Kisah Agus Deok Menyimpan Bendera Merah Putih Selama 48 Tahun
Penulis: Albert Harianto/Editor: Anton Harus

By Editor Florespos 15 Agu 2021, 21:23:24 WIB Feature
Kisah Agus Deok Menyimpan Bendera Merah Putih  Selama 48 Tahun

Agustinus Deok menunjukkan Bendera Merah Putih yang telah disimpannya selama kurang lebih 48 tahun di Heso-Manggarai Timur, Minggu (15/8/2021).


Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ( HUT RI) setiap tanggal 17 Agustus merupakan momen istimewa bagi seluruh masyarakat. Aneka kegiatan dilakukan, seperti membuat dan merapihkan pagar, memasang umbul-umbul, menghiasi rumah, memasang bendera di setiap rumah hingga perlombaan.

Dua tahun ini atau sejak pandemi virus Corona menyerang dunia, termasuk Indonesia sedikit berubah. Hanya membuat pagar, memasang umbul-umbul, menghiasi rumah, memasang bendera.

Baca Lainnya :

Tidak ada kegiatan meriah dalam merayakan HUT Kemerdekaan RI dalam dua tahun ini. Meski begitu semangat kemerdekaan dan nasionalisme, tetap terpatri dalam diri setiap anak bangsa.

Semangat itu dialami dan dirasakan Agustinus Deok (68), warga Kampung Heso, Desa Golo Wune, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Ketika Florespos.net bertandang ke rumahnya, Minggu (15/8/2021), Agus Deok menunjukan sebuah Bendera Merah Putih yang disimpannya selama 48 tahun.

Agus Deok mengatakan, Bendera Merah Putih miliknya itu tidak hanya disimpan sebagai kenangan, tetapi memberi arti  lebih dalam memaknai kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan nyawa para pahlawan. Kini, bendera itu tidak lagi dikibarkan saat HUT Kemerdekaan.

Agus Deok mengisahkan, Bendera Merah Putih yang ada sekarang merupakan yang kedua setelah bendera pertama dilarang dikibarkan karena ukuran sangat kecil. Ukuran bendera yang pertama 60 cm X 90 cm. Untuk bendera yang ada saat ini ukuran 90 cm x 120 cm.

Kata Agus Deok, Bendera Merah Putih itu dibelinya pada tahun 1973. Oleh penjualnya, kain Bendera Merah Putih itu, disebut kain Borneo.

Sebelum memperlihatkan Bendera Merah Putih yang berusia 48 tahun itu, Agus Deok mengajak Florespos.net dan wartawan lain masuk ke kamar. Ia menunjukan Bendera Merah Putih yang simpan di laci lemari. 

Bendera Merah Putih dibungkus dengan rapi menggunakan plastik. Agus Deok lalu membersih debu dan kotoran yang menempel pada bungkusan bendera tersebut.

Setelah membuka bungkusan, Agus Daek mencium dan membentangkan Bendera Merah Putih itu. "Anak, ini warnanya sudah pudar, kusam, mungkin karena sudah tua," katanya.

Menurut Agus Deok, bendera itu dibeli di Toko Karya di Kota Ruteng. Untuk mendapatkan bendera di Kota Ruteng 48 tahun silam, bukanlah pekara mudah. Untuk bisa sampai di kota Ruteng butuh perjuangan.

Agus Deok harus menempuh perjalanan panjang  dengan berjalan kaki hampir 7 jam lamanya. Dari kampung berangkat pukul 05.00 Wita hingga kembali ke kampung  pukul 15.00 Wita. Jalur jalan biasa dilalui ketika itu mulai Heso-Wae Wake-Timung Wohe, Satar Tacik hingga Kota Ruteng demikian juga sebaliknya. Jalan panjang ini memiliki sejarah tersendiri bagi Agus Daek, makanya ia menyimpan bendera hingga sekarang.

"Kalau pakaian lain mungkin gampang diganti, ikuti trend mode, namun bendera akan tetap seperti itu. Saya memutuskan untuk menyimpan rapi bendera itu di lemari," katanya.

Pria kelahiran Heso 1 Juli 1953,  itu mengatakan, membawa bendera dari Ruteng sangat hati-hati karena saat itu bendera mesti diperlakukan dengan baik. Bendera tidak boleh kena hujan, apalagi saat itu belum ada tas seperti sekarang. Bendera disimpan dalam kantong kresek, makanya mesti ekstra hati-hati.

Dalam perjalanan pulang ke kampung dirinya sempat ditahan di Kampung Timung.

"Saya dicegat oleh pihak kedaluaan,(aparat pemetintah saat itu) dan memeriksa semua barang bawaan. Setelah melihat ada bendera, mereka tidak jadi tahan saya," katanya.

Dia mengatakan, di masa lalu semua warga wajib mengibarkan Bendera Merah Putih di setiap rumah. Pengibaran bendera tidak hanya menjelang  HUT Kemerdekaan, tetapi bendera dikibarkan selama bulan Agustus. Aparat Desa dan RT lakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah mengecek warga yang tidak memasang bendera.

Agus Deok mngatakan, harga bendera sendiri saat itu  Rp5.000 termasuk dengan tali. Ukuran bendera harus sama sehingga saat pasangan sangat rapi. Tiang bendera tinggi mencapai 7 meter dengan ukuran bambu yang besar. Tidak seperti bambu yang digunakan sekarang yang kecil. Untuk di kampung Heso sendiri pihaknya yakin masih banyak warga yang menyimpan Bendera Merah Putih.

Suami dari Sisilia Jehina itu mengatakan, pada zaman Presiden Soekarno sekitar 1956, Heso  masih disebut desapraja.

Baru pada tahun 1979 ada perubahan istilah desapraja menjadi desa. Dengan sistem pemerintahan desa yang terdiri dari kepala desa, sekretaris desa dan kepala dusun," kata mantan ketua RT desa Lenang yang menjabat puluhan tahun tersebut.

Sebelum Desa Golo Wune mekar dari Desa Lenang  dengan kades pertama desa Lenang Herman Ngahar dan selanjutnya kepala desa Klemens Ketas semua wajib memiliki Bendera Merah Putih.

"Setiap bendera yang dipasang wajib menggunakan tali," kata Agus Deok.

Pada zaman dulu selain bendera yang wajib dipasang, setiap rumah wajib membuat pagar depan rumah lalu dicat. Suasana menjelang HUT Kemerdekaan RI sangat terasa.

Agus Deok mengaku, ia tidak ingat persis kapan terakhir mengibarkan bendera merah putih. Namun kondisi bendera yang telah disimpan puluhan tahun dan tidak pernah dikibarkan itu masih baik.

Pada HUT RI ke -76 tahun 2021 bendera kembali dikibarkan di halaman rumahnya dengan keadaan bendera tetap utuh dengan warna sedikit kusam.

"Semoga semangat Kemerdekaan Indonesia terus dikibarkan.  Selamat HUT RI ke-76," kata Agus Deok.*




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment