Masyarakat Ekonomi NTT
Oleh Amandus Klau

By Admin Florespos 29 Mei 2021, 12:50:30 WIB Bentara Net
Masyarakat Ekonomi NTT

Amandus Klau, Dosen Komunikasi STFK Ledalero


Mayoritas masyarakat NTT adalah orang-orang kecil. Mereka tampak tak berdaya dalam hal ekonomi, dan karenanya jarang diperhitungkan. Bahkan, eksistensi mereka dianggap tak lain dari masalah. Hanya kumpulan orang-orang miskin yang harus dibantu.

Nasib mereka pun dianggap tak tentu, dan berharap ada yang bisa menolong. Mungkin Tuhan? Ya, begitulah kata orang-orang sinis. NTT: Nanti Tuhan Tolong.

Tetapi, itu kondisi dahulu. Lain NTT yang sekarang. Atau mungkin kondisi masyarakat NTT yang sebenarnya tak seperti yang diduga selama ini. Hanya saja dipandang terlalu negatif dengan data yang terlalu “miskin”, yang hanya mampu memojokkan sekelompok orang sebagai kaum “miskin”, tetapi menutup mata terhadap segala potensi yang membuat sekelompok orang tak pantas disebut miskin.  

Baca Lainnya :

Contohnya, ada masyarakat NTT yang mempunyai tanah berhektare-hekatare, plus ternak dan tanaman perdagangan di kebunnya, tetapi bisa terdata sebagai orang miskin. Sebab, ketika ditanya berapa pemasukan hariannya atau pemasukannya per bulan, ia menjawab tak ada. Ia baru mempunyai pemasukan saat musim panen. Selain itu, seluruh bahan pangan yang setiap hari diambil dari kebun sendiri tidak pernah “diuangkan” (didata) sehingga tidak pernah disadari sebagai sumber pemasukan.

Atau jangankan keluarga-keluarga di NTT. Lembaga sebesar Seminari Tinggi Ledalero saja pernah selama bertahun-tahun dianggap lembaga yang bergantung. Seluruh biaya hidupnya (100 %) dianggarkan dari Roma, karena lembaga ini adalah lembaga formasi.

Padahal, lembaga ini mempunyai aset seperti tanah yang mempunyai kontribusi finansial yang sangat signifikan. Semua bahan makanan, terutama sayur-sayuran dan buah-buahan yang diambil dari kebun sekitar kompleks seminari tak pernah diuangkan. Banyak orang baru terkejut ketika seorang bruder mencatat dengan tekun dan memberikan taksasi harga sesuai dengan harga pasar. Sebab, setelah dikalkulasi, ternyata pemasukan dari kebun mencapai ratusan juta rupiah per tahun.

Lemahnya kesadaran dan manajemen potensi-potensi keluarga kita seperti tersebut di atas kemudian berdampak pada cara pandang terhadap daerah kita. Kita menutup mata terhadap segala potensi yang ada, dan sebaliknya secara naif mengamini julukan orang terhadap kita sebagai “provinsi termiskin”.

Ini sangat ironis. Tetapi, apa dapat dikata kalau pemimpin-pemimpin daerah kita lebih suka menghitung pemasukan daerah dari usaha-usaha semisal perhotelan, yang secara tetap mendatangkan sayur-sayuran dan buah-buahan serta kebutuhan lainnya dari Jawa, Bali, Bima, dan tempat-tempat lain?

Apa dapat dikata kalau para pemimpin daerah kita hanya menuding masyarakatnya malas dan tak ulet tanpa memberdayakan mereka?

Ini juga adalah sikap dan cara pandang yang ironis. Sebab, besarnya arus migrasi dari NTT ke luar daerah sebenarnya menggambarkan etos kerja yang tinggi dan adanya keinginan yang besar dari masyarakat untuk berubah. Sayangnya, para pemimpin kita hanya melihat ini sebagai masalah, terutama kalau ada yang menjadi korban kekerasan atau human trafficking.      

Tingginya kasus human trafficking beberapa tahun terakhir ini memang merupakan masalah yang memedihkan hati. Tetapi, perlu disadari juga bahwa migrasi adalah bukti perjuangan masyarakat untuk mengubah nasib. Bukti tingginya etos kerja masyarakat. Dan jangan lupa, ini merupakan bukti bahwa mereka mampu hidup tanpa negara. Dan jika tanpa negara saja mereka bisa bertahan hidup, apalagi kalau mereka diberdayakan oleh negara?

Menyadari potensi-potensi daerah yang ada, termasuk etos kerja masayarakat NTT, maka tugas pemerintah NTT sekarang adalah membentuk Masyarakat Ekonomi NTT. Atas koordianasi gubernur, setiap kabupaten membangun daerahnya sesuai potensi dan keunggulan yang dimiliki, lalu saling mengisi satu sama lain agar NTT berhenti mengimpor bahan-bahan kebutuhan pokok (yang sebenarnya bisa dihasilkan sendiri) dari luar NTT. Dan dengan ini pula, kehidupan ekonomi keluarga-keluarga di NTT akan menjadi lebih baik.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.