Nasib para Nakes
Oleh Amandus Klau

By Admin Florespos 26 Jul 2021, 20:38:33 WIB Bentara Net
Nasib para Nakes

Amandus Klau, Dosen Komunikasi STFK Ledalero


Nasib Tenaga Kesehatan (Nakes) bisa dibilang lagi apes. Mereka nyaris kehilangan segala-galanya. Waktu, tenaga, ketenangan batin, keluarga, dan bahkan nyawa sendiri. Wabah virus corona nyaris merenggut semua itu dari diri mereka.

Semenjak jumlah pasien Covid-19 makin bertambah, para Nakes hampir tak bisa menghela nafas selama jam-jam dinas. Setelah selesai menangani satu orang, mereka lanjut menangani yang lain, dan seterusnya menangani yang lain lagi, hingga selesai jam dinas. Volume kerja bertambah, sementara waktu dan tenaga tak bertambah. Mereka bekerja lebih keras dari hari-hari sebelum wabah corona. Dan mereka pasti sangat lelah.

Tetapi, seusai jam dinas dan ingin melepas semua penat tubuh, mereka tak bisa segera pulang rumah. Ada rasa was-was dan takut. Entahkah tubuhnya benar-benar bersih dari virus mematikan itu? Entahkah APD yang dipakainya bisa menjamin dirinya tak tertular?

Baca Lainnya :

Mereka tentu tak bisa mengklaim diri bersih, apalagi merasa nyaman-nyaman saja. Sebab, taruhannya adalah nyawa orang-orang tercinta.

Mereka lalu terpaksa pulang rumah, tetapi dengan rasa yang sangat tak nyawan. Dan ini tentu menguras pikiran dan energi. Sebab, mereka bukan robot. Mereka masih manusia.

Mereka juga tentu pulang dengan rindu, dan ingin memeluk orang-orang tercinta. Tetapi, tak boleh. Mereka lalu jadi tertekan dan frustrasi. Dan ini, sekali lagi, tentu menguras pikiran dan energi, dan sistem imun bisa menjadi semakin merosot.

Sampai pada titik ini, nyawa menjadi terancam. Sebab, jika tertular, virus bisa leluasa berekspansi dalam tubuh, leluasa menggandakan diri sebanyak suka, dan akhirnya merusakkan seluruh sel tubuh dan mencabut nyawa.

Demikian gambaran nasib para Nakes hari-hari ini. Seperti telur di ujung tanduk. Memprihatinkan sekaligus menakutkan.

Tetapi, mengapa mereka tidak segera meninggalkan saja pekerjaan penuh risiko itu? Apakah mereka tidak bisa hidup tanpa bekerja sebagai tenaga kesehatan? Apa untungnya berusaha menyelamatkan nyawa orang lain dengan menggadaikan nyawa sendiri?

Sejumlah deretan pertanyaan bisa ditambahkan. Oleh siapa pun, kalau mau. Hanya saja, aksi mulia para Nakes di medan wabah bukan sekadar perkara aneh, yang bisa menimbulkan sejuta tanya.

Yang aneh dan yang menjengkelkan, yang patut kita pertanyakan tanpa henti, adalah mengapa kita tak bisa menahan diri untuk tidak menyusahkan para Nakes? Mengapa jumlah kita yang tertular makin banyak, padahal semua kita sudah tahu cara menghindari dan mencegah penularan virus itu?

Tingkah laku kita membuat orang-orang waras tak habis pikir. Bahkan, di mata mereka, kita terlihat seperti orang-orang yang tak takut mati. Dan, sialnya, ketika kita hendak mati, kita masih ingin juga menyusahkan orang lain.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini, yang tampak aneh dan bertingkah laku tak masuk akal adalah kita. Bukan para Nakes. Bahkan, ketika mereka berani menggadaikan nyawa sendiri demi keselamatan kita, kita malah jadi tak peduli dengan keselamatan kita. Kita masih suka berkumpul dan bepergian entah ke mana. Dan, setelah tertular, kita menuntut dilayani sebaik-baiknya. Bahkan, tak tanggung-tanggung mengecam para Nakes, dengan alasan mereka dibayar. Memangnya uangmu bisa ditukar dengan nyawa mereka?

Di negeri orang-orang waras, penanganan wabah penyakit seperti Covid-19 ini tak membutuhkan biaya triliunan rupiah. Apalagi menelan banyak korban nyawa banyak dokter dan perawat. Sebab, cukup setiap orang melakukan tindakan pencegahan saja – yang sebenarnya sangat mudah – wabah itu bisa teratasi. Tetapi, apa dapat dikata, jika taraf kesadaran kita masih berada di bawah naluri takut mati?

Marilah belajar takut mati, agar kita tidak lebih banyak lagi menyusahkan orang lain.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment