keluarga menyetujui untuk bisa menikah di Bali.

Perilaku yang baik di hadapan keluarga akhirnya juga keluarga merestui untuk menikah dan mempermandikan ketiga anak mereka.

Baru sebulan lebih keluarga terpukul ketika mendengar kejadian yang menimpa anak mereka Carmila yang dikabarkan meninggal dunia karena bunuh diri.

Ada sesuatu yang janggal yakni untuk orang yang meninggal gantung diri harusnya tidak menjulur keluar, tidak ditemukan sisa air kencing yang keluar ataupun bekas jeratan akibat gantung diri.

Keluarga sungguh merasa janggal juga dengan kaburnya suami dari almarhum di Bandara bahkan membiarkan tiga orang anak yang masih kecil masing-masing umur 5 tahun, 3 tahun dan 9 bulan di Bandara Komodo. Keluarga harapkan suami almarhum hadiri proses pemakaman

“Kami masih menunggu yang bersangkutan datang sebelum almarhumah dimakamkan sore ini. Selanjutnya pasti kami akan lapor pihak berwajib,” tambahnya.

Keluarga juga memberikan foto suami korban kepada wartawan Florespos.net untuk dipublikasikan. Keluarga berharap jika ada orang yang melihat yang bersangkutan bisa diantar ke keluarga.

Dari pengakuan keluarga yang ada di Denpasar saat otopsi oleh petugas ditemukan darah yang keluar dari kepala almarhumah.

Dirinya juga menyampaikan bahwa tidak benar pernyataan di salah satu akun Facebook yang mengatakan bahwa korban bersama-sama dengan mayat menuju Gou menggunakan ambulans.

Hal tersebut merupakan berita bohong sehingga pemilik akun tersebut juga diminta untuk bertanggung jawab atas pernyataannya di akun Facebook.

Yoyon, keluarga lainnya pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa almarhum sering menyampaikan kepada kakaknya yang bertugas di Kalimantan dirinya sering mendapat perlakuan kasar yang dilakukan oleh suaminya yakni sering dipukul hingga lebam.*

Penulis: Wim de Rozari I Editor: Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *