RUTENG, FLORESPOS.net-Kabar gembira untuk petani sawah di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya pada beberapa desa di Kecamatan Satar Mese yang sekarang ini memasuki musim panen.

Padi sawah yang diairi saluran irigasi teknis Wae Mantar 2, Kabupaten Manggarai itu, mengalami lonjakan produksi menjadi 7,5 sampai 9 tonan per hektarnya berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan petugas di lapangan.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Manggarai, Laurens A. Laoth mengatakan, 1.000-an ha sawah tersebar di Desa Tal, Paka, dan Iteng sedang musim panen.

“Petugas lakukan ubinan untuk mengetahui produksinya pasca sawah tidak diolah beberapa waktu karena perbaikan saluran irigasi tahun lalu,” katanya, Kamis (1/2/2024).

Laurens mengatakan, hasil ubinan pada sejumlah titik menunjukkan kenaikkan produksi. Rata-rata per hektar bisa menghasilkan 7,5 ha dan pada tempat tertentu bisa mencapai 9 ton.

Naiknya produksi padi terbilang tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya dengan kisaran 2,5 ton per hektarnya.

Mengapa produksi itu tidak sesuai dengan harapan? Setelah dikaji sebab paling utama, sawah tidak pernah istirahat sepanjang tahun dan adanya hama tungro.

Kondisi sekarang dengan produksi naik terjadi karena sawah tidak dikerjakan beberapa lama karena perbaikan saluran irigasi dan hama padi tungro, tidak ada.

Padi yang ditanam jenis varietas Cakrabuana. Padi jenis cukup bagus di wilayah Kecamatan Satar Mese yang ditandai dengan produksinya sekarang ini.

Apa yang terjadi ini kian memantapkan langkah Pemkab Manggarai untuk mengatur jadwal tanam dalam setiap musimnya. Tidak bisa lagi tanam padi atas kemauan sendiri petani.

“Kita atur jadwal tanam dengan memperhitungkan masa istirahat lahan yang sesuai dengan ketentuan teknis pertanian,” katanya.

Sawah yang ada waktu istirahatnya banyak memberi dampak positif pada kesuburan tanah hingga menghilangkan hama padi tungro.

Karena itu, petani di wilayah selatan Manggarai itu, akan terus diedukasi agar penanaman padi diatur secara serempak agar hasilnya bisa lebih baik nantinya.

Pada waktunya nanti keluar instruksi pengaturan jadwal tanam padi sawah pada  kawasan lumbung beras di wilayah Satar Mese raya, Langke Rembong, Reok Barat, dan kecamatan-kecamatan lainnya.

Seorang petani, Damianus Sadu mengatakan, petani sudah biasa tanam padi langsung setelah panenan. Merubah kebiasaan ini membutuhkan waktu.

“Perlu pendekatan dan sosialisasi terus menerus agar petani ikut. Kalau tidak, maka tetap petani ikut maunya sendiri saja,” katanya. *

Penulis: Christo Lawudin I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *