Oleh: Paskalis Suba

KRISIS lingkungan hidup merupakan masalah mondial yang memiliki impact pada keberlangsungan hidup manusia serta ekosistemnya. Bumi yang merupakan rumah sekaligus rahim yang nyaman kini sedang mencari titik seimbang.

Akibatnya, manusia menjadi tidak nyaman bahkan terancam keselamatannya dengan perubahan cuaca dan iklim yang ekstrim.

Dalam kerangka yang sama, di pelbagai belahan dunia terjadi banjir, tanah longsor, krisis air bersih, kemarau yang panjang, serta kekeringan. Krisis lingkungan ini sesungguhnya menjadi akar dari berbagai krisis yang sedang terjadi saat ini.

Peperangan yang terjadi serta berbagai jenis penyakit yang terus menyerang manusia sebenarnya dampak langsung dari krisis lingkungan itu sendiri.

Paus Fransiskus, dalam Ensiklik Laudato Si, menunjukan kepeduliannya terhadap kondisi bumi saat ini. Secara eksplisit, pemimpin Gereja Katolik Roma ini menjelaskan situasi dan kondisi serta penyebab terjadinya krisis lingkungan hidup.

Oleh karena itu, perlunya ada gerakan, solidaritas  serta keadilan ekologis yang melibatakan semua pihak. “Bakat dan keterlibatan semua orang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan yang telah disebabkan oleh manusia yang menyalahgunakan ciptaan Allah”, (LS 14).

Sebagai bentuk sense of crisis, isu lingkungan hidup harus digemakan juga dalam kampanye pemilihan umum, sebagai bagian dari politik lingkungan. Isu ini memang sering tidak mendapat atensi dari peserta pemilu.

Hal ini karena bagi peserta pemilu, isu ini tidak laku dalam pasar politik. Bagi mereka, isu yang paling laku adalah ekonomi dan kesejaterahan masyarakat.

Padahal sesungguhnya bumi saat ini tidak sedang baik-baik saja. Ekonomi dan kesejaterahan hanya akan tercapai apabila bumi, yang merupakan tempat satu-satunya kita berpijak, berada pada titik seimbang.

Ramah Lingkungan

Dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 23 Tahun 2023, Tentang Kampanye Pemilihan Umum, salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pemilu adalah ramah lingkungan.

Aspek ramah lingkungan ini merupakan salah satu manifestasi kepeduliaan akan kondisi lingkungan hidup yang sedang tidak baik-baik saja. Ibunda Bumi saat ini sedang sakit akut. Oleh karena itu, ia membutuhkan uluran tangan anak-anaknya untuk tetap menjaga, merawat serta menyembuhkan dirinya.

Salah satu konkritisasi kampanye ramah lingkungan daripeserta pemilu (pasangan calon presiden dan wakil presiden, calon legislatif dan calon perseorangan), adalah pencetakan bahan dan alat peraga kampanye menggunakan bahan yang dapat didaur ulang.

Dalam proses penyebaran pun juga tetap memperhatikan aspekramah lingkungan. Dengan kata lain, pemilu dilaksanakan dalam horizon ekologis (pemilu ekologis).

Dalam kerangka yang sama, peserta pemilu juga perlu memberikan atensi lebih dengan memasukan masalah lingkungan hidup dalam visi, misi dan program.

Tentu ketika isu ini tercover maka impact terhadap lingkungan sangat besar. Hal ini karena kebijakan yang diambil melibatkan semua elemen masyarakat serta didukung dengan finansial yang cukup.

Di sisi lain, Kebijakan-kebijakan yang akan diambil tentu dimensi ekologi akan tetap dipertimbangkan bahkan akan ada program-program khusus yang dijalankan guna mengatasi krisis lingkungan hidup yang sedang terjadi.

Pendek kata, pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan yang ekologis. Peserta pemilu juga dapat melakukan kampanye dengan metode bakti sosial.

Dalam konteks ini, peserta pemilu berinovasi dan berkreativitas dengan mengusung tema bakti sosial Selamatkan Bumi. Dalam bakti sosial tersebut bisa dilakukan reboisasi bersama peserta kampanye. Reboisasi bisa dilakukan pada daerah yang gersang atau sekitar daerah mata air.

Peserta pemilu juga bisa mengajak masyarakat untuk bersama-sama membersihkan sampah pada tempat-tempat umum. Meskipun terlihat sederhana tetapi sesungguhnya bumi sangat membutuhkannya.

Gerakan ini memiliki daya magnet yang kuat bagi masyarakat. Tidak hanya sekedar menyadarkan masyarakat tentang krisis lingkungan tetapi juga menjadi salah satu preferensi masyarakat dalam menentukan pilihan.

Masyarakat saat ini sudah terbiasa dengan kampanye pemilu yang hanya sebatas berkoar-koar tentang visi, misi dan program. Mereka menginginkan adanya inovasi dan kreatifitas dalam kampanye yang dampaknya langsung dirasakan. Konkritisasi dari kampanye hijaulah akan menjadi salah satu jawaban bagi masyarakat.

Frekuensi “Orang Muda”

Dalam konteks pemilihan umum 2024, isu krisis lingkungan memiliki daya magnet yang kuat untuk para pemilih secara khusus pemilih orang muda.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan Institut Hijau Indonesia di 35 Provinsi Indonesia pada Juni sampai Oktober 2023, sebanyak 33,2% anak muda menaruh perhatian pada lingkungan hidup (Media Indonesia.com, 4 November 2023).

Orang muda merasakan dan juga mengalami dampak dari krisis lingkungan bukan hanya saat ini dan disini melainkan masa yang akan datang.

Melansir dari UNICEF, dalam  Deddy Ferianto Holo,  Melawan Dehumanisasi, Krisis Lingkungan dan Perubahan Iklim, anak muda di Indonesia merupakan salah satu kelompok di dunia yang menghadapi risiko dampak perubahan iklim yang tinggi dengan ancaman terhadap kesehatan, pendidikan dan perlindungan mereka.

Laporan UNICEF mengemukakan, Indonesia termasuk dalam 50 negara teratas di dunia dengan anak-anak yang paling berisiko terpapar dampak dari perubahan iklim dan kerusakan lingkungan (Kompas.Id, 22 Juni 2022).

Peserta pemilu, pada titik ini, tidak boleh menutup mata akan masalah krisis lingkungan hidup melainkan memberikan atensi lebih dengan memasukan masalah lingkungan hidup dalam visi, misi dan program demi menjaga keadilan ekologis serta menggaet hati dari para pemilih pemula.

Mengingat setengah dari total daftar pemilih tetap (DPT)  yakni 52 % merupakan pemilih generasi muda.Dalam kerangka yang sama, Lembaga Survei Aksara Resarach and Consulting merilis hasil survey yang menunjukan cukup tinggi antusiasme kaum muda (usia 17-39) untuk berpartisipasi dalam pemilu serentak 2024, sebanyak 70,7 % responden menyatakan akan menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2024.

Ketika isu krisis lingkungan ini menjadi salah satu agenda utama dalam visi, misi dan program dari peserta pemilu, maka konsekuensi logisnya, anak muda akan melirik bahkan menjatuhkan pilihan padanya.

Karakter anak muda yang kritis, visioner dan selektif  tidak akan menjatuhkan pilihan yang tidak sefrekuensi dengannya. Anak muda tidaklah menjadi objek dari pemilu, yang hanya diperhatikan sesaat pada saat perhelatan lima tahun setelah itu aspirasi mereka tidak pernah didengarkan.

Penutup

Hic et nunc, politik lingkungan hidup harus mendapat perhatian penuh. Krisis lingkungan hidup hanya akan teratasi apabila semua lapisan masyarakat bergandengan tangan untuk merawat serta memulihkan bumi kembali ke keadaaan asali (back to nature).

Pemilihan umum tidak hanya sekedar ruang untuk mengekspresikan kedaulatan yang dikonversikan kepada kekuasaan dan keterwakilan tetapi juga menjadi ruang untuk berekonsiliasi dengan lingkungan hidup.

Bumi sedang tidak baik-baik saja, mari kita berkampanye tidak sekedar demi kemenangan elektoral tetapi berkampanye juga untuk menyelamatkan bumi.

Bumi selamat, ekonomi dan kesejaterahan akan tercapai. Bumi sehat, masa depan sehat. Selamatkan Ibunda Bumi, Rahim Kita! *

Penulis: Koordinator Divisi HPPMHM Panwaslu Kecamatan Atadei-Lembata, NTT

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *