Tetapi, Ketika Engkau Sudah Menjadi Tua...(Coret-coret Lepas Alkitabiah atas Injil Yohanes 21:1
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 14 Sep 2021, 07:16:03 WIB Renungan
Tetapi, Ketika Engkau Sudah Menjadi Tua...(Coret-coret Lepas Alkitabiah atas Injil Yohanes 21:1

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Di ujung kisah itu, sekian nyata maksud Penulis Yohanes. “Dan hal itu dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh 21:19). Petrus memang akan mati.  Tetapi, kematiannya tak menurut jalan dan kehendaknya sendiri. Ada kekuatan lain yang menggiringnya untuk mati. Menuntunnya ke tempat yang ‘tidak ia kehendaki.’ Tak ada jalan lain bagi Petrus selain kepasrahan kepada kehendak siapa pun yang mengikat dan menuntunnya.

Tetapi, semudah itukah para penggiring akan mengikat dan menuntun Petrus ke tempat yang tak dikehendakinya? Bila harus berpotret kembali pada kata-kata Yesus, maka hanya terdapat dua syarat dasar. Ditafsir saja secara bebas dua syarat itu. Pertama, “jika engkau sudah menjadi tua….” Wah, di usia berapa Petrus mesti merasa bahwa ia sudah tua? Menjadi tua secara kronos? Dalam perhitungan waktu? Ataukah mesti ada hal lain yang menjadi indikator “menjadi tua…?”

Syarat kedua, itulah yang disebut Yesus dengan “engkau akan mengulurkan tanganmu….” Bagaimana mungkin Petrus dapat ‘diikat’ dan lalu ‘dituntun’ jika ia ‘tidak ulurkan tangan?’ Kita beri komen bebas saja. Jika Petrus enggan ‘sorong tangan’ untuk ‘diikat dan dituntun’ maka bisa saja ada dua kemungkinan yang jadi halangannya. Entahkah ia belum merasa tua (rasa awet muda terus) atau juga sungguh Petrus tak mau ‘berziarah, hidup, tinggal atau berada’ di tempat yang tak dikehendakinya! Karena ia, seturut rasa masih awet mudanya, masih ingin berjalan-jalan ke mana saja tujuan yang dikehendakinya.

Baca Lainnya :

Dalam pemahaman tertentu, jalan menjadi Gereja, Umat Allah, adalah “mengulurkan tangan”. Hal itu dapat dimaknai sebagai persembahan dan penyerahan diri. Permandian adalah salah satu sakramen inisiasi. Saat seseorang ‘ulurkan tangan’ untuk ‘diikat dalam komunio.’ Masuk ke dalam satu persekutuan atau koinonia. Permandian menjadi alasan dasar seorang kristen menjadi tidak ‘tunggal atau sendiri,’ apalagi bila harus menjadi ‘sebatang kara’ atau ‘yatim piatu.’

Ecclesia mengikat siapa pun sebagai anggotanya. Di situ, setiap jemaat beriman tak bisa lagi melihat celah untuk berjalan sendiri ataupun disendirikan. Ecclesia selalu berarti ‘dipanggil keluar dari… (ek-kaleo) untuk berjalan bersama-sama.’ Berziarah dalam satu iman, pengharapan dan kasih. Demi Kristus sebagai Kepala, dan demi sesama anggota ‘Tubuh mistik-Nya’ serta bahkan bagi dunia, setiap anggota dipanggil untuk keluar dari agenda privat dan dari pusat kesehariannya yang membelenggu.

Saat Saulus ‘dirubuhkan’ dari atas kuda oleh cahaya dari langit, Yesus yang dikejar dan dianiaya adalah ‘Yesus yang hadir dalam saudara-saudara-Nya yang percaya.’ Komunitas orang yang percaya adalah gambaran Kristus Yesus yang hidup. Karena itu, tugas pertama dan utama dari Saulus, kini, adalah ‘mengulurkan tangan untuk diikat oleh dan dalam komunitas.’ Keberserahan ke dalam komunitas adalah tanda kepasrahannya. Dan pada saat yang sama ia ‘mesti tinggalkan segala privatnya (yang silam) untuk bersatu dalam komunitas.’

Dalam cara amat istimewa, berkenaan dengan sakramen, setiap anggota Gereja ‘mengulurkan tangan untuk diikat dalam tugas, tanggung jawab, dan panggilan hidup.’ Sakramen Baptis isyaratkan adanya ikatan akan janji agar ‘pakaian putih itu tetap dijaga dan lilin itu tetap bernyala sampai kedatangan Kristus kelak.’ Sakramen Perkawinan adalah gambaran cinta  ulurkan tangan demi saling mengikat antara pasutri dalam untung dan malang, baik di saat sehat maupun di waktu sakit.

Kaum religius ucapkan janji pada ‘Tuhan personal’ dan pada ‘Tuhan yang nyata hadir dalam komunitas.’ Atau bahkan katakanlah sebuah janji demi hidup komunitas itu sendiri. Janji yang diucapkan itu tentu tak sekadar berkonsekuensi struktural-organisatoris, bahwa ‘saya terbilang sebagai anggota Tarekat…. serta berdiam di Komunitas ….. Lebih jauh dari itu, terbangkitlah kesadaran akan konsekuensi self-donation and sacrificial, yang memang bersifat ‘mengikat.’

Dari sudut pandangan ini, formasi iman dan hidup kristiani (Gereja) bisa disebut sebagai ‘formasi ulurkan tangan.’ Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota Gereja perlahan terbuka kesadaran untuk berbuah demi Gereja, Komunitas dan demi masyarakat pada umumnya. Tentu, formasi seperti menuntut kesabaran atau kebertahanan serta kerendahan hati. Sebab, ‘ulurkan tangan’ adalah satu sikap berani untuk peduli. Dan apa pun jenis kepedulian sungguh menuntut jiwa besar untuk melepaskan, memberi, atau merelakan.

Dalam dunia yang makin berkembang, ‘mengulurkan tangan’ menjadi satu tantangan sendiri. Individualisme tak sekadar wacana kosong. Ia telah jadi arus deras yang mendera mental dan sikap manusia. Kepentingan yang berakar hasrat egosentrik membuat manusia tak ringan untuk mengulurkan tangan untuk diikat oleh berbagai kepentingan umum dan lebih mendesak.

Ingin merasa aman dengan segala jaminan hidup yang ditumpuk dan bertumpuk adalah modal penghalang yang beratkan tangan untuk terulur agar dituntun kepada ‘hal-hal yang tak dikehendaki.’ Hal ini dapat dipahami karena ‘ulurkan tangan itu’ memang menuntut pengorbanan dan kerelaan! Dalam konteks ini, sekali lagi, dituntut keberanian untuk meruntuhkan tembok-tembok yang melindungi ‘garansi hidup dan berbagai kelekatan yang berbau amat ego-sentrik.’

Di sisi selanjutnya, ‘menjadi tua’ sebagaimana yang dikatakan Yesus kepada Petrus, bisa dimengerti atau ditafsir secara luas (bebas). Katakan bahwa ‘menjadi tua’ tak semata ditilik secara usia (kronos), tetapi ditangkap sebagai satu dinamika peziarahan menjadi dewasa. Menjadi tua dalam waktu adalah kepastian yang tegaskan betapa manusia berjalan menuju kerapuhannya. Yang fisik akan hilang dan tak terlihat. Tiada yang abadi.

Tetapi, menjadi dewasa dalam hidup itu berorientasi  pada nilai, kemantapan dalam emosi, kebesaran hati, kewibawaan dalam isi dan cara berpikir. Untuk menggapai kedewasaan seperti itu, manusia bisa melewati jalan-jalan lurus di dalam hidupnya. Namun, dapat terjadi, dan tentunya demikian, sekian banyak orang dapat menuju ‘menjadi tua’ (bijaksana) melalui pelajaran kehidupan dalam sekian banyak kisah, peristiwa, kesulitan, serta berbagai macam tantangan atau bahkan kesuraman dalam hidup!

Bagaimanapun, pada intinya, entah jalan lurus pun jalan berliku-liku, semuanya bermuara pada ‘kerelaan hati untuk mengulurkan tangan dan biarkan nilai-nilai yang lebih mulia untuk mengikatnya.’ Panggilan hidup kristiani itu senantiasa berdinamika menuju nilai dalam Kristus sendiri. Kisah-kisah Injil memperlihatkan betapa kuasa Yesus menarik siapa pun yang dikehendaki untuk berjalan dan tinggal bersama Dia.

Ketika masih muda (belum bijak), siapa pun dapat berjalan  ke mana saja ia kehendaki! Ia dapat berjalan dalam pikirannya sendiri, dalam iramanya sendiri, dalam tafsirannya sendiri, dalam pemuliaan atau pencitraan atas nama dirinya sendiri, dalam kehendak-keinginan-kemauannya sendiri! Narcisme atau hedonisme dalam hidup dapat menjebak dan menjerat siapa pun. Petrus dihardik oleh Yesus sebagai iblis saat ia cuma berpikir tentang apa yang dipikirkan manusia. Bukan apa yang dipikirkan Allah (cf. Mat 16:23).

Maka di sini ‘menjadi terus muda atau tidak mau merasa tua’ dapat menjadi persoalan serius. Ini terjadi saat ia tetap setia mengamankan segala agenda pribadi atau kepentingannya untuk sungguh-sungguh tak sudi ‘diikat oleh apa pun (aturan, keputusan, atau ketetapan) atau siapa pun (pejabat, pembesar, orang kecil dan miskin, masyarakat luas, bonum commune, dan seterusnya) yang secara struktural atau moril mengikatnya.

Menjadi pengikut Kristus tentu bukanlah perkara sederhana. Iman bukan bukan soal sebatas pengucapan atau pelafalan atas Syahadat. Yesus memanggil siapa pun dalam kepribadiannya yang utuh, segalanya serta dalam keunikan. Tuhan memanggil siapa pun sungguh sebagai pribadi. Tanpa pertimbangan atas kelebihan atau kekurangan. Tetapi, dalam Yesus sendiri, selalu ada dinamika peziarahan menuju yang terbaik. Sekalipun harus melewati jalan curam “menjadi tua, mengulurkan tangan, dan orang akan mengikat dan membawa ke tempat yang tak dikehendaki.” Bukankah semuanya mengarah kepada proklamasi akan kemuliaan Allah? (cf. Yoh 21:19).

Bagaimanapun, setiap kita ‘bebas untuk merenungkan Firman Tuhan.’ Biarlah hidup kita diterangi oleh Cahaya Firman Tuhan. Namun, selalu ada harapan: Jangan biarkan Alkitab itu kotor berdebu di sudut kamar. Untuk saat ini, ambil serta bukalah untuk merenungkan serta hayati dari Injil Yohanes 21:15-19. Dan pasti kita temukan harta terpendam di dalamnya.

Verbo Dei Amorem Spiranti




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment