RUTENG, FLORESPOS.net – Di tengah pro dan kontra tentang perluasan titik pengeboran panas bumi Ulumbu di Kecamatan Satar Mese, Manggarai, NTT, suara pro muncul dari akar rumput. Dukungan terbaru dari Forum ‘Lonto Leok’ (duduk bersama) masyarakat adat di Mesir, Desa Lungar.

Seorang tokoh adat Kampung Mesir, Vinsen Goda menyampaikan hal itu secara terbuka ketika jajaran PLN melakukan proses pekerjaan survei topografi akses road dengan panjang 17 kilometer dimulai dari Desa Ponggeok  sampai Desa Lungar beberapa hari lalu sesuai dengan data dan informasi dari Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Daerah Setda Manggarai, Paul Jeramun, Senin (27/2/2023).

Menurut tokoh adat Vinsen Goda, masyarakat adat Mesir mendukung penuh kehadiran proyek geothermal PLTP di desanya yang sesuai dengan penyampaian PLN dan Pemkab Manggarai berkekuatan 2 X 20 MW.

“Dukungan itu merupakan hasil forum ‘Lonto Leok’ yang telah dilaksanakan bersama masyarakat adat di Mesir, yang nantinya menjadi salah satu area lokasi proyek panas bumi ini,” katanya.

Dikatakan, dukungan dari masyarakat ini tentunya menjadi penting, mengingat seluruh proyek yang bersinggungan dengan keberadaan masyarakat adat. Prosesnya sudah jalan selama ini mulai dari   sosialisai dan konsultasi, baik secara formal maupun secara adat.

Tokoh adat, Vinsen Goda yakin bahwa apa yang disampaikan para ahli saat sosialisasi beberapa bulan lalu, tentu berdasarkan penelitian yang matang. Yang sama juga dengan keseriusan pemerintah melirik potensi panas bumi di wilayah  Poco Leok, tentu tidak untuk merusak Poco Leok dan masyarakat di dalamnya.

“Karena itu, saya mendukung proyek ini. Jika proyek ini berjalan, maka akan ada lapangan kerja yang akan terbuka di desa kami,” katanya.

Sedangkan General Manager (GM) PT PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara, Wahidin mengatakan persiapan untuk memulai pembangunan sudah dilaksanakan, belakangan ini. Salah satunya dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat adat pada beberapa desa di Kecamatan Satarmese yaitu Desa Lungar, Desa Mocok, Desa Wewo, dan Desa Golo Muntas melalui upacara adat yang disebut Tabe Gendang.

“Sosialisasi kepada kepada masyarakat di sekitar lokasi pembangunan itu, merupakan bagian dari tahapan prakonstruksi dan merupakan langkah awal yang sangat penting,” katanya.

Pembangunan PLTP Ulumbu, demikian GM Wahidin, direncanakan memanfaatkan 7 area pengeboran, di antaranya 5 area sumur produksi dan 2 sumur reinjeksi. Pengembangan energi panas bumi PLTP Ulumbu 2 x 20 MW mesti diwujudkan agar mampu menciptakan ketahanan energi melalui renewable energy secara mapan dan berkelanjutan.

Langkah ini, sejalan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan peran energi baru terbarukan (EBT) pada bauran energi nasional yang ditargetkan mencapai 23 persen pada tahun 2025. *

Penulis:Christo Lawudin/Editor:Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *