Lestarikan Hutan dan Konservasi Perut Ala KPH Mabar - FloresPos Net

Lestarikan Hutan dan Konservasi Perut Ala KPH Mabar

- Jurnalis

Jumat, 9 Juni 2023 - 08:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) punya cara lain melestarikan lingkungan sekaligus menghidupkan ekonomi masyarakat lingkar hutan.

Langkah tersebut ditempuh KPH lantaran kiat-kiat sebelumnya terkesan kurang maksimal hasil yang dicapai. Gerakan menanam pohon memang bagus, membumi.

Tapi pertanyaan selanjutnya siapa yang merawat pohon-pohon itu dan lain-lain, termasuk biaya.

Sadar akan hal itu, belakangan KPH hadir dengan konsep hutan untuk kesejahteraan. Masyarakat  disadarkan tentang pelestarian lingkungan, memanfaatkan hasil alam tanpa merusak alam, tidak terkecuali hutan.

Pendekatan ala KPH Mabar ‘ memberi kail ketimbang ikan’, agar masyarakat tulus menjaga, melindung, menyelamat, melestari lingkungan dengan berbagai siasat, termasuk hutan, tampak mulai membuahkan hasil. KPH memberi ruang seluas-luasnya kepada warga di dan sekitar hutan untuk buka usaha yang ramah lingkungan, bebas dari plastik di area hutan tanpa merusak hutan.

Peraturan perundang-undangan dan kearifan lokal (adat istiadat/budaya setempat) harus dipatuhi warga lingkar hutan. Demi hal ini KPH usung prinsip hutan lestari masyarakat sejahtera. Jalan ke sana yakni melalu pengembangan ekonomi penduduk lingkar hutan: Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Istilah kita memang ektrim, yaitu konservasi perut,” kata Kepala KPH Mabar, Stefanus Nali kepada FloresPos. Net di Labuan Bajo baru-baru ini. KPH Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kehutanan Provinsi NTT.

Baca Juga :  Listrik Padam Berkali-Kali, Ini Kata Manager ULP PLN Labuan Bajo

Dengan memberi kesempatan kepada masyarakat di dan sekitar kawasan hutan untuk ber-UMKM dalam area hutan, hampir pasti lingkungan setempat aman dan terselamatkan, sambung Nali.

Masih Nali, tentu masyarakat tulus iklas untuk jaga, selamat, lindung dan melestarikan sendiri lingkungan setempat, termasuk hutan. Hal itu disadari betul oleh mereka karena sumber hidupnya dari hutan dimana mereka pijak, ber-UMKM tersebut.

Apalagi masyarakat Manggarai Raya (Maya) masih kental dengan kearifan lokal seperti adat istiadat, budaya serta falsafah. Dari Wae Mokel di timur Manggarai Timur (Matim) hingga selat Sape di barat Mabar, dari laut Flores di utara sampai laut Sawu di selatan Maya masih mendarah daging dengan kearifan lokal dimaksud. Bahwa itu semua berhubungan dengan alam dan manusia serta sang Pencipta-Tuhan.

Kata Nali, sejauh ini KPH Mabar sudah membentuk, memfasilitasi dan mendampingi sedikitnya 5 UMKM kelompok ekowisata di Mabar. Dari 5 kelompok tersebut baru 2 yang berjalan maksimal, yaitu di Wae Bobok dan Sano Limbung, semua di Kecamatan Boleng. Kedua kelompok UMKM kini berjalan 8 tahun.

Kedua kelompok itu amat respon terhadap program hutan lestari, masyarakat sejahtera. UMKM di kawasan hutan yang difasilitasi/dampingan KPH terus berjalan. Hasilnya memenjanjikan. UMKM yang mereka tekun, ulet sejauh ini berjalan baik dan bagus.

Baca Juga :  Sampah Genangi Saluran Air di Kota Maumere--Perlu Penanganan di Tengah Ancaman DBD

Sedangkan 3 spot ekowisata lain tidak maksimal, karena kurang mendapat tanggapan/respons masyarakat setempat. Ketiganya

yaitu air terjun Kawa Rua-Sok Rutung-Kecamatan Komodo serta Puncak Mbeliling dan Puncak El Tari. Kedua obyek terakhir berada di Kecamatan Mbeliling.

“Puncak El Tari peluang bagus. Banyak kelebihannya. Tempatnya juga strategis, pas di ruas jalan nasional trans Flores. Dari menara puncak ini lihat semua wilayah Manggarai Barat, ” komentar Nali.

Selain itu, KPH Mabar melakukan fasilitasi/mendampingi kelompok masyarakat UMKM madu, bagian dari kelompok hasil hutan non kayu. Yang ini juga berjalan baik, kontinyu, yaitu 1 kelompok di Kecamatan Boleng.

Juga ada kopi, pipet/sedotan bambu, asbak rokok, gula puteng (manisan dari aren), tempat simpan kopi, gelang dan kalung biji genitri, serta biji petai raksasa dan lain-lain. Namun semuannya belum maksimal karena kalah finishing.

Semua prodak tersebut berbahan baku alam, ramah lingkungan, non plastik. KPH mau mengendalikan/ menekan/mengurangi sampah dari hulu hingga hilir. Tapi untuk memulusnya butuh keterlibatan semua pihak. Untuk itu hilangkan ego sektoral. Koordinasi lintas sektor sangat dibutuhkan. Tidak bisa sendiri, KPH mengalami keterbatasan, tutup Bali. *

Penulis: Andre Durung/Editor: Anton Harus

Berita Terkait

Diperkuat Pemain Eks Ben Mboi Cup, Putri Carmel Menang atas Quen VBC di Soekarno Cup
Berkarya dengan Kompetensi, Berdampak untuk Lewotana (Pembekalan PKL Mahasiswa Fakultas Teknologi IKTL)
OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II
Akses Inklusif Masih Terbatas, Ribuan Pelari Dorong Kesetaraan bagi Anak Disabilitas Lewat Run for Equality 2026
Ngada Gelar Festival Komodo Riung di Desa Lengko Sambi Utara
Wisata Flores–Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur
Bhayangkara Presisi Polres Ende Petik Kemenangan Kedua di Turnamen Voli Soekarno Cup
Momentum Hari Anak Nasional, Save the Children Indonesia Ajak Semua Pihak Berkolaborasi Melalui Festival Pahlawan Anak
Berita ini 100 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 20:37 WITA

Diperkuat Pemain Eks Ben Mboi Cup, Putri Carmel Menang atas Quen VBC di Soekarno Cup

Senin, 27 Juli 2026 - 11:16 WITA

Berkarya dengan Kompetensi, Berdampak untuk Lewotana (Pembekalan PKL Mahasiswa Fakultas Teknologi IKTL)

Senin, 27 Juli 2026 - 10:54 WITA

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Juli 2026 - 10:49 WITA

Akses Inklusif Masih Terbatas, Ribuan Pelari Dorong Kesetaraan bagi Anak Disabilitas Lewat Run for Equality 2026

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:17 WITA

Wisata Flores–Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur

Berita Terbaru

Nusa Bunga

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Jul 2026 - 10:54 WITA

Opini

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Senin, 27 Jul 2026 - 06:33 WITA