Wabup Nagekeo Minta Kasek Ajukan Proposal untuk Rehab Sekolah yang Rusak
Penulis Arto Togo/ Editor: Anton Harus

By Editor Florespos 08 Sep 2021, 09:22:52 WIB Pendidikan
Wabup Nagekeo Minta Kasek Ajukan Proposal untuk Rehab Sekolah yang Rusak

Wabup Nagekeo,Marianus Waja (depan) berkunjung ke SDN Keliwatuwea, Desa Keli, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, Selasa (7/9/2021).


Mbay, Florespos.net - Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja melakukan kunjungan kerja ke SDN Keliwatuwea, Desa Keli, Kecamatan Keo Tengah, Selasa (7/9/2021).

Di hadapan Wabup, Kepala Sekolah SDN Keliwatuwea, Lasarus Piru menyampaikan bahwa kondisi bangunan sekolah sejak didirikan 1 Agustus 2006 sampai saat ini belum pernah direhab.

Banyak plafon jebol, pintu jendela rusak, atap seng bocor sehingga kalau turun hujan tidak bisa dipakai untuk KBM. Anak-anak terpaksa bergabung di gedung sebelah yang lebih baik.

Baca Lainnya :

Terkait hal tersebut Wabup Marianus meminta kepala sekolah (Kasek) untuk membuat proposal untuk ajukan  permohonan rehab total. 

Ada pekerjaan yang memang dari segi aturan kita pikirkan benar, boleh tidak kita kerjakan begini, karena soal kondisi.

Guru bukan Petani

Wabup Marianus pada kesempatan tersebut juga menyampaikan beberapa hal terkait tugas dan tanggung jawab terhadap anak didik.

Guru bukan petani, merasa tidak cocok tanam pala, ganti tanam pisang. Untuk petani, hal itu  tidak soal, yang diubah itupun tidak protes.

Tetapi Guru itu mendidik anak yang punya otak, untuk berpikir, punya hati untuk merasa senang, gembira, dan susah.

"Kita berhadapan dengan anak yang bernafas, punya otak. Sehingga beda guru dengan petani, guru dengan tukang bangunan," ujarnya.


Gedung SDN Keliwatuwea, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT. Gambar diabadikan, Selasa (7/9/2021).

Marianus menambahkan bahwa Guru bukan SK (Sore Kasih) atau Tego Logo (sebutan yang digunakan oleh masyarakat dibagian selatan Nagekeo) bagi mereka yang bekerja dan langsung menerima upah hariannya).

"Bekerja baik atau tidak bukan soal. Tapi guru bukan demikian. Guru orang yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan negara lewat siswa, sehingga tugas pengabdian guru sangat mulia. Ini tidak sekadar slogan," kata Marianus.

"Saya datang mengajak bapak ibu, sadarlah akan tugas kita. Tugas kita tidak ringan. Berat iya. Tetapi sangat mulia, bagaimana kita mendidik anak. Saya sudah dua kali ke sini. Yang pertama awal Januari 2020, kami lewat Nuamuri. Hari ini lewat Nuasele. Saya datang melihat bagaimana kondisi yang sesungguhnya. Kita yang orang sini, tapi orang yang bukan orang sini datang mengajar dan mengabdi di sini, itu tidak semua orang bisa. Kalaupun ditugaskan tidak semua juga mau. Saya paham. Ine Ema tidak perlu omong. Saya tahu bapak kepala sekolah lebih banyak hilangnya. Saya tahu persis," ujarnya.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment