Pariwisata dan Tanah
Oleh Amandus Klau

By Admin Florespos 26 Mei 2021, 08:46:16 WIB Bentara Net
Pariwisata dan Tanah

Amandus Klau, Dosen Komunikasi STFK Ledalero


Keberadaan sejumlah objek wisata di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) telah menarik banyak wisatawan ke sana, baik wisatawan lokal maupun mencanegara. Seakan telah menemukan “surga” di ujung paling barat Pulau Flores itu, banyak orang tampak beramai-ramai bertamasya ke sana.

Arus tamasya ini membuat para pelaku usaha, baik usaha yang bersentuhan langsung dengan dunia pariwisata maupun usaha-usaha penyangga pariwisata, tak segan-segan berinvestasi dan memulai usahanya di sana.

Wartawan Flores Pos Andre Durung pernah menulis, “Investasi di Kabupaten Mabar berupa penanaman modal asing (PMA) dalam jumlah besar semakin banyak karena peluangnya menjanjikan. Apalagi, urusan perizinan juga sudah dipermudah sekarang, karena telah menggunakan sistem Online Single Submission (OSS) atau sistem perizinan yang terintegrasi secara elektronik…Jumlah PMA di Mabar saat ini lebih banyak dari penanaman modal dalam negeri (PMDN). Perbandingannya, 75 PMA : 73 PMDN.”

Baca Lainnya :

Penanaman modal asing terkonsentrasi pada usaha-usaha seperti perhotelan dan restoran internasional, dengan nilai investasi cukup besar. Sedangkan, usaha kecil-kecilan seperti kapal diving dikuasai oleh pengusaha lokal dengan dana kecil-kecilan dari hasil jual tanah. 

Kondisi seperti ini, pada satu sisi, menggambarkan bahwa peluang usaha di Mabar sangat menjanjikan. Tetapi, di sisi lain, ada sesuatu yang terpaksa raib dari tangan masyarakat setempat, yakni tanah.

Tak dapat disangkal, pembangunan hotel-hotel dan restoran berkelas internasional tentu saja membutuhkan lahan yang tak kecil ukurannya. Karena itu, tanah menjadi taruhan kemajuan pariwisata dan ekonomi Kabupaten Mabar. Apalagi urusan perizinan semakin mudah.

“Sejak tahun 2018, urusan izin usaha pariwisata makin dipermudah, karena kita terapkan sistem OSS. Ini sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia (RI) Nomor 24 Tahun 2018 tentang OSS,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPT) Mabar saat itu, Abdurahman.

Gambaran kondisi usaha pariwisata Kabupaten Mabar tersebut, bila diringkas dalam tiga kata, maka kata-kata itu adalah “besar”, “legal”, dan “cepat”. Artinya, usaha-usaha besar bertaraf internasional gampang dibangun di Mabar, karena legalitasnya sangat mudah dan cepat diurus.

“Iklim” ini diciptakan oleh pemerintah, dan tampak sangat penting bagi pengembangan pariwisata dan peningkatan ekonomi daerah. Pertanyaannya, usaha-usaha tersebut dibangun di atas tanah milik siapa?

Jawabannya sudah pasti adalah tanah milik warga Mabar. Hanya saja banyak yang tak tahu, entahkah tanah-tanah itu disewakan atau dijual kepada para pengusaha.

Jika tanah-tanah itu disewakan kepada para pengusaha, maka niscaya masyarakat akan menjadi sejahtera, karena mereka telah menjadikan tanah mereka sumber penghasilan yang tetap dan dapat diwariskan turun temurun kepada anak serta cucu.

Sebaliknya, jika tanah-tanah tersebut dijual, maka sudah pasti masyarakat akan ditimpa masalah serius, karena selain akan kehilangan sumber penghasilan yang tetap, mereka juga akan, perlahan namun pasti, tergusur dari tanah kelahiran mereka.

Dahulu, beberapa wilayah – yang sekarang sudah menjadi ibu kota kabupaten di Flores – ditempati oleh para penduduk pribumi. Tetapi, sekarang, hampir semua penduduk asli tergusur dan tergeser ke wilayah-wilayah pedalaman, bahkan ada yang terpaksa merantau ke luar daerah karena sudah tidak memiliki rumah dan tanah.

Karena itu, ancaman ketergusuran ini perlu disadari oleh masyarakat sendiri dan perlu disikapi jauh-jauh hari secara bijak oleh pemerintah, agar rakyat sendiri tidak menjadi korban kemajuan.

Alih-alih menyejahterakan masyarakat dengan mengembangkan pariwisata, ternyata menggusur dan meminggirkan mereka dari tanah kelahiran sendiri.

Semoga, pandemi Covid-19 yang menghambat laju seluruh dunia usaha saat ini, termasuk pariwisata di Flores, menjadi momen berahmat untuk merefleksikan kembali geliat pembangunan pariwisata, agar pengembangan ke depannya lebih berorientasi pada masyarakat.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.