Sekolah Negeri vs Swasta
Oleh Amandus Klau

By Admin Florespos 11 Sep 2021, 14:17:57 WIB Bentara Net
Sekolah Negeri vs Swasta

Amandus Klau, Dosen Komunikasi STFK Ledalero


Jumat, 3 September 2021, perwakilan Yayasan Persekolahan Katolik di Kabupaten Sikka yang bernaung di bawah Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Maumere melakukan aksi demonstrasi di halaman Kantor Bupati Sikka. Mereka memrotes kebijakan pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO), yang menarik guru-guru PNS dari sekolah-sekolah swasta.

Kebijakan tersebut, katanya, sudah dijalankan sejak dua tahun terakhir. Dan hal ini sangat mengejutkan, sebab kebijakan tersebut pernah dibahas di tingkat provinsi pada tahun 2018 silam, dalam sebuah seminar bertajuk, "Peran Sekolah Swasta dalam Membangun Pendidikan di NTT”. Seminar tersebut diselenggarakan Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) NTT di Kupang, Senin (22/10/2018).

Saat itu, Winston Neil Rondo, Ketua Umum BPMS NTT, menolak keras penarikan guru PNS dari sekolah-sekolah swasta. Selain itu, ia meminta pemerintah memperhatikan kuota sertifikasi guru di sekolah-sekolah swasta. Minimal, 25 persen guru di sebuah sekolah swasta disertifikasi.

Baca Lainnya :

Dan, menanggapi Winston, Sekretaris Dinas Pendidikan NTT saat itu, Alo Min, berjanji untuk meningkatkan pendampingan dan pembinaan terhadap sekolah-sekolah swasta tanpa mengeliminasi peran pihak yayasan yang mengelola sekolah-sekolah swasta.

Selain itu, Alo juga berjanji untuk menyelenggarakan rapat koordinasi dengan para kepala sekolah se-NTT. Dalam rapat itu, ia akan meminta para kepala sekolah untuk mempromosikan keunggulan sekolah mereka masing-masing, dan mengubah persepsi para orang tua murid bahwa sekolah negeri lebih murah dari sekolah swasta.

Sayangnya, sebelum rencana mulia itu terealisasi di seluruh pelosok wilayah NTT ini, ternyata terdengar kabar menyedihkan bahwa Dinas PKO Kabupaten Sikka, perlahan namun pasti, sedang menggembosi roda pendidikan di Kabupaten Sikka dengan menarik guru-guru PNS dari sekolah-sekolah swasta. Seakan sekolah negeri dan swasta mempunyai tujuan yang berbeda, sehingga perlakuan pemerintah terhadap lembaga pendidikan negeri dan swasta pun tampak sangat berbeda. Padahal, sekolah-sekolah swasta mempunyai peran yang tak kalah pentingnya dalam membangun sumber daya manusia di negeri ini dan di NTT khususnya.

Dampak dari perbedaan perlakuan pemerintah tersebut sangat jelas, bahkan sangat ekstrem. Sekolah-sekolah negeri tampak “maju”, sedangkan sekolah-sekolah swasta terlantar dan merana. Sekolah-sekolah negeri mempunyai tenaga guru, sarana dan prasarana, serta infrastruktur penunjang yang memadai, sedangkan sekolah-sekolah swasta berada dalam kondisi sebaliknya. Hanya beberapa sekolah swasta yang mempunyai tenaga guru serta sarana dan prasarana yang memadai. Tetapi, sekolah-sekolah seperti itu hanya bisa diakses oleh anak-anak dari keluarga yang mampu.

Lantas, akan jadi apa nasib NTT ini ke depannya, kalau generasi mudanya mengalami krisi pendidikan seperti yang terjadi sekarang ini?

Terkesan para pemimpin di NTT belum menyadari pentingnya peran lembaga pendidikan, terutama sekolah-sekolah swasta, dalam meningkatkan SDM masyarakat NTT. Padahal, wajah NTT ini tak bisa dibayangkan, jika dahulu tidak ada sekolah-sekolah swasta yang didirikan Gereja.

Semoga aksi MPK Keuskupan Maumere menyadarkan Pemerintah NTT untuk menghentikan “kejahatan” menarik guru-guru PNS dari sekolah-sekolah swasta. Atau bila perlu menindaklanjuti janji Alo Min dengan mengubah kebijakan anggaran, di mana ada alokasi anggaran untuk memperkuat sekolah-sekolah swasta. Selain itu, dibuatkan Perda Pendidikan yang mengatur dukungan dan perhatian permerintah terhadap sekolah-sekolah swasta.

Dengan cara ini, NTT bisa keluar dari pelbagai persoalan yang dikeluhkan selama ini, karena mempunyai SDM yang berkualitas.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment