Bulverisme

By Admin Florespos 24 Jan 2021, 09:06:53 WIB Kolom
Bulverisme

Oleh Silvester Ule

Manakala memperhatikan cara bicara dan berpikir banyak orang dan bahkan di antara pemikir besar, kita mudah temukan apa yang C. S Lewis sebut sebagai “bulverisme” (bulverism). Bulverisme mirip penalaran “ad hominem”, dengan sedikit perbedaan kecil.

Dalam penalaran ad hominem, bukan argumen yang diperhatikan, namun latar belakang orang yang diperhatikan. Mirip dengan penalaran “ad hominem”, dalam bulverisme sesuatu dianggap salah karena sejak awal sudah dianggap salah, dengan memperhatikan bukan pada argumentasi, namun pada tuduhan bias tertentu. Seakan tidak ada kebenaran, argumentasi hanyalah ekspresi dari bias yang sudah dituduhkan. Bulverisme sering dianggap sebagai salah satu bentuk “ad hominem”.

Baca Lainnya :

Kesalahan penalaran ini diamati C. S. Lewis sedemikian umum dan tersebar luas pada masanya, sehingga ia menciptakan tokoh fiktif bernama Ezekiel Bulver, untuk melukiskan filosofi “bulverisme”. Motode “bulverisme” adalah mengasumsikan bahwa lawanmu salah, dan [dari sekadar asumsi] kemudian menjelaskan kesalahannya. Dengan demikian, bukan argumen yang diperhatikan, tapi orang membangun asumsi tertentu tentang lawannya, dan menyerang lawannya berdasarkan asumsinya sendiri, walau mungkin pada kenyataannya lawannya mungkin benar dan punya alasan mencukupi pada posisinya.

Lewis memberi contoh dua pikiran besar yang menjadi contoh bulverisme, yaitu pikiran Sigmund Freud dan Karl Marx. Pertama, bagi Freud, manusia hidup dan berada selalu dalam pelbagai “kompleks” yang tersembunyi. Kepercayaan akan Allah, misalnya, hanya sebentuk kompleks kerinduan akan sosok ayah purba. Atau dalam contoh Lewis, jika ada seratus orang yang menganggap bahwa Ratu Elisabeth adalah seorang ratu yang berpengaruh, maka Freud akan menyuruh orang menganalisis psikologi keseratus orang tersebut, dengan kesimpulan yang sudah bisa ditebak yaitu mereka semuanya mempunyai “kompleks (kerinduan akan sosok) ibu” (mother complex). Inti dari pandangan Freud yang sangat berpengaruh adalah: “Orang-orang tersebut secara psikologis tercemar dari sumbernya”.

Kedua, pikiran Karl Marx. Karl Marx menganggap manusia ada selalu dalam kelas ekonominya. Jika ada satu soal, bagi Marx tidak relevan bicara soal benar salah. Ia akan menyuruh orang menganalisis kelas sosialnya. Jika banyak orang yang menganggap bahwa kebebasan adalah hal yang baik, maka Marx akan menilai bahwa mereka berpikir positif tentang kebebasan karena mereka adalah bagian dari kaum borjuis yang diuntungkan oleh sistem ekonomi bebas (laissez faire). Intinya: “Pikiran mereka sudah tercemar secara ideologis dari sumbernya”.

Namun, terhadap soal di atas, Lewis bertanya, apakah yang dimaksud ialah bahwa (1) “Semua” pikiran sudah tercemar secara psikologis dan ideologis dari sumbernya, atau (2) hanya “sebagian” yang tercemar? Jika mereka menganggap bahwa “semua” pikiran sudah tercemar, maka pikiran Freud dan Marx juga termasuk pikiran yang tercemar, dan tidak ada gunanya menganggap serius ucapan mereka.

Tapi jika yang dimaksud ialah “sebagian” pikiran telah tercemar, maka tidak ada yang baru dengan ide ini, karena semua orang juga berpikir hal yang sama, dan dengan sendirinya menggugurkan metode Freud yang mau menganalisis segenap hal berdasarkan motif, atau metode Marx yang menganggap bahwa semua pikiran dipengaruhi ideologi kelas. Jika hanya sebagian yang tercemar, maka soal sekarang yang lebih penting adalah, bagaimana mengetahui bahwa mereka tercemar?

Di sini, tidak mungkin generalisasi motif dan ideologi bisa diterapkan. Jika ada orang yang dengan berbinar-binar katakan dia punya banyak uang di bank, maka tidak ada gunanya langsung menganalisis motifnya sebagai “kompleks” orang kaya, misalnya. Yang perlu diperiksa adalah benar tidak ia punya uang, dan jika ternyata kas rekeningnya kosong, baru motif dan kesehatan psikologisnya diperiksa. Jadi, hal paling penting sebenarnya membuktikan benar tidaknya bahwa ia punya uang, bukan langsung melompat pada psikologinya atau ideologinya. Dalam soal argumentasi, orang harus periksa dulu benar salah sebuah argumentasi, lalu berangkat pada motif atau hal lain. Orang harus menemukan dulu kesalahan dalam argumentasi, dan membuktikan terlebih dahulu kesalahan argumentasinya, dan sesudah menemukannya tanpa tuduhan bias tertentu, baru orang menjelaskan sumber kesalahannya dengan teori psikologis atau teori lain.

Namun, bagi Lewis, “Metode modern adalah mengasumsikan tanpa diskusi bahwa seseorang salah, kemudian memecah perhatiannya pada soal sambil sibuk menjelaskan bahwa ia bodoh”. Freud sudah mengasumsikan bahwa semua orang yang mengatakan bahwa Allah ada disebabkan “kompleks” kerinduan akan ayah purba, dan dari asumsinya tersebut ia pun sibuk menjelaskan bagaimana orang Kristen sedemikian bodoh. Marx, misalnya, sudah mengasumsikan bahwa semua argumentasi tidak lepas dari prasangka dan bias kelas, sehingga ia tidak cukup menjelaskan mengapa posisinya benar, namun langsung melompat pada ide perjuangan kelas melalui revolusi (yang justru menciptakan kelas baru yaitu oligarki politburo yang buas).

Bulverisme dengan sendirinya jauh dari sikap rasional, karena orang tidak memberi “alasan” rasional yang dapat dipertanggungjawabkan, melainkan hanya menuduh motif dan bias dari posisi lawan. Saat orang tidak setuju dengan posisi filosofis atau teologis tertentu, metode bulverisme bisa dipakai misalnya dengan menuduh lawannya liberal, atau konservatif, atau kuno, dan sebagainya, tanpa memberi alasan “mengapa” salah. Orang bukan berdiskusi, namun menghakimi, padahal belum tentu posisinya sendiri benar.

Bulverisme secara implisit menolak kebenaran, padahal ada hal yang disebut fakta, realitas, yang coba diekspresikan dalam argumentasi. Argumentasi mesti dilawan dengan argumentasi, bukan denngan asumsi motif atau ideologi. Boleh jadi bahwa argumentasi saya dipengaruhi oleh kondisi psikologis atau ideologis tertentu, namun yang perlu dibuktikan adalah alasan “mengapa” saya salah, bukannya melompat pada asumsi mengenai kondisi psikologis atau motif saya. Sesudah terbukti bahwa saya salah, baru lebih jauh menganalisis kondisi psikologis atau motif saya.

Di sekitar kita mudah ditemukan semangat bulverisme. Seorang yang belajar Freud akan melihat segala sesuatu sebagai hanya bagian dari kompleks tertentu. Atau yang belajar Mrx akan melihat segala sesuatu dari sudut kelas. Atau yang belajar dari filsuf tertentu hanya akan melihat segala sesuatu dari sudut pandang filsuf yang dipelajarinya, bukannya menggunakan filsuf hanya sebagai salah satu alat membaca dunia, dan kalau alat itu tidak cocok, ia dilepaskan. Padahal, meminjam kata-kata Shakespeare: “Ada banyak hal di langit dan di bumi dari yang diimpikan filsafatmu”.

Jika kategori rasional dibalas dengan kategori motif atau asumsi ideologis, maka rasionalitas akan terdepak, para akademisi, teoretisi bisa berubah jadi jaksa dan hakim tanpa data. Lewis pun mengingatkan: “Sebelum bulverisme tergilas, rasionalitas takkan berperan efektif dalam hal ikhwal manusiawi”. Dengan spirit bulverisme, kita yang konon sudah beberapa abad hidup dalam abad pencerahan, justru bisa terjebak dalam rasionalisme belaka tanpa benar-benar tercerahkan dan rasional, sebagaimana ungkapan terkenal Immanuel Kant: “Apa kita hidup di abad tercerahkan? Tidak, kita hidup di abad Pencerahan”.*
*) Penulis adalah pegiat Literasi Filsafat Ledalero.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 5 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment