BAJAWA, FLORESPOS.net-Kondisi infrastruktur terutama jalan di wilayah Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih jauh dari layak dan belum menjadi prioritas pembangunan daerah.
Betapa tidak, jalur jalan Kabupaten dari Wangka, Kecamatan Riung menuju Marunggela, Ibu Kota Kecamatan Riung Barat banyak yang sudah mengalami kerusakan parah.
Pantauan di lapangan, Senin (8/6/2026), sedikitnya 16–17 titik mengalami kerusakan yang tersebar di sepanjang ruas jalan tersebut. Titik yang tergolong paling parah, yakni di wilayah Tengkel Tewa dan hamparan jalan Desa Waka Manga, Kecamatan Riung.
Saat itu Camat Riung Barat, Imron Lou bersama seluruh staf Kecamatan Riung Barat, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta mahasiswa yang sedang menjalani magang tampak melaksanakan bergotong royong memperbaiki sejumlah titik pada ruas jalan Wangka–Maronggela.
Perbaikan tersebut dilakukan secara swadaya melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintah setempat. Kegiatan ini juga merupakan bentuk respons pemerintah kecamatan terhadap kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya mendapat penanganan.
“Walaupun baru dua titik yang diselesaikan, pekerjaan akan terus dilanjutkan pada hari berikutnya untuk menangani belasan titik kerusakan lainnya hingga menuju Maronggela, pusat Kecamatan Riung Barat,” kata Camat Imron.
Informasi yang dihimpun, aksi gotong royong tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah pengusaha yang sedang menjalankan aktivitas usaha di wilayah Riung Barat.
Masyarakat berharap kegiatan ini dapat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Ngada agar kondisi infrastruktur di wilayah Riung dan Riung Barat memperoleh prioritas yang lebih serius dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan ke depan, sehingga akses transportasi masyarakat dapat semakin baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Anggota DPRD Kabupaten Ngada dari Daerah Pemilihan Riung dan Riung Barat, Sayn Songkares kepada Florespos.net pada kesempatan yang sama mengapresiasi apa yang dilakukan Camat Riung Barat, yang turun langsung bersama masyarakat memperbaiki ruas jalan Wangka–Maronggela.
Dia mengatakan bahwa ditengah keterbatasan, Camat Imron tidak hanya hadir sebagai pejabat pemerintah, tetapi juga sebagai penggerak yang mampu membangun semangat gotong royong warga.
Namun di balik aksi itu, menurut dia, tersimpan pesan yang lebih besar bahwa kondisi infrastruktur di Riung Barat masih jauh dari layak dan belum terlihat sebagai prioritas pembangunan daerah.
“Jika masyarakat dan pemerintah kecamatan harus terus bergotong royong menutup kerusakan jalan, maka ada pekerjaan rumah besar yang harus segera dijawab oleh Pemerintah Kabupaten,” ungkapnya.
Kata dia, aksi Camat dan masyarakat itu seharusnya menjadi alarm sekaligus membuka mata Pemda bahwa Riung dan Riung Barat membutuhkan perhatian yang lebih serius dalam perencanaan dan penganggaran infrastruktur.
“Jalan yang baik bukan sekadar urusan kenyamanan, tetapi menyangkut akses ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan masa depan masyarakat,” kata Sayn. *
Penulis : Wim de Rosari
Editor : Wentho Eliando










