Dari Wolofeo ke Segala Arah (Secuil Monolog pada Ulang Tahun Ke-75 P. Dr. John M. Prior, SVD)
Oleh Beni Wego, SVD

By Admin Florespos 15 Okt 2021, 06:48:51 WIB Feature
Dari Wolofeo ke Segala Arah (Secuil Monolog pada Ulang Tahun Ke-75 P. Dr. John M. Prior, SVD)

P. John Mansford Prior, SVD


Lelaki yang berwajah ramah itu keluar dari rumah. Ia membawa sebuah ember dengan pakaian di dalamnya. Barangkali baru selesai mencuci sendiri pakaiannya. Ia lantas bergegas ke tempat penjemuran.

Tak lama sesudah itu, ia masuk kembali ke rumah. Dan ketika memandang kepada tamu-tamu di rumahnya, ia tersenyum-senyum. Tamu-tamunya juga tersenyum. Dengan suara pasti, ia menyalami mereka. Lantas percakapan singkat yang sudah agak siang itu terjadi di Pusat Penelitian Agama dan Kebudayaan, Candraditya. Udara kota Maumere yang panas itu semakin menambah ‘panas’ percakapan. Tak ada diskusi yang berat. Percakapan yang relax dalam situasi menantikan pentahbisan Uskup Maumere.

Pater Dr. John Prior, SVD (seperti biasa kalau bertemu) turut memantik percakapan. Dan yang selalu pasti ditanyakan adalah tentang karya misi. Tempat tugas. Dan nanti kalau sudah dijawab, dilanjutkan dengan misalnya, bagaimana orang di … dst. Bergudang pertanyaannya dan setiap jawabannya akan selalu didengarnya dengan teliti dalam hening. Ia tidak akan pernah menyelah selama ada keterangan dan penjelasan yang perlu. Tapi, ia tidak akan diam kalau ada hal yang tidak jelas. Serius tapi relaks.

Baca Lainnya :

Prof. John adalah salah satu pembicara dalam pertemuan SVD global via zoom online yang diprakarsai oleh Kantor Pusat SVD di Roma, menjawab tantangan pandemic Covid-19. Tema yang dibicarakannya adalah Reaching Out to the Poor and Their Rights (Menjangkau Orang-orang Miskin dan Hak-hak Mereka). Bahan presentasi yang didiskusikan sudah dikirim sebelumnya kepada semua peserta untuk dibaca dan sudah tentu jadi bahan dalam diskusi online itu. Penulis mengambil secuil dari naskah itu dalam tulisan ini.

Tibalah John mempresentasikan papernya. Hanya sekitar 15-20 menit diberikan atau malah kurang. Kemudian dibuka sesi tanya jawab dari kertas kerja yang sudah disampaikan, termasuk dari John. Tidak ada yang bertanya seputar papernya. Para bekas murid-muridnya yang sedang bekerja dan berkelana di mana-mana sebagai misionaris dari Serikat Sabda Allah di lima benua, juga tidak. Mungkin mereka sudah mengenal “Moat Gete” ini dengan baik, yang selalu menyajikan bahan menarik sekaligus menantang dan penting dibawa dalam refleksi. Ini tidak berarti bahwa John tidak ingin diskusi. Mustahil tidak ada percakapan dengan John jika bertemu! Mantan Pastor dari kampung Wolofeo ini selalu menantang dan bikin panas, bahkan bisa sampai panas sekali tapi itu artinya, semua yang dibuat panas memiliki sesuatu dalam dirinya. Dengan kata lain, ia menguatkan orang lain, teman bicara melalui dan dalam dialog. Jadi, kalau orang bicara, ia akan petik buahnya dan kembalikan buah yang dihasilkan sendiri kepada pemiliknya.

Metode dialognya beragam sekali.  Tak ada yang tunggal. Atau dialog untuk dialog saja. Dialog lebih luas dari sekadar verbal exchange. Bagi John, dialog untuk mencapai praxis dan tindakan nyata. Bukan asal omong. Maka, John amat peduli dan terlibat dengan orang kecil dan tersingkirkan. Dari kepedulian inilah ia mengupas dan menganalisis secara kritis dan tajam dan mengajarkan refleksi teologis yang mendalam, kontekstual, tepat sasar, dan manusiawi. Dalam papernya Prof. dari Ledalero itu menyajikan salah satu tugas pelayanannya sebagai kapelan di penjara, selain kapelan bagi para penyintas HIV dan pengidap virus yang mematikan itu.

John menjelaskan dan berbicara singkat, jelas dan padat. Dalam papernya itu, ia menulis: “In our weekly Sunday Eucharist and Tuesday Bible Sharing, prisoners gain the courage to take off their masks, learn not to make excuses, discover how to face themselves squarely, and accept themselves just as they are.”

(Penulis: Pada setiap perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan sharing Kitab Suci pada hari Selasa, para tahanan mendapatkan kekuatan untuk melepaskan topeng-topengnya, belajar untuk tidak berdalih, menemukan bagaimana memandang diri secara benar, menerima diri apa adanya).

Nah, kalau orang tahanan bisa menemukan proses dan mengalami transformasi, maka orang di luar penjara seharusnya menemukannya juga atau malah mudah menemukan transformasi itu. Bukankah masyarakat di luar penjara lebih bebas, tanpa takut berdalih? Dapat dikatakan dengan cara lain. Kalau tahanan masuk penjara atas alasan hukum, mengapa justru masyarakat di luar penjara bisa biarkan human trafficking jalan lancar, bansos keluar masuk kantong koruptor dan bukan kantong rakyat yang dibantu, para korban stigmatisasi PKI yang terus menerus di-bully secara arogan, arogansi mayoritas atas minoritas, dan sebaran hoax, black campaign, dst.

Jadi, John tidak berteologi sosial saja. Ia berteologi untuk bertransformasi. Tujuannya mengajar teologi adalah untuk transformasi. One remains the subject of reason. Ia tetap menjadi subjek dari keahliannya dan membawa orang lain menjadi subjek bagi dirinya.

Mari kita lihat satu lagi sebagai berikut.

John amat sengit melihat dan akan terus melihat dengan jelas, guncangan-guncangan maut yang mencakar. Membaca John, saya berkesan dan setuju bahwa teologi harus transformative. Sebab, tanpa daya itu: “…Teologi seperti itu terdiri dari rumusan-rumusan baku yang diturunkan dari atas untuk menata serta menertibkan Gereja. Pengertian ini mewartakan sebuah allah yang membosankan, dan allah yang membosankan mengantar orang kepada sikap apatis-tak peduli yang sering ditemukan dalam hati seseorang yang kerdil lagi takut.” (Ledalero 2009) Teolog Hans Urs von Balthasar mengatakan, kalau seseorang berdoa baik, ia akan peduli dengan orang-orang miskin. Konsekuensinya, tanpa kesadaran (kritis) menuju transformasi, kita akan jalan di tempat dan lengket dengan status quo, apatis-tak peduli dalam bahasa John. Ironisnya, transformasi bisa terjadi di penjara. Orang di penjara bisa berubah jadi baik. Orang ‘bersih’ di luar penjara mesti excellent!

Transformasi dengan begitu adalah kesaksian hidup. Tidak hanya sebuah proses dan pencapaian.

Mengikuti John, akan sangat menarik diperhatikan ketika transformasi terjadi dalam misa dan sharing Kitab Suci. Kita tidak tahu bagaimana perubahan itu terjadi dalam diri seorang napi, seperti ketika roti berubah jadi Tubuh Kristus dan anggur jadi Darah Kristus. Jadi, Kristus sendiri yang mengubah seorang tahanan! Atau dalam sharing Kitab Suci. Siapa membisikkan para napi tentang Sabda yang telah menjadi daging. Maka, semua manusia sama di hadapan Allah. “And so, with increasing honesty they prepare to face the world once again when they are finally released.” Sambungnya dalam artikel itu. (penulis: Dengan kejujuran yang bertambah, mereka siap untuk hidup lagi di dunia di luar penjara sekali lagi ketika mereka dibebaskan).

Kita belajar dari John bahwa tranformasi menguatkan dan membawa arah hidup. Ia melewati jalan-jalan terjal, bahkan perlawanan sekalipun, tapi tidak lenyap. Ia rapuh tapi bebas.

Tepat bahwa John mengajak kita untuk tidak jalan jauh-jauh. Kita mencari Allah di dalam dan dari dalam. Transformasi bermula dari bathin yang bebas menerima ilham Ilahi, menuju pertobatan sebagaimana disuarakan Yohanes Pembaptis. Santu Agung Paus Yohanes Paulus II mengatakan, yang paling menggembirakan dalam karya misioner adalah conversion atau pertobatan.

Pertobatan bukan sekadar jalan balik haluan, apalagi nostalgia. Menurut John, “Transformasi menyangkut pembaruan bentuk dari apa yang hakiki: budi dan jiwa.” Ia adalah jalan untuk menemukan. Seperti jalan dari Wolofeo menuju segala arah. Selamat Ulang Tahun!

*Penulis, misionaris SVD, tinggal dan bekerja di Amerika Serikat-USA.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.