Makna Natal

By Admin Florespos 19 Des 2020, 12:13:58 WIB Kolom
Makna Natal

Oleh Silvester Ule

Perayaan Natal sebentar lagi tiba. Misteri inkarnasi dirayakan dalam Natal. Allah menjelma jadi manusia. Suatu peristiwa besar dalam sejarah manusia. Meminjam gaya bahasa kaum kiri: “Ini revolusi di atas semua revolusi”.

Tidak ada yang tahu pikiran Allah dalam misteri inkarnasi. Hanya Allah yang tahu tentang Allah; dan hanya Allah yang menjelma yang tahu tentang kodrat Allah. Namun, kita dapat meraba-raba rencana-Nya dengan akal budi yang terbatas, juga dengan sebentuk wahyu yang sudah diungkapkan, yang terus terpelihara dalam sejarah.

Baca Lainnya :

Mungkin analogi sederhana ini bisa dipakai. Kita andaikan saja bahwa ikan punya sebentuk pengertian, dan ikan hidup di lautan, serta tidak akan tahu tentang suatu kota yang indah, karena dimensi air dan darat berbeda. Bagaimana membuat ikan dapat tahu akan adanya kota ini? Jika seseorang dari kota ini dapat jadi ikan dan bicara dalam bahasa ikan.  

Demikian pula halnya bagi manusia. Manusia punya kerinduan dasariah akan kebahagiaan paripurna dalam “Kota Allah”, namun “Kota Allah” adalah misteri dalam dimensi berbeda. Tidak ada yang tahu tentang “Kota Allah”, jika tidak ada utusan dari sana yang memberitahukannya.

Namun sekarang bukan hanya utusan dari “Kota Allah” yang datang, namun pemilik “Kota Allah” sendiri, Allah yang menjelma jadi manusia untuk mewartakan “kabar gembira” tentang “Kota Allah”. Natal adalah perayaan “kabar” gembira” tentang Allah yang menjelma. “Pada mulanya adalah Firman, dan Firman bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Oleh sebagian manusia, Ia adalah guru agung, namun sebagian besar kisah-Nya mengungkapkan Ia adalah Allah. “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (Yoh. 13:13).

Dalam sejarah filsafat, para filsuf Yunani bicara tentang “logos” (kata, firman, sabda, atau pikiran, atau representasi diri dari yang ilahi). Plato bahkan menciptakan gambaran tentang dunia Idea atau “Logos“ yang telah ada dahulu sebelum tiruan kabur darinya ada di dunia. Namun, anggapan Plato oleh Alfred North Whitehead dikoreksi sebagai sebentuk “kesalahan representasi dari hal konkret” (the fallacy of misplaced concreteness). Jika Plato membayangkan ada Idea atau “logos” sempurna sebagai sumber tiruan pucat dari segenap benda konkret yang terbatas, namun Kristus bukan merupakan referensi imitasi hal ikhwal; Ia adalah “Logos” pencipta dari segenap hal ikhwal.

Dalam sejarah dunia, ada begitu banyak orang yang dikenal menawarkan sesuatu yang besar dan baru seperti Sokrates dan Confusius, sesuatu yang dapat membawa manusia pada dunia baru. Ada pula yang dianggap sebagai nabi-nabi besar seperti Abraham atau Musa, yang menjadi bapa bangsa dan pembawa kebebebasan bagi Israel dan bangsa-bangsa. Namun, semua yang dianggap besar, atau bahkan nabi-nabi besar, tidak pernah diwartakan sebelumnya. Para nabi pun hanyalah manusia yang dipilih Tuhan. Justru salah satu tugas kenabian mereka ialah meramalkan dan mempersiapkan jalan bagi Mesias yang akan datang, seperti tugas nabi Yesaya, Elia, atau tugas Yohanes Pembabtis. Para nabi meramalkan, mewartakan, dan mempersiapkan jalan bagi Kristus, karena Kristus bukan sekadar nabi; Ia adalah Tuhan. Sulit dibayangkan seorang nabi mewartakan jalan bagi nabi lain, atau malaikat mempersiapkan kedatangan malaikat lain. Para nabi dan malaikat mewartakan dan menyembah hanya Tuhan; dan Kristus yang mereka wartakan dan ramalkan adalah Tuhan.

Dalam narasi tiga Majus dari Timur, digambarkan tiga orang bijak yang mengikuti bintang yang menuntun mereka kepada Mesias yang lahir di Betlehem. Tentu saja tindakan mereka tidak lahir dari kekosongan; sudah ada pelbagai narasi dan ramalan tentang kedatangan juru selamat, bahkan dalam kebudayaan yang belum mengenal Kristus.

Fulton Sheen, dalam “The Life of Christ”, mencatat pelbagai ramalan atau kesaksian, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam kebudayaan-kebudayaan pagan, tentang pribadi Yesus. Dalam tradisi di luar kebudayaan Yahudi, Tacitus (seorang sejarahwan Romawi) menulis tentang orang-orang yang percaya akan penglihatan para peramal kuno, bahwa Timur akan bangkit, dan dari Yudea akan datang Tuan dan Penguasa dunia. Suetonius menggambarkan ramalan kuno tentang kekuasaan tertinggi dari bangsa Yahudi. Di China juga terdapat kepercayaan akan munculnya Orang Bijak di Barat (dari perspektif geografis China). Dalam “The Annals of the Celestial Empire”, terdapat tulisan: ”Pada tahun ke-24 pemerintahan Tchao-Wang (1029 SM) dari dinasti  Tcheou, pada tanggal 8 bulan ke-4, suatu cahaya muncul di     Barat  Daya yang menerangi istana raja. Sang raja, tertegun oleh kegemilangannya, menginterogasi orang-orang bijak. Mereka menunjukkannya catatan di mana keanehan ini menandakan munculnya orang Kudus Agung dari Barat, yang agamanya diperkenalkan pada bangsa mereka”, dan sebagainya.   

Dalam tradisi Yahudi, terdapat pula pelbagai ramalan tentang kelahiran Mesias yang ibunya tetap perawan (Septuaginta orang Yahudi Alexandria), atau ramalan nabi Yesaya tentang penyelamat yang akan menderita sengsara demi keselamatan umat-Nya, dan pelbagai ramalan lain dalam Perjanjian Lama, yang semuanya terpenuhi dalam hidup dan ajaran Yesus.

Dengan demikian, Yesus bukan hanya nabi di antara nabi lain; Ia adalah Mesias atau penyelamat, yang merupakan puncak kerinduan pelbagai bangsa. Natal, dengannya, merupakan perayaan keselamatan; perayaan manifestasi dari pelbagai kerinduan akan keselamatan.  

Dalam tiap perayaan Natal, sering dipersoalkan tanggal kelahiran Yesus. Apakah kelahiran Yesus tanggal 25 Desember berakar dari perayaan kaum pagan, yaitu penghormatan terhadap “Sol Invictus”, dewa matahari yang tak terkalahkan, yang ditetapkan pertama kali oleh kaisar Aurelianus pada tahun 274 M? Jika demikian halnya, tetap muncul soal, sebab pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 204 M, ada contoh tulisan Hyppolytus dari Roma, yang dalam tulisan itu “Komentar Terhadap Kitab Daniel” sudah mengungkapkan bahwa Yesus lahir di Betlehem pada tanggal 25 Desember. Berdasarkan perkiraan pribadinya, Yesus lahir sembilan bulan sesudah hari penciptaan, dan dunia dianggapnya diciptakan pada “Ekuinoks Vernal” atau “titik musim semi matahari” yaitu pada tanggal 25 Maret, yang berarti Yesus lahir sembilan bulan sesudahnya yaitu pada tanggal 25 Desember.

Tentu saja ini sekadar spekulasi dari hal yang tidak terlalu jelas dengan sendirinya, karena tidak ada karya jurnalistik pada masanya yang mencatat kelahiran Yesus. Kalender Masehi pun ditetapkan kemudian berdasarkan perkiraan dimulainya tahun kelahiran Yesus sendiri. Kemungkinan bahwa perayaan Natal tanggal 25 Desember sudah menjadi tradisi dalam Gereja jauh sebelum penetapan kaisar Aurelianus atas “Ulang Tahun Matahari Yang Tak Terkalahkan” (Dies Natalis Solis Invicti), boleh jadi menunjukkan bahwa tradisi pagan justru dipengaruhi tradisi Kristen.

Namun, jika orang mati-matian beranggapan bahwa tanggal Natal diadopsi dari perayaan Dewa Matahari, maka tidak jadi soal juga sebenarnya. Itu berarti bahwa orang-orang Kristen awal telah berhasil “mengkristenkan” suatu perayaan pagan. Dalam perayaan “Sol Invictus”, terdapat simbol yang diyakini bahwa terang kini mengalahkan kegelapan. Simbol tersebut tetap merupakan suatu kepercayaan kabur, yang lahir baik oleh kekuasaan politis Aurelianus, atau oleh kepercayaan mistis magis kaum pagan. Namun, dalam Kristus, terang sejati telah datang secara riil, mengalahkan kegelapan dosa dan kematian. Di sini, sebenarnya makna yang dihayati kaum pagan secara abstrak diubah dengan kehadiran dan peristiwa konkret Kristus. Paganisme seakan meninggalkan jejak kerinduan yang menghantar orang pada yang ilahi, sementara Kristus merupakan pemenuhan konkret dari kerinduan akan kehadiran Yang Ilahi.    

Gaya yang sama sebenarnya sudah dilakukan oleh Paulus terhadap orang Yunani di Aeropagus. “Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis. 17:23). Jadi, pelbagai kepercayaan kaum pagan adalah suatu kerinduan dasariah manusia pada Yang Ilahi, yang belum dikenal, dan Allah memperkenalkan diri secara definitif dalam Kristus. Dan tugas orang Kristen awal ialah menghantar orang yang merindukan yang ilahi tanpa mengenal-Nya, kepada pengenalan kepada sosok Yang Ilahi yang menjelma dalam Kristus. “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kami wartakan”.

Dengan demikian, jika tanggal perayaan Natal dianggap diambil dari tanggal perayaan “Dewa Matahari Yang Tak Terkalahkan”, maka hal tersebut justru punya makna simbolik yang mendalam: bahwa Kristus adalah         “Matahari Ilahi Yang Tak Terkalahkan”, bukan seperti dewa/dewi kabur dalam mitos pagan, namun hadir secara riil dalam sejarah. Jadi, di sini suatu kebudayaan mitis magis kaum pagan telah disempurnakan, dikoreksi, dan diberi makna positif yang baru. Sebagaimana para bapa Gereja menggunakan daun bercabang, atau benda-benda natural untuk menjelaskan makna Trinitas, misalnya, demikian pula simbol matahari yang tak terpadamkan justru positif untuk menjelaskan kebenaran Kristus sebagai Allah      yang berinkarnasi, seumpama “Matahari Tak Terkalahkan”.

Jadi, apakah tanggal ini berasal dari tradisi pagan, atau secara lebih historis kaum pagan justru mengikuti tradisi Kristen, ataukah kedua-duanya tidak berhubungan sama sekali, semuanya tetap tidak punya makna yang terlalu penting dalam Natal. Yang paling penting ialah bahwa Allah yang riil berinkarnasi dalam manusia Yesus yang riil, dan Ia menjadi “Matahari Ilahi Yang Tak Terpadamkan” bagi jiwa, yang menghalau dosa dan kematian, dan peristiwa keselamatan ini akan kita peringati secara khusus sebentar lagi dalam perayaan Natal.

Pada akhirnya, Natal kali ini di beberapa tempat didahului oleh Pilkada. Kita pun tahu bahwa perbedaan kepentingan politik bisa memisahkan dan membelah persaudaraan. Namun, jika politik memisahkan kita, kiranya Natal kembali mempersatukan. Jika kepentingan yang berbeda dalam politik memisahkan kita di tanah air dunia, kiranya Natal mempersatukan kita dalam kepentingan yang sama  di tanah air surgawi. Jika politik sudah membuat retak dan melukai, kiranya Natal kembali mendamaikan dan menyembuhkan. Selamat Hari Raya Natal.

*) Penulis adalah pegiat Literasi Filsafat Ledalero.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment