Warga Tolak Penunjukkan Istri Mantan Kades Jadi Penjabat Desa Nginamanu
Penulis: Wim de Rozari/Editor: Anton Harus

By Editor Florespos 14 Jun 2021, 09:43:33 WIB Desa Kita
Warga Tolak Penunjukkan Istri Mantan Kades Jadi Penjabat Desa Nginamanu

Ketua BPD Desa Nginamanu Amatus Noy.


Bajawa, Florespos.net - Penunjukan Maksima Mika menjadi Penjabat Kepala Desa Nginamanu ditolak warga desa itu karena diduga sarat kepentingan dan konspirasi. Pasalnya, Maksima adalah istri dari  mantan Kades Ningamanu, Yohanes Don Bosco Lemba yang baru mengakhiri masa jabatan 9 Maret 2021 lalu.

Ketua BPD Desa Nginamanu Amatus Noy mengatakan, dari aspirasi yang masuk, masyarakat menolak ditunjuknya Maksima Mika. Secara pribadi Amatus mengemukakan, bahwa dirinya juga menolak penunjuknya Maksima Mika menggantikan suaminya sebagai penjabat kepala desa sampai pada pemilihan kepala desa serentak tahun 2022 mendatang.

Amatus menegaskan hal itu kepada wartawan yang menemuinya, Jumat (11/6/2021) di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze.

Baca Lainnya :

“Secara pribadi  saya menolak penunjukan Maksima. Dan aspirasi yang berkembang di masyarakat juga begitu. Meski kami tetap menghargai keputusan yang sudah keluar,” kata Amatus.

Di tempat terpisah, Sekretaris BPD Alexander Mbora justru mempertanyakan mekanisme penunjukan Maksima Mika yang kini ASN di Kantor Kecamatan Wolomeze menjadi Penjabat Kepala Desa Nginamanu. Menurut dia, penunjukan itu terkesan kurang transparan dan dipaksakan. Sementara Camat yang mengusulkan nama itu untuk diproses lebih lanjut tidak pernah melakukan komunikasi dengan BPD dan tokoh masyarakat.

“Kami juga kaget tiba-tiba sudah ada SK Bupati, dan camat minta cepat dilantik. Nama itu tidak pernah dikomunikasi. Justru kehadiran Maksima Mika akan menimbulkan ketegangan baru dan berpotensi konflik karena suaminya yang kepala desa sebelumnya masih punya masalah. Kalau sekarang tunjuk istrinya jadi penjabat kepala desa, kita justru pertanyakan ada apa ini,’ tegas Aleks kepada Media, Sabtu (12/6/2021).

Senada dengan Alexander, Amatus mengatakan penunjukan Maksima akan menimbulkan ketegangan baru di dalam masyarakat. Kepala desa sebelumnya adalah suaminya, kemudian digantikan istrinya dan hal ini dinilai kurang etis. Apalagi menurut Amatus, Suami Maksima itu sedang dalam persiapan bertarung pada Pilkades serentak tahun depan untuk periode kedua. Padahal kehadiran seorang penjabat kepala desa dari unsur ASN bertujuan menjamin netralitas itu, tetapi kalau yang terjadi seperti ini, apakah ada jaminan netralitas itu?

Dugaan penunjukan Penjabat Kepala Desa Nginamanu sarat kepentingan setelah pada Rapat LKPPDes 5 Mey 2021 lalu, terungkap hilangnya uang dari berangkas desa sekitar Rp80 juta dan tidak bisa dipertanggung jawabkan. Kehilangan uang dari berangkas desa yang berkembang sejak Februari 2021 menjelang masa tugas Yohanes Don Bosko Lemba mengakhiri masa tugasnya, kemudian dikonfirmasi lebih mendalam dalam forum itu.

Menurut Alekdander Mbora, ketika BPD mengakonfirmasi dengan Pelaksana Harian Kepala Desa Nginamanu Fransiskus Meno, hal itu langsung dibenarkan. Pendalaman atas hilangnya uang dari berangkas itu dilakukan BPD agar pemberitaan itu tidak berkembang liar kemana-mana.

Atas dasar itu, baik BPD, tokoh masyarakat maupun warga menolak penunjukkan Maksima Mika menjadi Penjabat Kepala Desa Nginamanu, karena Maksima mempunya ikatan emosional langsung sebab mantan Kepala Desa Yohanes Don Bosko Lemba itu suaminya. Jika ini dipaksakan baik Aleksander maupun tokoh dan masyarakat khawati akan menimbulkan ketegangan dan konflik.

“Jangan sampai penunjukkan penjabat ini ada kesan melindungi dan menutup-nutupi kasus yang ada,” kata Alexander.

Sementara Anggota BPD lainnya Aloysius Wae dan Bruno Ngoe juga menyatakan menolak penunjukkan Maksima menjadi Panjabat Kepala Desa Nginamanu. Keduanya menilai penunjukkan Maksima sarat kepentingan. Sangat tidak etis setelah suami menjabat kemudian menunjuk istrinya sebagai penjabat kepala desa. Dan yang menjadi atensi baik Aloysius maupun Bruno, adalah hilangnya uang dari berangkas desa yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

“Kalau sudah begini jangan lagi tunjuk istrinya yang menjadi penjabat kepala desa. Cari yang tidak ada hubungannya dengan kepala desa sebelumnya,” tegas Bruno Ngoe. 

Sejumlah tokoh masyarakat kepada media juga menyatakan menolak penunjukan Maksima menjadi Penjabat Kepala Desa Nginamanu, menggantikan suaminya Yohanes Don Bosco Lemba. Ahmad Dhamu, misalnya menilai tidak etis tunjuk Penjabat yang juga istri kepala desa sebelumnya. Dan lagi tegas Ahmad, Maksimal sendiri selama mendampingi suaminya juga gagal mengimplementasi program PKK di Desa ini. Tidak heran dua tahun terakhir ini, kasus stunting naik cukup tajam di kabupaten Ngada. 

Selama jadi Ketua Tim Penggerak PKK di Nginamanu mendampingi suaminya, papar Ahmad,  tidak satu pun program PKK yang terlaksana. Jadi ini juga menjadi alasan penolakan Maksima oleh warga masyarakat. Ahmad minta jangan memaksa karena bisa menimbulkan konflik, apalagi ada kasus kehilangan uang dari berangkas desa dengan angka cukup besar. Kalau dipaksakan maka ada kesan bahwa penunjukkan Maksima untuk mengamankan mantan suaminya.

Dikatakan Ahmad, terkait dengan penunjukkan Maksima menjadi Panjabat Kepala Desa, sebagai tokoh masyarakat dirinya sudah menyampaikan kepada Camat Wolomeze Kasmin Belo. Selain tidak etis, suami Maksima juga masih harus pertanggung jawabkan hilangnya uang dari berangkas desa. Dan Maksima dinilai gagal kala jadi Ketua Tim Penggerak PKK desa ini.

Namun menurut Ahmad Camat rupanya kekeh memroses Maksima menjadi Penjabat Kepala Desa Nginamanu, dan sekarang SK sudah keluar. Artinya Camat sendiri tidak memperhatikan kondisi sosial kemasyarakatan yang ada, asal usul saja nama itu.

Sementara Tokoh masyarakat yang lain, Vitalis Kutu juga menyatakan menolak penunjukkan Maksima Mika. Kata dia, sangat tidak etis mengingat dia itu istri kepala desa sebelumnya dan terkesan dipaksakan.

Vitalis juga menguatkan penolakannya karena ada kasus kehilangan uang di brangkas yang tidak bisa dipertanggung jawabkan pada akhir masa jabatan kepala desa Yohanes Don Bosco Lemba.

Tokoh masyarakat lainnya, Laurensius Riwu juga menolak ditunjuknya Maksima menjadi penjabat  kepala desa. Sangat tidak etis mengangkat istri kades sebelumnya. Dia malah mempertanyakan mengapa harus Maksima. Ini tidak etis. Lalu suaminya yang sebelumnya menjadi kades akan maju lagi pada pilkades serentak tahun depan bagaimana netralitaas penjabat kepala desa nanti. 

Selain itu Laurena juga menilai penunjukkan Maksima akan menimbulkan ketegangan karena diduga ada penyalahgunaan keuangan dan sampai sekarang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Camat Wolomeze, Kasmir Belo, S.Sos yang dihubungi Florespos.net, Senin (14/6/2021) pertelepon mengatakan, pengangkatan pejabat Kepala Desa Nginamanu berdasarkan usulan dirinya selaku camat dan yang diusulkan ada 3 orang ASN Wolomeze dan 1 orang dari Kabupaten.

Namun dari 3 orang itu 1 orang dari kabupaten tidak bersedia sehingga dirinya merekomendasikan 3 orang dari Kecamatan.

Yang mendapat SK adalah Maksima Mika yang adalah aparat Kecamatan Wolomeze dan telah menugaskan Kasie  Pemerintahan untuk ke Desa Nginamanu guna menjadwalkan kegiatan pelantikan.

Sebagai camat dirinya tidak punya kepentingan apa-apa, namun menugaskan aparat untuk menjalani tugas sebagai pejabat kepala desa dan itu tidak dilarang dalam aturan bahwa istri seorang mantan kepala desa tidak boleh menjadi pejabat kepala desa.

"Awalnya yang bersangkutan menolak ketika tugas yang dipercayakan wajib untuk mengikuti sebagai seorang ASN," ungkapnya.

Selaku Camat dirinya juga tidak menerima surat keberatan dari BPD begitu pula dengan informasi kehilangan uang karena dalam laporan keterangan kepala desa ( LKPDes) yang dihadiri oleh Kasie Pemerintahan sama sekali tidak disinggung tentang kehilangan uang dalam brankas tersebut.

Pengangkatan Maksima Mika sudah didasari dengan pertimbangan yang matang yang bersangkutan cukup bertanggung  jawab dengan tugas-tugas yang diberikan kepadanya dan terakhir sebagai bendahara sehingga kedepan tugas-tugas bendahara akan dilaksanakan oleh pembantu bendahara.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment