Yoseph Palu: Hidup Mati di Mina Tani
Penulis: Andre Durung/Editor: Wentho Eliando

By Editor Florespos 22 Jun 2021, 15:00:49 WIB Feature
Yoseph Palu: Hidup Mati di Mina Tani

Yoseph Palu (kanan/rambut gimbal) sedang memegang jaring/jala ikan di kolam ikan miliknya di Desa Golo Ketak, Kecamatan Boleng, Kabupaten Mabar. Foto: Andre Durung.


Labuan Bajo, Florespos.net-Sekali mendayung dua tiga pulau terlampau juga, tampaknya tepat untuk Yoseph Palu. Totalitas hidup menganut pola pertanian “mina tani” membuahkan hasil. Setiap musim panen padi sawah sekaligus panen ikan. Ribuan benih ikan itu dipeliharanya sejak musim tanam.

Pria berusia 57 tahun ini, berasal dari Desa Golo Ketak, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Yoseph Palu, juga bekas Kepala Desa Golo Ketak. Dia menerapkan pola pertanian mina tani sejak tahun 2019.

Bagi Yoseph Palu memilih pola mina tani punya segudang alasan. Di antaranya karena di areal persawahan Ganggang, Desa Golo Ketak miliknya merupakan rawa. Berarti airnya terjamin sepajang tahun, baik mengairi sawah pun menghidupi ribuan ekor ikan peliharaanya.

Baca Lainnya :

Ikan-ikan yang diternaki Yoseph Palu tak hanya lepas di petak-petak sawah, tapi juga di parit-parit dan di kolam-kolam dalam kompleks persawahan Ganggang di Desa Golo Ketak. Luas sawah milik Yoseph Palu di persawahan Ganggang 1 hektare (ha). Selain rawa, persawahan ini punya irigasi manual sejak dulu kala.

Selain itu, alasan lain Yoseph Palu memelihara ikan di petak-petak sawah untuk membasmi hama dan penyakit apa saja yang menyerang akar dan pohon padi. Kemudian, pakan ikannya juga mudah didapat di alam sekitarnya. Hanya diberi daun kangkung yang tumbuh subur di pematang dan parit serta petak sawah. Pemberian makanan toko/pabrik tidak rutin.


Pola mina tani juga untuk menggaransi gizi keluarga Yoseph Palu, karena setiap saat ada lauk, khusunya ikan, disamping nasi karena ada sawah sendiri.

“Itulah pertimbangan saya pilih pola pertanian mina tani. Hidup mati saya di sini, di mina tani ini,” tutur Palu ketika berbincang dengan Florespos.net, di bibir kolam dan pematang sawahnya di Persawahan Ganggang belum lama ini.

Ikan yang dipelihara ayah 2 anak tersebut, hanya 2 jenis, yaitu Nila dan Gabus atau Senggilo dalam bahasa setempat. Sama seperti Nila, selain bergizi Senggilo juga bisa menjadi bahan pengobatan penyakit tertentu bagi orang yang yakin dan percaya akan hal itu.

Namun hasil usaha mina taninya belum seberapa karena sepi pembeli. Mungkin juga akibat lemah promosi.

“Yang beli cuma warga sekitar. Itu juga bukan tiap hari. Masyarakat dari luar sesekali saja. Ada dari Kecamatan Ndoso dan Labuan Bajo, ibu kota Mabar,” katanya.

Padahal ikan hasil pola mina tani Yoseph Palu tidak terlalu mahal. Ikan Nila hanya Rp.25 ribu per kilogram (kg). Ikan Gabus tergantung ukuran/besar, bisa ratusan ribu rupiah per ekor. Sedangkan harga bibit ikan Rp.3000/ekor, bebernya.

Yoseph Palu berangan-angan suata saat nanti dia akan menyulap tempat tersebut jadi wisata kuliner. Namun itu baru sebatas “mimpi”, karena modal terbatas.

Lokasi mina tani milik Yoseph Palu terbilang strategis. Pas di bibir jalan provinsi trans utara Mabar. Yaitu Labuan Bajo menuju sejumlah wilayah utara Mabar, antara lain menuju Kecamatan Boleng, Kecamatan Pacar, Kecamatan Masang Pacar, Kecamatan Kuwus, dan bahkan ke Ruteng ibu kota kabupaten tetangga, Manggarai, atau sebaliknya.

Sementara jarak tempuh dari Labuan Bajo, ibu kota Mabar menuju lokasi mina tani milik Yoseph Palu sekitar 1 jam. Jalannya tampak mulus, hotmix.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment