Pendidikan Anak Pengungsi Era Pandemi
Oleh Elias Bengaman Making

By Admin Florespos 25 Agu 2021, 07:31:59 WIB Opini
Pendidikan Anak Pengungsi Era Pandemi

Elias Bengaman Making, Guru Kepsek SMPN 1 Ile Ape Timur, Lembata


Sepanjang tahun 2020-2021, Kabupaten Lembata dilanda dua bencana besar yaitu erupsi Gunung Lewotolok dan banjir bandang. Bencana alam yang terjadi di tengah amukan wabah pandemi global Covid-19 itu menelan puluhan nyawa yang meninggal dunia, dan ratusan warga dari Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur “dipaksa” keluar dari kampung halamannya. Banjir bandang dengan data kerugian yang dahsyat itu menggerakkan Presiden Jokowi untuk mengunjungi Kabupaten Lembata. Erupsi Ile Lewotolok dan banjir bandang seolah “melemparkan” warga Ile Ape keluar dari rumahnya. Ribuan pengungsi memadati rumah-rumah keluarga di sekitar Kota Lewoleba dan ratusan lainnya memilih melanjutkan hidup di pondok-pondok di tengah hamparan kebun dan ladangnya hingga saat ini. Risiko kekurangan bahan makanan dan air bersih menjadi kendala utama dana proses penanganan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Lembata dan melibatkan lembaga/tarekat Gereja Katolik dan lembaga swadaya nasyarakat (LSM) lain yang berdatangan ke Lembata di bawah bendera kemanusiaan.

Proses penanganan pengungsi didominasi deretan masalah seperti keterbatasan suplai bahan makanan, abu vulkanik yang menggenangi permukiman, hilangnya rumah atau tempat tinggal, air bersih, jamban dan sebagainya. Pengungsian tentu saja akan menghasilkan banyak masalah baru karena orang “tercerabut” dari akar hidup yang dibangun dalam kurun waktu bertahun-tahun. Bicara tentang hidup pascabencana bukanlah soal yang mudah untuk ditangani hingga tuntas. Pemerintah mesti bersinergi dengan banyak pihak yang atas nama kemanusiaan tergerak untuk “berbagi” kasih kepada para pengungsi. Masalah pengungsi tidak sekadar soal makan, minum, air bersih dan lain sebagainya terkait kebutuhan fisik. Tergusurnya warga dari rumah dan kampung halaman menjadi sebuah persoalan kemanusiaan yang butuh penanganan cukup serius. Warga yang mengungsi mengalami trauma bencana dan danpak psikis ikutan yang sangat menekan jiwanya. Apalagi anak-anak yang dalam usia relatif muda dan lugu mesti menempuh sebuah kehidupan baru yang tidak mudah.

Satu persoalan sangat serius yang menimpa anak-anak adalah pendidikan. anak-anak usia sekolah mulai dari taman kanak (TK, sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) “terlempar” ke rumah warga maupun terdampar di pondok-pondok di tengah kebun. Persoalan pendidikan ini tidak sebatas terkait tuntutan kurikulum negara yang mesti dipenuhi tapi tanggapan konkret atas realitas di depan mata. Anak-anak tentu saja mengalami trauma psikis yang sangat mendalam. Mereka kehilangan ruang belajar, terpisah dari teman dan guru, kehilangan lokasi bermain sebagai sarana sosialisasi diri dan pandangan terkait keberadaan alam lingkungan bagi keberlanjutan hidup. Tambahan lagi, situasi sebagai pengungsi berdampak signifikan pada perkembangan fisik dan kejiwaan anak, khususnya soal gizi dan mental-psikis. Persoalan ini semakin parah dengan fakta bahwa pengungsian ini terjadi di tengah amukan wabah pandemi Covid-19 yang mengharuskan proses dan metode pendidikan baru yaitu pembelajaran jarak jauh dengan sistem online.

Baca Lainnya :

Negara mengambil kebijakan pembelajaran jarak jauh secara online selama masa pandemi karena dunia pendidikan menjadi salah satu dimensi urgen yang mesti mendapatkan perhatian lebih intens. Negara memandang pendidikan sebagai tugas paling utama sekaligus kunci untuk membangun dan berusaha memperbaiki keadaan dunia (Sindhunata, Pendidikan Kegelisahan Sepanjang Zaman, Kanisius: 2001. hlm 1).  Pandemi memaksa kita menata ulang sistem dan proses belajar mengajar tradisional di ruang kelas. Langkah ini dipandang sangat penting karena jika tidak ada persiapan matang sejak awal, maka dimungkinkan akan terjadi loss generation (kehilangan generasi cerdas) atau bahkan education death (kepunahan pendidikan).      

Pendidikan ala Pandemi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran virus Corona. Menurutnya, belajar dari rumah melalui pembelajaran daring memberi pengalaman bermakna bagi siswa, tidak membebani siswa dengan tuntutan kurikulum, variasi sesuai minat dan kondisi, mempertimbangan akses/fasilitas belajar di rumah dan produk belajar bernilai kualitatif.

Regulasi ini membuka akses yang sangat luas bagi komponen pendidikan, khususnya guru, untuk lebih kreatif dalam mengemas materi pembelajaran. Kunci utama adalah kreativitas guru. Kondisi Lembata dengan akses teknologi informasi yang tidak lancar mesti menjadi fokus perhatian. Siswa mendapatkan ruang kebebasan lebih luas yang mesti diisi dengan kreativitas guru sambil memperhatikan sarana, keadaan psikis siswa, dan kemampuan ekonomi orang tua.

Praktik pendidikan di era digital memerlukan inovasi dan kreasi yang terus-menerus sehingga baik guru maupun anak didik tidak mudah mengalami kejenuhan dan kebosanan. Apalagi kondisi anak-anak di lokasi pengungsian yang sarat masalah dalam berbagai aspek kemanusiaan. Pelajaran daring jangan dimaknai sekadar memberikan sekian soal kepada murid untuk dijawab. Jika ini yang terjadi, maka pembelajaran yang membebaskan dan berkarakter akan berhenti pada slogan tanpa pernah diketahui spirit di dalamnya. Oleh karena itu, belajar sesungguhnya tidak pernah berhenti sejak dari dalam kandungan hingga ke liang lahat.

Namun, di samping beberapa kendala yang muncul, terdapat beberapa hikmah yang dapat diperoleh dari pandemi Covid-19. Dengan sistem pembelajaran yang dilaksanakan secara jarak jauh, peserta didik banyak melakukan kegiatan di rumah sehingga dapat mempermudah para orang tua untuk memonitoring anak-anaknya.

Selain itu, dari sisi kreativitas, baik dari tenaga pendidik maupun peserta didik, dalam sistem pembelajaran jarak jauh dituntut untuk berlaku kreatif. Sebagai contoh, tidak sedikit tenaga pendidik membuat materi pembelajaran yang disajikan dalam bentuk video-video pembelajaran. Selain itu, tidak jarang pula pesera didik yang mendapatkan penugasan pembuatan video pembelajaran yang menarik. Ini momen melatih kecerdasan anak dalam memanfaatkan sarana teknologi komunikasi sebagai persiapan menyongsong masa depan. Harapannya adalah pengalaman proses belajar jarak jauh selama ini menjadi modal utama untuk terus membenahi dan memperisiapkan pembelajaran daring yang efektif dan efisien yang lebih baik.

Sinergi

Kita mengharapkan agar tiga komponen dalam pendidikan yaitu guru, siswa, dan orang tua membangun sinergi yang kreatif dalam mengabadikan pendidikan di era pendemi, khususnya anak-anak di lokasi pengungsian. Tentu saja idealisme ini tidak mudah karena gangguan jaringan internet menjadi kendala utama yang belum mendapatkan solusi yang optimal. Guru mesti berperan lebih aktif dalam mebangun komunikasi dengan siswa dan orangtua agar memperlancar proses pendidikan jarak jauh ini. Pandemi ini tidak sekadar bencana global yang ditakuti, tapi sahabat yang akan menantang kita untuk tidak hanya menyerah pada keadaan tapi berpikir lebih kreatif dalam mengupayakan keberlanjutan proses pendidikan bagi generasi masa depan. Khusus anak-anak pengungsi di Lembata, guru mesti menerapkan pendidikan kontekstual yaitu mengakrabkan anak dengan realitas bencana dan bagaimana membangun relasi intim dengan lingkungan sebagai dasar kehidupan. Proses pendidikan mesti berkiblat pada penemuan diri anak akan kenyataan diri dan berusaha membangun kepercayaan untuk maju. Apa pun bencana alam dan wabah pandemi global, proses pembentukan intelektual dan emosional anak tidak boleh terhenti (Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional, Gramedia, Jakarta, 1997, hlm. 65).*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment