Oleh: Sarlianus Poma, S.Pd.,M.M

“Etu” adalah sebuah atraksi budaya yang sangat langka. Atraksi budaya yang langka ini digelar pada 13 Mei 2023 tepat di kampung adat Loka Lade, Desa Focolodo Rawe, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Etu merupakan atraksi budaya yang digelar sekali setahun di kampung adat Loka Lade. Ratusan bahkan ribuan warga seakan tumpah ke Loka Lade menyaksikan atraksi budaya mendebarkan khas Nagekeo tersebut. Melalui media sosial seperti Facebook yang disiarkan secara live, kita dapat menyaksikan atraksi langka tersebut.

Atraksi langka ini akan lebih menarik dan menegangkan bila disaksikan secara langsung atau berada di lokasi pertunjukkan, yang dalam bahasa adat setempat disebut loka. Menarik, seru, dan menegangkan bila berada langsung di loka. Dan suasananya tentu sangat berbeda.

Jika masyarakat umumnya mengenal tinju amatir atau tinju profesional, maka masyarakat Kabupaten Nagekeo punya tinju tradisional yang disebut etu oleh masyarakat setempat.

Meski begitu, etu yang diturunkan dari nenek moyang mereka tidak dapat digelarkan di sembarang kampung di sana. Sebab tinju tradisional itu hanya milik masyarakat adat Nagekeo. Karenanya hanya dapat digelarkan di perkampungan wilayah Boawae, Mauponggo, Aesesa dan Soa (Kompas:20/05/1990 dalam buku Serpihan Budaya NTT oleh Frans Sarong).

“Ada banyak kampung dalam wilayah adat kami yang dapat menyelenggarakan etu. Namun kini tinggal beberapa kampung saja yang masih menyelenggarakannya secara rutin tiap tahun,” tutur Emil Waso Ea dan Yohanes Soda Ute, dua tua adat di Boawae.

Berdasarkan sejarah, perkampungan yang masih setia melaksanakan etu adalah Boawae, Nagerawe, Focolodo Rawe, Loa Maju, Menge, Piga, Gero, Boamuji, Wolokobo, Dobeako, Watugase, Dhereisa, Raja, Nataia, dan Mbay.

Sebaliknya, perkampungan yang sudah cukup lama melupakan etu di antaranya Nunukae, Nagemi, Sujalaja, Malawako, Taka, Puunage, Worabolo, Wulu, Pajomala, Bodo, Woloboa, dan Natameje (Kompas:20/05/1990 dalam buku Serpihan Budaya NTT oleh Frans Sarong).

Loka Lade adalah salah satu kampung adat yang terletak di Desa Focolodo Rawe, Kabupaten Nagekeo yang masih rutin dan setia menyelenggarakan etu. Kampung ini sangat kental dan identik dengan budaya etu. Mereka masih mempertahankan warisan budaya etu hingga kini. Bagi mereka etu adalah sebuah warisan budaya yang langka. Warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Dan ini akan diwariskan secara turun temurun kepada generasi berikutnya. Dengan adanya etu tentu akan memberi value added (nilai tambah) tersendiri buat kampung adat Loka Lade. Sehingga ia makin dikenal di seluruh pelosok NTT.

Di Pelataran Kampung

Berbeda dengan tinju umumnya, etu tidak digelarkan di ring khusus tapi hanya di pelataran kampung. Arena tinju cukup dibatasi dengan tali ijuk yang membentuk empat persegi memanjang atau bisa juga dibatasi dengan daun kelapa yang dibuat berbentuk pagar dan membentuk empat persegi memanjang. Dua sisi berhadapan khusus bagi petinju tuan rumah dan kubu lawan. Sedangkan dua sisi lainnya diperuntukkan bagi penonton.

Di bawah atap tenda sederhana, kedua petinju yang akan beradu, dipersiapkan. Sebelum tampil keduanya didandani dengan pakaian khusus yang disiapkan tuan rumah sebagai penyelenggara. Petinju yang disebut moyetu, duduk di atas ngesu (sejenis lesung). Oleh petugas khusus, petinju didandani dengan mubu (kain pengaman kepala), dhese (mirip rompi dari goni), kaukasa (kain pengaman dada) ditambah sepotong selendang yang disebut sadha.

Sewaktu moyetu didandani, irama lokamelo (bunyi hentakan kayu pada bambu kering) oleh pendukungnya, bertalu-talu diiringi jedhe (tarian dan nyanyian khas daerah) memanasi lawan. Hura-hura pendukung serentak berhenti setelah moyetu siap bertanding. Dengan gagah berani, sang petinju bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu menendang ngesu hingga jatuh ke belakang, kemudian tampil ke arena tanpa sarung tinju seperti petinju umumnya.

Salah satu tangan sang petinju (moyetu) menggenggam kepo. Kepo adalah sepotong kulit kerbau kering yang dibalut ijuk serta diikat dengan tali khusus hingga mirip sebuah mangga golek. Di salah satu ujung kepo terlihat dua benjolan kulit menonjol keluar yang akan dimanfaatkan oleh sang petinju untuk melukai lawannya.

Sementara tangan lainnya tanpa kepo dan dibiarkan telanjang. Sesuai ketentuan tidak tertulis, lawan hanya ditinju dengan tangan yang menggenggam kepo. Sementara tangan lainnya hanya khusus menangkis serangan lawan.

Salah seorang tua adat sudah tunggu di tengah arena. Ia memanggil kedua moyetu yang akan beradu. Ketika sudah saling berhadapan, tetua adat mencolek tanah sambil meneriakkan kata jogho! Dan kedua petinju pun mulai beradu sekuat tenaga.

Sementara masing-masing pendudukung memberi dukungan kepada petinjunya dengan teriakkan beke beke ate tenge! Teriakkan itu bermakna menasihati petinjunya agar lebih tenang dan berhati – hati serta tidak terpancing emosi menghadapi lawan.

Dalam pertinjuan tradisional itu, keseimbangan moyetu sewaktu bertanding, masing – masing dijaga oleh seorang petugas khusus yang disebut sike. Ia memegang petinjunya dari belakang. Sike itu menjaga moyetu agar tidak jatuh. Sebab, jatuh dalam etu itu tabu.

“Kalau sampai jatuh, bagi petinju itu tanda kurang baik atau tidak lama lagi akan meninggal dunia,” jelas mantan moyetu Gaspar Telu (70), sambil menyebut sejumlah korban sebagai contoh. “Mereka memang tidak tewas di tempat (Loka), tapi jatuh sebagai pertanda kematian sudah dekat,” tambah Emil Waso Ea (Kompas:20/05/1990 dalam buku Serpihan Budaya NTT oleh Frans Sarong).

Selain sike, etu dipimpin oleh dua orang wasit yang disebut seka. Fungsi seka melerai petinju yang kelihatan sudah mulai emosional atau melanggar ketentuan yang berlaku. Atau, menghentikan pertandingan jika salah seorang petinju berhasil melukai bagian muka lawannya.

Wasit (seka) memang tidak mengumumkan petinju mana yang memenangkan pertarungan itu. Namun, masyarakat umumnya tahu luka memar atau yang mencucurkan darah pada bagian muka menunjukkan petinju itu kalah.

Dalam etu, lama waktu bertanding tidak ditentukan oleh jumlah ronde. Melainkan bergantung wasit atau seka yang memimpin pertandingan. Wasit atau seka bisa saja langsung menghentikan pertandingan jika perlawanan tidak berimbang, atau setelah menyaksikan salah seorang di antaranya terluka.

Waktu Pelaksanaan

Di wilayah adat Nagekeo, etu dapat dilaksanakan sejak bulan Februari hingga Agustus. Namun, kenyataan selama ini menunjukkan, tinju tradisonal itu paling gencar digelarkan antara bulan Mei hingga Juli. Rencana waktu serta tempat pertandingan hanya diceritakan dari mulut ke mulut.

Akan tetapi penyebaran informasi melalui komunikasi sosial itu ternyata cukup ampuh, meski hanya bagi masyarakat di kawasan itu. Ini dibuktikan dengan banyaknya pengunjung yang bisa mencapai 1000 – 2000 orang setiap kali etu digelarkan. Dan penonton tentu lebih padat lagi jika dibantu dengan pemberitaan melalui media masa.

Kampung Loka Lade yang terletak di desa Focolodo Rawe, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT adalah salah satu kampung adat di Nagekeo yang masih setia menggelarkan peninggalan budaya nenek moyang tersebut. Masyarakat adat setempat bangga memiliki etu sebagai peninggalan budaya dari leluhurnya.

Atraksi unik dan menegangkan tersebut ternyata dibanggakan juga oleh para turis mancanegara yang sempat menyaksikan etu tersebut. Dan mungkin akan lebih banyak lagi turis mancanegara memburu etu, jika tinju tradisional itu diteliti lebih mendalam oleh Antropolog Indonesia.

Ben Mboi sewaktu masih menjabat sebagai Gubernur NTT, bahkan pernah melontarkan keinginan memasukkan etu dalam PON (Pekan Olahraga Nasional) (Kompas:20/05/1990 dalam buku Serpihan Budaya NTT oleh Frans Sarong).

Mantan gubernur itu mungkin benar. Sebab, etu yang unik, menarik dan menegangkan itu jika digelarkan di pentas nasional, tidak mustahil akan menjadi obyek wisata budaya yang mendatangkan uang. Atau, setidaknya sebagai rangsangan melestarikan tinju tradisional itu. Mau lihat etu, datanglah ke Nagekeo! *

Penulis: Staf Pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IEU Surabaya, Coordinator of STIM Kupang “International Class”

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *