Kebebasan

By Admin Florespos 28 Nov 2020, 11:37:08 WIB Kolom
Kebebasan

Oleh Silvester Ule

Salah satu kata sakral dunia modern ialah kata “kebebasan”. Di negara yang mengaku dirinya beragama, kebebasan dalam demokrasi sering dipergunakan sebagai peluang persekusi dan intimidasi. Sementara itu, di negara sekular, kebebasan menjadi kata kunci untuk melakukan kehendak pribadi tanpa ikatan.Namun, apa makna kebebasan sesungguhnya?

Ada sekurang-kurangnya tiga jenis kebebasan. Jenis pertama, kebebasan dipahami untuk merdeka melakukan apa yang seseorang suka, bebas untuk berbuat apa saja, asalkan “bisa” dibuat. Banyak orang mencintai kebebasan, manakala kebebasan dipahami sebagai tidak adanya halangan melakukan apapun yang disukai. Jika Yesus katakan “kebenaran akan membebaskan kamu”, maka orang modern justru beranggapan bahwa “kebebasan yang menciptakan kebenaranmu sendiri”. Jadi, persetan dengan kebenaran, karena pada akhirnya orang bebas menciptakan kebenarannya sendiri-sendiri, seturut rasa dan hasratnya masing-masing. Orang bebas melakukan apa yang bisa ia buat.

Baca Lainnya :

Namun, tentu saja kebebasan ini adalah kebebasan yang palsu. Seekor komodo “bisa” memburu mangsanya, dan ia “bebas” melakukannya berdasarkan kodrat kebinatangannya, namun kita tidak memasukkannya dalam kategori kebebasan manusiawi. Bahkan, seorang manusia “bisa” membakar rumahnya sendiri, atau meracuni seisi rumah, namun tidak berarti bahwa ia “boleh” melakukannya. Dalam ungkapan Chesterton: “Berhak melakukan sesuatu, sama sekali tidak berarti benar (kalau) melakukannya”(ungkapan asli terasa agak puitis: “To have a right to do a thing is not at all the same as to be right in doing it).

Sebagai reaksi terhadap kebebasan jenis pertama, terdapat ekstrem kedua, di mana kebebasan dipahami sebagai hak untuk membuat apa pun yang Anda “wajib” buat. Jika yang ditekankan dalam kebebasan pertama adalah kecenderungan berbuat sesuka hati, maka yang ditekankan kebebasan jenis kedua adalah kewajiban absolut. Jika kebebasan pertama bermaksud menekankan hak absolut individu, kebebasan kedua justru bermaksud mengeliminasi hak absolut individu. Kebebasan jenis kedua ini adalah ideologi komunis, yang dipraktikkan Lenin dan Stalin. Engels, yang bersama Marx menulis “FilsafatKomunisme” berkata: “Batu bebas jatuh karena ia wajib menaati hukum gravitasi”. Tentu gambarannya tentang hukum alam sangatlah tepat. Soalnya ialah bahwa ia menyamakan batu dan manusia dalam masyarakat dengan menganggap bahwa individu wajib mematuhi hukum sang diktator, dan dengannya ia bisa bebas dalam negara komunis. Kebebasan ini juga sebentuk ideologi atau kesadaran palsu.

Terhadap dua ekstrem itu, terdapat kebebasan jenis ketiga yang autentik: bebas berarti melakukan yang “mesti” atau “seharusnya” dilakukan. Terhadap kebebasan tanpa batas jenis pertama, orang diingatkan bahwa kebebasan yang sejati berarti melakukan hal yang sejalan dengan tatanan moral. Kenyataan bahwa kita “bisa” bebas memfitnah, atau kita “bisa” membakar rumah kita tidak dengan sendirinya berarti bahwa kita “boleh”melakukannya. Kebebasan manusiawi selalu diikat dengan tanggung jawab etis: kita bebas, namun kita juga “mesti” bertanggung jawab.

Terhadap kecenderungan absolut untuk memaksakan hukum di bawah hukum diktatorial, maka kebebasan autentik menganjurkan sebentuk kebebasan individu di hadapan moralitas, tujuan, atau hukum universal, bukan berdasarkan kehendak dan paksaan sang diktator. Kebebasan autentik tidak menganjurkan orang “wajib” secara absolut, namun menganjurkan bahwa orang “mesti”. Kata “wajib” meniadakan segenap pilihan, namun kata “mesti” atau “seharusnya” mengandaikan pilihan, namun pilihan tersebut bukan seturut suka, melainkan berdasarkan tanggung jawab akan tatanan moral.

Dengan ini, tampak bahwa kebebasan selalu bersifat kondisional dalam dua cara. Pertama, kebebasan selalu mengandaikan tanggung jawab, tatanan atau hukum. Tidak ada kebebasan “dari” hukum. Yang ada hanya kebebasan “di dalam” hukum, baik hukum kodrat, sipil, manusiawi, maupun hukum ilahi. Dalam ungkapan Chesterton: ”Apa yang kita sebut sebagai emansipasi selalu dan semestinya hanya sekadar pilihan bebas jiwa antara seperangkat batasan dan batasan yang lain”. Kebebasan yang memerdekakan dengannya selalu mengandaikan batasan dan hukum, karena tanpa moralitas dan hukum, yang terjadi hanyalah sekadar anarki.

Kedua, karena kebebasan selalu tidak lepas dari ikatan hukum kodrat atau hukum manusiawi, atau hukum ilahi, maka orang kiranya bebas dalam “pilihannya”, namun orang tidak mungkin bebas dari “konsekuensinya”. Saat sebelum ujian, seorang pelajar, misalnya, tentu “bebas” memilih untuk belajar atau bermain “game online” sampai larut. Namun, hasil akhir dari pilihannya tidak pernah bebas; belajar membuatnya berhasil dalam ujian, bermain game sampai larut pasti membuatnya mengantuk sepanjang hari. Atau seorang biarawan bebas untuk mengabaikan hidup rohaninya berupa doa, ekaristi atau pelbagai devosi  dan aktivitas karitatif yang perlu bagi jiwanya. Ia tentu bebas berbuat demikian, namun ia tidak akan bebas dari kekeringan rohani.

Secara politis, di negara kita terdapat orang yang dalam suasana bebas ingin mengusung ideologi yang bertentangan dengan pluralitas. Mereka tentu bebas melakukannya, namun pada akhirnya jika semuanya terlaksana,kita tidak akan bebas dari konsekuensinya, seperti negara-negara yang telah mempraktikkannya, yang hidup dalam permusuhan dan kehancuran.

Dengan ini, bebas tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab, dengan nilai dan makna. Kita sesalkan orang yang mengagungkan kebebasan, atas nama demokrasi, atau atas nama apapun, untuk menghancurkan hidup bersama. Jika bebas berarti bebas bunuh diri atau merusak hidup bersama, maka kita kiranya tidak lagi butuh argumen. Kita mungkin butuh lebih banyak doa, atau secara praktis kita butuh lebih banyak rumah sakit jiwa. *




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.