Menelusur Jejak Komodo di Tanah Flores - FloresPos Net

Menelusur Jejak Komodo di Tanah Flores

- Jurnalis

Jumat, 23 Juni 2023 - 14:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Biawak komodo, hewan endemik Flores. Konon asal usulnya dari benua “Kanguru” Australia.

Lalu bermigrasi ke Kepulauan Sunda Kecil yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Sunda Kecil, Komodo hanya hidup di alam NTT. Di provinsi 1.192 pulau ini jadi satu-satunya habitat asli binatang langka itu yang tersisa di seantero jagat raya sampai sekarang.

Komodo hewan purba raksasa rekanan Dinosaurus yang telah lama punah dari muka bumi. Komodo tergolong kanibal, makan anaknya sendiri.

Di NTT habitat asli Komodo yakni di daratan Flores dan pulau-pulau kecil sekitar, termasuk di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), Manggarai Barat.

Di Pulau Flores ada 8 Kabupaten, yaitu Flores Timur (Flotim), Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur (Matim), Manggarai, dan Manggarai Barat (Mabar).

Wilayah TNK di antaranya meliputi Pulau Rinca, Pulau Papagarang, Pulau Padar, dan pulau Komodo, serta parairan/laut sekitar.

Warga setempat baptis Biawak komodo dengan nama Ora. Di daerah lain di Flores, Komodo dipermandikan dengan nama Rugu, Mbou.

Selain sebutan lokal di atas, nama ilmiah Biawak komodo adalah Varanus comodoensis.

Sapaan akrab lain binatang melata ini di antaranya Buaya darat, dan juga Komodo dragon. Sedangkan nama lain Pulau Flores yakni Nusa Nipa atau Nusa Bunga.

Di tanah Flores keberadaan dan jumlah Buaya darat masih samar- samar. Di kabarkan di antaranya hidup di Pulau Solor-Flotim, Watu Manu-Sikka, Pota-Matim, dan di selatan Mabar.

Juga hidup liar di wilayah planet Nusa Bunga, yaitu pulau-pulau kecil sekitar utara Flores. Antara lain di Pulau Longos-Mabar dan di Ontoloe dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) negeri 17 Pulau Riung-Ngada.

Baca Juga :  Pemdes Batu Cermin Manggarai Barat Siapkan Anggaran Penanganan Rabies

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT tahun- tahun terakhir rutin melakukan pengawetan spesies Komodo. Kegiatan itu tidak hanya dalam wilayah otorita BBKSDA.

Di luar kawasan otorita juga tugas melekat BBKSDA NTT. Itu terkait spesies daratan dan perairan Flores serta pulau-pulau kecil sekitarnya, minus TNK.

Aktivitas tersebut dilakukan oleh kaki tangan BBKSDA NTT yang bernaung di bawahnya, atau kerja sama dengan lembaga lain. Dan itu berjalan tahun-tahun terakhir dengan label ekspedisi Komodo.

BBKSDA NTT berinduk pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia (RI)/Pemerintah Pusat (Pempus).

Pihak ini memasang kamera trap di sejumlah titik di tanah Flores dan pulau-pulau sekitar. Itu untuk rekam jejak keberadaan Komodo setempat. Di antaranya di Pulau Solor dan Watu Manu. Di 2 titik ini ternyata nihil Komodo.

Sebaran hidup Komodo di Nusa Nipa yang telah diketahui kecuali di Ontoloe, Pota, Longos, dan di selatan Mabar.

Di selatan Mabar antara lain tersebar di Nangabere Kecamatan Lembor Selatan, dan beberapa titik di Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, di kawasan Cagar Alam (CA) Wae Wu’ul, timur selatan Labuan Bajo ibu kota MMabar.

“Kalau asal Komodo konon dari Australia. Sebarannya di Flores ceritanya adajuga di Watu Manu dan lain-lain. Tetapi ketika telusuri tak ada. Jumlah Komodo Flores juga belum tahu,” ungkap Udin kepada media ini di Labuan Bajo belum lama berselang.

Udin, Kepala Resor Konservasi Labuan Bajo. Diungkapkan dia, institusinya yang bernaung dibawah BBKSDA NTT banyak tugas terkait pelestarian dan konservasi.

Pihaknya tidak hanya urus kawasan beserta segala isinya, seperti CA Wae Wu’ul dan sejenis lainnya.

Tetapi berhubungan pelestarian/konservasi spesies luar kawasan menjadi tugas melekat instansi itu, seperti mengamati Komodo dan spesies lain di Pulau Longos, Golo Mori, Nangabere dan lainnya.

Baca Juga :  Salam Hai Engkau Yang Dikaruniai, Tuhan Menyertaimu

Terkait keberadaan Komodo Flores di luar kawasan menjadi tantangan besar bagi BBKSDA NTT, termasuk instansi-instansi di bawahnya, tak terkecuali CA Wae Wu’ul.

Hal dimaksud berhubungan langsung dengan masyarakat local, konflik kepentingan. Misalnya habitat Komodo berada dalam lahan milik warga.

Ketika hewan piaraan masyarakat seperti kambing dan lain-lain dimangsai Komodo, mungkin saja pemilik kebun bunuh mati sang Komodo bersangkutan.

Tantangan lain perburuan liar. Ini berdampak stok pakan Komodo di dan luar kawasan. Juga cuaca panas, el nino. Kemarau panjang rawan kebakaran lahan. Ini juga berpengaruh terhadap kehidupan Buaya darat dan species lain di Flores.

Berapa si jumlah Komodo Flores sekarang? Udin tampak enggan berpendapat.

“Kalau jumlahnya belum dipastikan. Tapi sepertinya stabil, tidak turun tidak naik,” tutup Udin.

Bupati Mabar, Edistasius Endi secara terpisah menyatakan bangga atas keberadaan Komodo di Flores, termasuk di Mabar.

Tapi pihaknya tak bisa campur tangan terlalu jauh terkait konservasi/pelestarian hewan buas nan purba tersebut. Karena itu kewenangan Pempus melalu Kementerian LHK RI, tutup Bupati Edi.

Kerja sama semua pihak di Flores khususnya, sangat dibutuhkan. Masyarakat dan Pemerintah Daerah (Pemda) se-daratan Nusa Bunga diharapkan sepakat terkait pelestarian alam lingkungan Nusa Nipa.

Flores dan pulau-pulau kecil sekitar kaya potensi, kaya obyek indah, langka, unik, dan eksotis, termasuk Komodo. Para pemangku kepentingan di Flores mesti bergandengan tangan selamatkan lingkungan berserta segala isinya.

Lestarikan alam Nusa Bunga-Nusa Nipa beserta segala isinya demi anak cucu. Semoga.*

Penulis: Andre Durung / Editor: Wentho Eliando

Berita Terkait

Diperkuat Pemain Eks Ben Mboi Cup, Putri Carmel Menang atas Quen VBC di Soekarno Cup
Berkarya dengan Kompetensi, Berdampak untuk Lewotana (Pembekalan PKL Mahasiswa Fakultas Teknologi IKTL)
OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II
Akses Inklusif Masih Terbatas, Ribuan Pelari Dorong Kesetaraan bagi Anak Disabilitas Lewat Run for Equality 2026
Ngada Gelar Festival Komodo Riung di Desa Lengko Sambi Utara
Wisata Flores–Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur
Bhayangkara Presisi Polres Ende Petik Kemenangan Kedua di Turnamen Voli Soekarno Cup
Momentum Hari Anak Nasional, Save the Children Indonesia Ajak Semua Pihak Berkolaborasi Melalui Festival Pahlawan Anak
Berita ini 218 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 20:37 WITA

Diperkuat Pemain Eks Ben Mboi Cup, Putri Carmel Menang atas Quen VBC di Soekarno Cup

Senin, 27 Juli 2026 - 11:16 WITA

Berkarya dengan Kompetensi, Berdampak untuk Lewotana (Pembekalan PKL Mahasiswa Fakultas Teknologi IKTL)

Senin, 27 Juli 2026 - 10:54 WITA

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Juli 2026 - 10:49 WITA

Akses Inklusif Masih Terbatas, Ribuan Pelari Dorong Kesetaraan bagi Anak Disabilitas Lewat Run for Equality 2026

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:17 WITA

Wisata Flores–Batu Kelamin di Puncak Poco Ndeki, Destinasi Wisata Unik Manggarai Timur

Berita Terbaru

Nusa Bunga

OMK Moni Sukes Gelar Turnamen Voli HTSPM Cup II

Senin, 27 Jul 2026 - 10:54 WITA

Opini

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

Senin, 27 Jul 2026 - 06:33 WITA