Selamat Jalan Bruder Albert Djehurut, SVD (Lapangan Perse-Ende Punya Cerita)
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 16 Jun 2021, 05:29:55 WIB Feature
Selamat Jalan Bruder Albert Djehurut, SVD (Lapangan Perse-Ende Punya Cerita)

Alm. Djehurut, Aloysius,


Di buku anggota SVD Catalogus 2021, namanya tercatat di halaman 241: Djehurut, Aloysius, <Albertinus>. Dikenal dengan nama Bruder Albert. Di Catalogus 2021 terbaca pula Br Albert lahir di wilayah Ponkor, Manggarai, tahun 1943. Maaf, saya tak tahu riwayat pendidikannya. Intinya Br. Albert masuk Novisiat tahun 1965. Ia ikrarkan kaul pertama di tahun 1967, dan di tahun 1975 ia ikrarkan kaul kekal.

Di hari kemarin, 14 Juni 2021, terbaca info di WA Grup. Singkat, padat, dan langsung: Br. Albert meninggal diRS Karitas.” Berita kematian Br. Albert secepat kilat menyambar atensi para konfrater SVD Ruteng. Tampaknya, ucapan selamat HUT di hari yang sama untuk Pater  Ius Boruk, Socius tenar di Kuwu, ‘terhalang’ oleh berita suram ini.

Berbagai ucapan dukacita bernada amat afektif. Bermunculan dari mana-mana. Sungguh! Para sama saudara SVD merasa kehilangan seorang senior hebat. Br. Alber punya kharakter dan gayanya yang khas. Saya segera lanjutkan berita kedukaan itu ke WA group para imam-religius asal Paroki Ndona, juga ke WA Group  Sepanggilan Ende Lio. Tentu tak lupa ke WA Group keluarga besar saya sendiri, yang nota bene, berasal dari Ndona.

Baca Lainnya :

Isi WA saya itu begini bunyinya, “Pasti ada yang ingat Bruder Alber. Dulu kerja di Keuskupan di Ndona. Pemain bola terkenal dr Kec. Ndona. Beliau wafat tadi di rumah sakit Karitas Weetebula, Sumba barat Daya. Kita doakan beliau….RIP.” Tak lupa saya selipkan foto Bruder Alber. Gagah berjubah bersama P. Danto Meni, SVD.

Sekian banyak yang masih tetap mengenang Br. Albert saat ia masih di Ende. Satu reaksi muncul, “Ya ingat kooo….pemain bola kaki top tuh…kita doakan bruder albertinus.” Ada lagi yang punya lukisan kata, “Ole kraeng ni su pergi tinggalkan kita e.” Dari Ndona muncul komentar, “Aduh kasihan… bahagia di surga Br. Albert.  Masih ingat juga suaranya yang merdu… Tks Br. Albert u pelayananmu selama bermisi di Ndona.” Yang lainnya menulis, “Saya juga ingat. Waktu itu saya masih SDK Ndona 2. RiP bruder. Terima kasih sdh hadir berbagi kasih di tanah Ndona.”

Seorang keponakan menulis di WA group keluarga, “Aduh kasihan… mantan bapak asrama STK Ndona dan sebagai guru jurusan bangunan… selamat jalan Bruder Albert…” Dan saya sendiri? Berita kematian om Bruder memaksa saya untuk ingat-ingat kembali memori di kisah-kisah silam.

Seperti biasa, saat berkunjung ke Distrik SVD Sumba, Bruder pasti jadi teman cerita-cerita. Hebatnya, dia pasti bersedia ceriah dan setia untuk temani saya dengan hiline birunya (mobil). Teringat di satu hari di pertengahan 2013, ketika kami keluar ‘jalan-jalan’ ke pelabuhan Waekelo. Dari Waekelo kami terus ke Pakamandara. Di situ, kata Bruder, ada tempat ziarah dan ada makam imam sulung asal Sumba. Bila saya tak salah ingat namanya Rm Domi Rua Dapa.

Di perjanan hari itu, banyak cerita tentang ini itu dari Bruder. Bruder makin semangat kalau saya umpan bicara tentang ‘bangunan, gedung, rumah, gereja fisik.’ Itulah dunia Br Alber, yang kalau beliau mulai uraikan panjang lebar, saya hanya ‘tanganga saja. Jelas tidak tangkap banyak.’ Saya masih ingat baik, bagaimana saya tanya bruder, “Amang Bruder masih ingat ka saudari sulung saya?”. “Siapa tu?”, tanya bruder. “Mia Beo, Kaka Mia…,” saya sambung. “Iyalah, pasti tu… Dia nikah dengan Polisi Yosef Sari dari Mangarai to?”

Beberapa bruder senior di Ende tempoe doeloe asal Manggarai ingat baik mantan pjs Danres 1521 Ende, Polisi Ande Beo dan polisi Yosef Sari, Dansek Ndona (entahlah KKN ka waktu itu Bapa saya???). Tapi, para imam dan bruder SVD asal Manggarai, termasuk Br. Eras almarhum dan Bapa Bruder Willy Paat waktu itu akrabi orangtua saya. Maklum,  bapa  pernah bertugas sebagai  polisi barisan-barisan awal di Manggarai Raya, dan tahu sedikit bahasa Manggarai. Kisah-kisah masa kecil ini tetap mengental. Saya biasanya kagum kalau Br Eras dan Bapa Br Willy Paat tampil di group musik Fanfare dengan tiupan trompet dan klarinet yang memukau. Apalagi kalau fanfare sudah tampil pada setiap perayaan 17 Agustus (kini fanfare tinggal kenangan).

Teringat tetap Br. Alber, si jago bola dari kesebelasan Kecamatan Ndona. Siang-siang ‘yang masih panas mati punya’ kami ‘ana-ana lo’o’ (anak kecil) sudah ada di lapangan Perse Ende. Mau nonton ‘om burde maen bola lincah ngeri ko’! Di suatu hari ada tanding bola: Kecamatan Ndona vs Kopeta Ende. Penonton membludak. Tapi kami anak-anak tetap lolos untuk nonton. Malah duduk telepo di barisan terdepan. Bruder Alber tampil meyakinkan. Entah Bruder cetak gol atau tidak waktu itu, saya sudah tak ingat lagi.

Sayangnya, pertandingan di hari itu berubah jadi keributan. Abu-abu beterbangan. Batu-batu kerikil mengudara. Akibatnya, pelipis dekat mata kanan saya terluka kena kelikir. Masih berbekas hingga kini. Hadiah dari pertandingan bola kaki di hari itu. Yang bikin ulah macam begini biasanya anak-anak dari Kurubege di wilayah Jalan Irian Jaya atau Jalan Garuda, termasuk kompleks Yodaker itu. Kami anak-anak kolong hingga wilayah Onekore biasanya aman dan tertib (hmmmm).

Saat saya tapak tilaskan kisah seru ini Br. Alber senyum melebar. Ia rasa lucu campur kasihan bahwa tanding bolanya saat itu sudah secara tak langsung ‘buat luka pelipis kanan saya.’ Ada satu nama yang saya sebut, dan buat Br Alber sontak teringat. Namanya Rewe, dia itu pemain belakang hebat sulit tembus memang dari Kecamatan Ndona. Om Rewe itu asal Wolotopo, kampungnya mama saya.  

Kenangan akan sosok Br. Alber, SVD memang terasa ‘hanya itu saja.’ Sekitar kagum akan kehebatannya di lapangan bola. Atau sesekali terlihat kesibukan beliau di Keuskupan dan di Sekolah Teknik Ndona. Sesekali di hari-hari Minggu atau hari Raya, barisan SVD senior itu, syukurlah, tetap kunjungi keluarga. Bercakap-cakap di rumah keluarga dengan orangtua, sudah bisa jadi daya perhatian bagi kami anak-anak untuk ikuti jejak suatu hari ‘bisa pakai jubah juga.’

Saya yakin teman-teman saya seperti Rein Kleden, Stef Lebuan, Eman Weroh, juga Kaé Pater Sebas Hobahana, Abang Rm. Yos Liwu, Kae Rm. Arnol Lajar, Kae Rm. Beni Lalo  dan lain-lain, waktu itu, juga mau ‘masuk seminari, pakai jubah dan mau jadi imam’ karena tertarik juga pada kesaksian hidup para imam dan bruder yang tinggal di Biara Bruder St. Kondradus dan di Biara St. Yosef-Ende.

Saat saya mengenangnya lewat tulisan sederhana ini, jenazah Bruder Alber sudah disemayamkankan di kepela SVD Ruteng, setelah diterbangkan dari Tambolaka-Sumba Barat Daya menuju Ende, diterima sesaat di Biara Bruder St Kondradus-Ende dan seterusnya kole beo (pulang kampung) menuju Manggarai.

Haru ini (16.06.2021), misa di komunitas pukul 17.00.WITENG Pemakamannya, besok, tanggal 17, pukul 0 8.00. Misa dipimpin oleh Rm. Vikjen”. Demikian penyampaian resmi dari P. Simon Suban, SVD-Wakil Provinsial SVD Ruteng.

Selamat Jalan Bruder Alber! Terima kasih untuk segalanya…

Verbo Dei Amorem Spiranti

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment