Komunitas Chicago
Oleh Amandus Klau

By Admin Florespos 08 Agu 2021, 09:21:32 WIB Bentara Net
Komunitas Chicago

Amandus Klau, Dosen Komunikasi STFK Ledalero


Di Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, ada sekelompok anak muda yang menyebut komunitas mereka “Chicago”.

Apa alasan mereka memilih nama itu dan apa makna di balik nama itu, hanya mereka yang tahu. Banyak orang belum mengetahuinya.

Tetapi, kiprah mereka sungguh nyata, dan kini menjadi buah bibir masyarakat.

Baca Lainnya :

Selasa, 3 Agustus 2021, komunitas ini menjadi fokus sorot perhatian masyarakat Kabupaten Ngada. Di hadapan Bupati Andreas Paru di Posko Penanganan dan Pencegahan Covid-19 Kabupaten Ngada, anggota Komunitas Chicago mendemonstrasikan hasil inovasi mereka terkait penanggulangan wabah Covid-19.

Hasil inovasi itu berupa sebuah “bilik sterilisasi”; suatu terobosan penerapan teknologi dalam mengurangi penularan Covid-19.

Dengan bilik itu, banyak orang, baik tenaga kesehatan maupun masyarakat umum, dapat disterilisasi secara lebih efektif. Sasaran sterilisasi bukan hanya tangan, tetapi juga seluruh tubuh. Selain itu, semua orang yang akan disteril tidak perlu lagi bersentuhan dengan benda apa saja, yang mungkin menjadi penyebar virus corona.

Sedangkan, dari segi efisiensi, adanya “bilik sterilisasi” yang dilengkapi dengan peralatan teknologi canggih itu dapat membantu mempercepat proses sterilisasi, serta mengurangi tenaga petugas yang sebelumnya cukup banyak dan berjaga hampir 24 jam sehari.

Dalam bilik itu, terdapat sensor otomatis yang dapat membaca pergerakan keluar masuk manusia, juga terdapat 8 nozel penyemprot cairan yang juga bekerja secara otomatis. Durasi penyemprotan di dalam bilik adalah 10 menit. Tetapi, proses ini bisa diatur lebih cepat atau lebih lama.

Pembuatan “bilik sterilisasi” berbasis teknologi ini, kata Ketua Komunitas Chicago, Rino Nawa, bertujuan membantu Pemerintah Kabupaten Ngada mengatasi wabah Covid-19. Apalagi, jumlah kasus positif Covid-19 di Kabupaten Ngada terus meningkat secara signifikan.

Menanggapi presentasi dan demonstrasi hasil inovasi Komunitas Chicago, Bupati Ngada Andreas Paru mengaku sangat mengapresiasi kreativitas dan inovasi kaum muda Ngada. Bahkan, ia dengan bangga mengatakan bahwa di masa pandemi seperti sekarang ini, pemerintah sangat membutuhkan inovasi kreatif seperti yang dihasilkan Komunitas Chicago. Karena itu, ia berharap agar kelompok kaum muda yang lain bisa meniru teladan Komunitas Chicago.

Tapi, apakah respons seorang bupati seperti ini sudah cukup? Jawabannya, tentu saja, “tidak”. Seorang pemimpin tidak bisa hanya bersikap dan bertindak normatif. Ia justru harus membaca kiprah kaum muda tersebut sebagai potensi pendekatan gerakan, yang sebenarnya lebih tepat diterapkan untuk mengatasi masalah seperti wabah Covid-19 ini.

Dengan melihat aksi dan hasil kreasi Komunitas Chicago, Bupati seharusnya segera sadar untuk merangsang daya kreasi dan inovasi seluruh komponen masyarakat, agar semuanya, dengan cara, daya kreasi, dan hasil inovasi yang khas, bersatu memerangi wabah Covid-19.

Dengan melihat potensi kaum mudanya yang seperti ini, seorang bupati harus berani mengubah pendekatan programatik yang diturunkan secara seragam-paksa dari pusat, yang telah menghabiskan banyak anggaran, tetapi hasilnya tetap penerapan pembatasan kegiatan masyarakat yang nyaris tanpa akhir. PPKM terus diperpanjang, dan terus naik level pula. Miris.

Para pemimpin, mulai dari level paling atas hingga ketua RT/RW, sebenarnya dipilih dan digaji untuk menggerakkan potensi dan mempertajam peran setiap anggota masyarakat. Bukan sebaliknya menjadi pemain tunggal, apalagi pemain tunggal yang seolah-seolah bekerja hanya untuk mendapatkan bukti administratif agar bisa mencairkan anggaran program.

Semoga kehadiran kelompok-kelompok kreatif-inovatif seperti Komunitas Chicago Bajawa membuka mata pemerintah untuk segera mengevaluasi pendekatan programatiknya dan menggantinya dengan pendekatan gerakan. Pendekatan programatik sudah tidak tepat untuk negara sebesar Indonesia. Semakin besar satu keluarga, harus serentak berarti semakin banyak pula orang yang bekerja untuk hidupi keluarga itu. Jika tidak, sedikit orang yang bekerja itu hanya akan mati kecapaian tanpa hasil.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment