ENDE, FLORESPOS.net-Hingga bulan Februari 2024 curah hujan di wilayah Kabupaten Ende dan NTT pada umumnya masih rendah. Dampaknya ribuan hektare lahan sawah tadah hujan belum dimanfaatkan atau ditanami padi.

Kondisi ini mulai membuat petani takut dan pasrah pada alam. Dengan curah hujan  yang rendah ini maka petani takut untuk menanam padahal saat ini sudah masuk musim tanam Oktober Maret (Okmar).

Data yang diperoleh media ini dari Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Ende menyebutkan hingga Februari 2024 sekitar 3.179, 89 hektar sawah tadah hujan  di Ende belum ditanami dari  luas lahan sawah tadah hujan di Ende seluas 4.265,19 hektar.

Pada musim tanam Oktober 2023 – Maret 2024 baru 1.085,30 Hektare sawah tadah hujan dimanfaatkan dan ditanami oleh petani.

Plt. Kepala Dinas Pertanian Ende, Gadir Dean melalui Yosef Kaha, Kabid Tanaman Pangan kepada Florespos.net, Senin (5/2/2024) mengatakan kendala yang dihadapi saat ini curah hujan yang rendah hingga bulan Februari 2024. Debit air di sawah tadah hujan menurun drastis maka petani takut atau tidak berani menanam.

Dinas Pertanian pernah membantu dengan dengan cara menurunkan brigade Alsinta seperti pompa namun tidak maksimal karena debit air  di area persawahan menurun drastis.

“Kami  tidak bisa memaksa dan mengimbau petani untuk menanam karena saat ini curah hujan sangat rendah,” katanya.

Salah satu wilayah yang memiliki sawah tadah hujan yang cukup luas di Kabupaten Ende yaitu wilayah Kecamatan Wewaria yang berada di bagian utara Kabupaten Ende.

Kecamatan Wewaria adalah lumbung beras lokal untuk Kabupaten Ende. Namun saat ini ribuan hektare lahan belum dimanfaatkan oleh petani karena curah hujan sangat rendah.

Camat Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende, Yanuarius Mari kepada Florespos.net, Selasa (6/2/2024) sore  membenarkan kondisi di lapangan. Bahwa sebagian besar lahan sawah tadah hujan di wilayahnya belum ditanami padi.

Camat Wewaria juga mengatakan pada bulan Desember 2023 lalu saat hujan pertama ada petani yang sudah menanam padi namun saat ini tanaman itu mulai kering karena curah hujan yang sangat rendah hingga bulan Februari 2024.

“Sebenarnya pada bulan Februari itu curah hujan sangat cukup tetapi kenyataan yang kita hadapi seperti ini. Petani mulai mengeluh tetapi inilah kondisi alam yang kita hadapi,” katanya. *

Penulis: Willy Aran I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *