Sulit Cari Pangan Lokal Khas Maumere, Datang Saja di Kedai Mai Sai
Penulis: Wall Abulat/Editor: Wentho Eliando

By Editor Florespos 26 Jun 2021, 17:53:17 WIB Dunia Usaha
Sulit Cari Pangan Lokal Khas Maumere, Datang Saja di Kedai Mai Sai

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo (kanan) dan Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, meninjau produksi pangan lokal yang disiapkan di Mai Sai Kedai Pangan Lokal dan Ole-Ole Maumere, di Jalan Mgr. Soegiyopranoto Maumere, Sabtu (26/6/2021). Foto Wall Abulat.


Maumere, Florespos.net-Warga Kabupaten Sikka khususnya dan warga luar daerah lainnya, tidak perlu lagi kesulitan mencari dan mendapat pangan lokal khas Maumere. Datang saja di Kedai “Mai Sai’ milik PT Langit Laut Biru (LLB) Keuskupan Maumere, di Jalan Mgr. Soegiyopranoto.

Kedai yang menyediakan aneka pangan lokal dan ole-ole khas Maumere ini baru saja diresmikan Uskup Keuskupan Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu dan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si., Sabtu (26/6/2021).

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh Uskup Maumere dan Bupati Sikka.

Baca Lainnya :

Hadir Direktur Komisi PSE dan Caritas Keuskupan Maumere, RD Kanis Mbani, Direktur Utama PT LLB, RD Yan Faroca, Ketua Yayasan Cristo Re RD Felix Dari dan Direktur Politeknik Cristo Re, RD Richard Muga.

Usai pengguntingan pita, Uskup Maumere dan Bupati Sikka, langsung meninjau Kedai Mai Sai. Di dalamnya, telah dipajangkan semua pangan lokal hasil kerja petani dampingan Komisi PSE dan Caritas Keuskupan Maumere.

Petani dampingan itu tersebar pada 8 paroki di Keuskupan Maumere, yakni Bolawolon, Kewapante, Nebe, Magepanda, Nangahure, Watubala, Wairpelit, dan Nita.

Pangan lokal yang disediakan di Kedai Mai Sai, yakni aneka jenis sayur, lombok, tomat, terung, brenebon, beras sorgum, beras merah, beras ketan, ikan teri, ikan cumi-cumi, mentimun, pisang, nastar sorgum, kacang telur, kopi robusta Flores, Kopi Arabika Sikka, Virgin Coconut Oil (VCO), teh kelor,  kacang nasi, kacang kayu, kacang hijau, aneka kue pangan lokal, dan ole-ole khas Sikka lainnya.

Bebas Bahan Kimia

Dirut PT LLB Maumere, RD Yan Faroca pada kesempatan ini, antara lain menjelaskan kekhasan bahan pangan lokal dan ole-ole di Kedai Mai Sai, yakni bebas bahan kimia.

Pengolahannya dilakukan petani dampingan tanpa intervensi bahan kimia, dan pangan lokal yang ada berkualitas serta dipajangkan di dalam gedung/kedai yang suhunya diatur sehingga dijamin mutunya.

“Kami menyiapkan aneka pangan lokal dan ole-ole yang berkualitas dan bebas dari kandungan kimia,” kata Romo Yan Faroca.

Romo Yan Faroca mengajak, warga Sikka, khususnya Kota Maumere yang ingin mendapatkan pangan lokal tersebut bisa datang dan membelinya di Kedai Mai Sai.

“Warga silahkan membeli aneka pangan lokal dan ole-ole yang kami siapkan di Kedai Mai Sai ini,” katanya.

Berdayakan Petani Dampingan

Direktur Komisi Pengembangan Soal Ekonomi (PSE) dan Caritas Keuskupan Maumere, RD Kanis Mbani mengemukakan, komisi yang dipimpinnya telah memberdayakan 8 kelompok petani dampingan pada 8 paroki binaan.

Pemberdayaan dalam bentuk mendukung pendanaan melalui dana APP untuk pengembangan usaha aneka pangan lokal pada petani dampingan. Hasil produk yang dihasilkan didistribusikan ke Kedai Mai Sai untuk dipasarkan.

“Komisi PSE dan Caritas Keuskupan Maumere telah melakukan pendampingan dan memberikan dukungan dana untuk pengembangan usaha petani dampingan pada 8 paroki,” katanya.

Sementara Ketua Yayasan Cristo Re yang membawahi Politeknik Cristo Re dan PT LLB, RD Felix Dari mengatakan, yayasan terus memberdayakan Politeknik Cristo Re dan PT LLB dalam upaya menghasilkan pelbagai terobosan baik di bidang SDM maupun pengembangan pangan lokal dalam upaya mewujudkan masyarakat Sikka yang mandiri dan transformative di bidang pangan dan SDM.

“Kita akan mengembangkan segala potensi elemen warga Sikka sehingga menghasilkan produk yang baik, berkualitas, dan mandiri dalam segala hal, termasuk pangan,” katanya.

Apresiasi

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si dalam sambutan peresmian Kedai Mai Sai menyampaikan apresiasi atas pelbagai terobosan itu.

PT Langit Laut Biru milik Keuskupan Maumere telah menghasilkan produk-produk unggulan di bidang mesin, bengkel, pertanian, dan usaha produktif pangan lokal.

“Pemerintah menyampaikan apresiasi atas pelbagai terobosan ini. Kami mendukung langkah PT LLB untuk kesejahteraan masyarakat dan umat di Keuskupan Maumere,” kata Bupati.

Uskup Maumere Titipkan Pesan Penting

Peresmian Kedai Mai Sai diawali perayaan ekaristi dipimpin Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu.

Uskup Edwaldus dalam khotbah terinspirasi dari Bacaan Suci Kitab Kejadian Bab 18 ayat 1-15, dan Injil Matius Bab 8 ayat 1-4.

Uskup Edwaldus antara lain menitipkan tiga pesan penting yang perlu direnung dari keberadaan sebagai abdi Allah dalam usaha manusiawi dan terkait peresmian Kedai Mai Sai.

Pertama, letakkan harapan yang lebih kokoh di dalam sanubarimu, untuk terus dan terus melakukan kebaikan bagi usaha ini, tanpa harus berpikir seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh. Kebaikanmu akan berbuah rahmat bagi hidupmu, keluargamu dan masyarakat.

Kedua, kebanggaan seorang pengikut Kristus bukan terletak pada kehebatan dan kekuatan dirinya, melainkan pada rahmat Allah yang ada dalam dirinya. Apapun kehebatan dan kemampuan orang-orang Kristen, ia harus tetap rendah hati, karena manusia hanyalah alat di tangan Tuhan untuk melakukan karya kabar baik di tengah dunia.

Bunda Theresa dari kalkuta, menjadi contoh kekudusan yang hidup, bukan untuk ketenaran dan hal prestisius melainkan untuk melayani dan mengabdi sesama dan Tuhan. Paus Pransiskus dalam seruan-seruannya membalikkan agama sebagai kekuasaan menjadi agama sebagai sumber belas kasih dan kerahiman.

Ketiga, kemegahan kedai ini beserta dengan kenyamanan dan kemapanannya, belumlah menjadi sebuah tanda Tuhan hadir dan berdiam di dalamnya.

Kemegahan sesungguhnya lahir dari sikap batin yang penuh dengan kerendahan hati dan ketulusan untuk melayani, kerja sama dan kekuatan batin untuk melangkah maju bersama dengan sesama yang lain.

“Peresmian unit usaha kedai pangan lokal dan souvenir Mai Sai ini membawa kita pada sikap orang beriman untuk terus berusaha lebih giat dalam hidup ini,” kata Uskup Edwaldus.

Peresmian Kedai Mai Sai berjalan di bawah Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19 yang ketat. Kehadiran utusan petani tidak mencapai 25 orang.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment