Jantung Kehidupan Kita Bersama Ialah Ekaristi (Refleksi pada 146 Tahun SVD, 1875-8 September-2021)
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 07 Sep 2021, 19:12:13 WIB Opini
Jantung Kehidupan Kita Bersama Ialah Ekaristi (Refleksi pada 146 Tahun SVD, 1875-8 September-2021)

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Kisah di Palencia, Spanyol, di tahun 1998 itu tetap membekas. Selalu saya share dalam pelbagai kesempatan. Beatrix, guru bahasa Spanyol saya, suatu hari bertanya, “Engkau orang Katolik”? Dengan cepat saya menjawabnya “Ya.” Malah dengan sekian percaya diri saya lanjut, “Saya bahkan seorang imam….” Beatrix cuma tersenyum kecil. Lantas ia lanjut, “Engkau malah seorang imam? Kalau begitu saya mau tanya padamu: Kapan misa itu dimulai?” Dengan enteng saya menjawab, “Ketika saya serukan: Pertolongan kita dalam Nama Tuhan…..” Beatrix terdiam sejenak. Ia lalu lanjut, “Engkau benar-benar seorang imam Katolik…” Dengan tenang ia lalu bilang, “Saya juga seorang Katolik. Untuk saya, misa sudah dimulai sejak ketika saya mendengar lonceng pertama Gereja berbunyi memanggil…..” Iya, lonceng gereja membahana. Teringat lagi lonceng gereja memanggil umat di Paroki Kathedral Ende, yang dibunyikan oleh Om Domi Laku, koster yang sungguh setia sejak kami masih di Sekolah Dasar.

Lonceng Gereja berdentang. Terdengar dari kejauhan. Suara lonceng bahkan menerobos masuk ke ruang batin tersembunyi. Menyentuh pancaindra segenap warga Gereja: “Mari, bangunlah! Bersiaplah. Segera tinggalkan rumah kediamanmu. Bergegaslah menuju Rumah Tuhan. Bersatu dalam kesatuan umat beriman. Merayakan ekaristi. Merayakan iman sambil lantunkan syukur puji pada Tuhan, bersama Imam Agung Yesus Kristus.” Tetapi, adakah ada sesuatu yang menantang di baliknya panggilan mulia itu?

Kini, keseharian hidup terasa penat. Kesibukan memang tak terhindarkan. Tampaknya setiap kita terserap dalam aktivitas penuh bising. Citra dunia post-modern ditandai dengan pekerjaan, produktivitas, keuntungan, serta berbagai dinamika  mata rantai bisnis. Tak ada yang terlalu dipersoalkan saat semuanya ditanggapi sebagai keniscaan zaman. Tetapi, apakah kita mesti pasrah pada kepastian zaman?

Baca Lainnya :

Di sisi lain, di belahan bumi yang ‘di sana’, orang ramai mencari Tuhan. Mereka asyik ‘ramaikan’ perayaan ekaristi (misa). Nyanyian dan tarian membahana. Jarang ada yang melihat jam untuk ‘menggerutu’ bahwa khotbah pastor terlalu lama. Di ‘sana’, tak ada kata bosan dan harus segera pulang. Karena sesudah misa yang (memang) lama itu, toh masih ada himpunan umat yang bercanda ramai di depan dan di samping gereja. Mereka bercerita tentang hasil ladang, dan betapa ganasnya hama babi hutan yang menyerang kebun mereka. Bahkan, mereka bisa juga bercerita tentang betapa kejamnya tindakan-tindakan teror yang terjadi di sana-sini.

Tetapi juga bahwa sang pastor pun tak cepat-cepat pulang. Ia juga masih bertahan di depan gereja. Masih ada umat yang pertanyakan alur khotbahnya tadi. Umat sepertinya menuntut penjelasan tambahan sesudah misa itu. Bahkan, ada umat yang berani ‘protes’ kotbah pastor dengan tambahan versi punyanya sendiri. Suasana jadi ramai. Keakraban terbentuk. Ya, Ekaristi sungguh membangun persekutuan! Satu komunio terbentuk atas dasar satu cita rasa iman, pengharapan dan kasih. Tetapi juga atas dasar rasa kekeluargaan.

Ada pemandangan yang tak kalah asyik. Itu terlihat saat pastor kembali ke pastoran. Ia tak sendiri. Karena mobil pick-up-nya ramai ditumpangi ibu-ibu dan anak-anak yang mujur bisa bergantungan! Pastor memang cukup bijak untuk tak mau membeli atau disumbangi mobil (agak) mewah berdaya muat amat terbatas dan terseleksi. Bayangkan saja. Bukankah hari Minggu, hari raya, adalah hari yang sungguh dinantikan? 

Sementara di belahan bumi ‘sini’? Gedung gereja besar dan megah tampak jadi asing. Ia sepi dari kehadiran umatnya. Tampaknya semua ibadah mesti berlangsung cepat dan bersegera. Khotbah seperti punya standar khusus: apa inti pesannya. Titik! Jangan tambah-tambah yang tak penting-penting kalau hanya sekadar untuk ramaikan suasana.  Orang diburu waktu. Dikejar acara berikutnya. Orang sudah punya janji pasti dengan para relasi lainnya untuk tugas dan pekerjaan yang tak bisa ditunda lagi. Juga, kasihan lagi opa-opa dan oma-oma bila harus bertahan lama dalam gereja. Bagi mereka, khotbah yang pendek saja sudah meletihkan, apalagi khotbah panjang. Belum lagi kalau memang indra pendengaran sudah tak mampu lagi menangkap jelas. Tak perlu ditanyakan ke mana anak-anak seusia remaja. Karena anak seusia ini tak tertarik dengan macam-macam play group sekolah Minggu. Mereka lebih berminat dengan play store. Itulah wajah generasi TikTok kini.

Tetapi juga bahwa ‘gereja liturgis’ harus disegerakan selesainya. Sebab ‘gereja beraroma museum, gereja destinasi wisata’ lagi menanti. Sudah ada  jadwal yang pasti bagi para wisatawan. Ada hal yang tertangkap menarik. Yang kunjungi gereja sebagai wisatawan bisa relakan waktu berlama-lama. Ia bertahan untuk selidiki setiap sudut bangunan gereja untuk mencari apa yang menarik di balik semuanya. Ia berjuang selidiki setiap karya seni dengan latar sejarahnya. Ia susuri setiap arti dari simbol-simbol dalam bangunan gereja. Yakinlah, ia pasti kembali pulang dengan lega jika ia telah temukan arti di balik karya seni itu. Situasi bisa terbalik pada orang yang sepulang misa masih ada  rasa kurang hati. Itu  gara-gara kata-kata Pastor waktu misa tadi sangat terang benderang singgung masalah pribadinya. Minggu berikut sudah ada tanda merah di kalendar untuk tak mau lagi ke gereja. Tetapi, mari kita renungkan Ekaristi (misa) secara lebih jauh.

Bagaimanapun Ekaristi tetap miliki daya sakral tak terlukiskan. Kerinduan untuk berhimpun sebagai umat Tuhan tetap menyata. Manusia tak cuma terbentuk dari aspek fisik-jasmaniah. Ia juga tak hanya miliki daya-daya rohani untuk bernalar dan merasa. Setiap kita manusia terdapat dimensi spiritual. Itulah  unsur konstitutif bagi jati diri seorang anak manusia. Tak mau repot dengan segala kegiatan rohani, dan bahkan merasa diri a-theis sekalipun tak akan pernah sanggup padamkan citra spiritual itu. Tak ada manusia yang hidup tanpa atau bebas nilai. Tak ada jalan hidup yang tak berujung tujuan. Karena tak ada manusia yang tak dibalut oleh kecemasan ‘positif’ untuk bertanya: ke mana tuju aku dalam lembah derita… seperti lirik sebuah lagu misa dalam buku nyanyian Syukur Kepada Bapa.

Bagi Gereja, Ekaristi adalah karakter dasar. Dari Kisah Para Rasul, Ekaristi dihayati dan diungkapkan sebagai identitas dasariah jemaat (Kis 2:42). Melalui anamnesis, Gereja sungguh sadari, “Setiap kali kita makan Roti ini dan minum dari Pialas ini, kita menyatakan iman kita. Wafat-Mu kami kenang, ya Tuhan yang bangkit mulia. Datanglah umat-Mu menanti. Penuh iman dan harapan..” Dalam Ekaristi, setiap jemaat beriman, Gereja, pulang untuk kembali bersumber pada akar sekaligus pokok hidup dan ziarahnya yakni Yesus sendiri. Gereja menjadi kokoh dalam keberakaran pada Sabda dan Tubuh-Darah Kristus.

Menjadi jelas pula bahwa bagi Gereja, umat beriman, Ekaristi adalah Jantung yang berdenyut serentak menjadi tanda kehidupan Gereja. Serikat Sabda Allah (SVD) miliki satu keyakinan dasar akan Ekaristi sebagai Jantung kehidupan bersama. Spirit dan Pedoman Hidup untuk setiap anggota SVD No. 302 tandaskan: “Jantung kehidupan kita bersama ialah Ekaristi. Persatuan kita dengan Kristus bertumbuh secara khusus oleh mendengar firman Allah dan oleh memecahkan roti yang satu yang merupakan persekutuan dengan Tubuh Kristus (cf 1Kor 10.16-18)…”

Lebih dari itu, dalam Roh, Ekaristi membawa persekutuan umat beriman menuju siapa pun manusia. Sabda dan memecahkan roti mendesak Gereja untuk berani berjalan menuju kaum miskin dan sederhana. Menyantap Tubuh Kritus mendesak Gereja untuk keluar menyapa ‘Tubuh Kristus yang lapar, haus, telanjang, orang asing, sakit atau dalam penjara’ (Mat 25:34-36). Dalam Ekaristi, kita bersatu dalam doa dan harapan kepada sesama di dalam situasi tak pasti akibat bencana alam, aneka kekerasan, perang serta  aneka pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Ketika dunia masih dilanda oleh pandemi Covid-19, yang menjerumuskan bangsa manusia dalam ketidakpastian dan kecemasan, Spirit Ekaristi  mesti menjadi kerinduan dan harapan bagi Gereja akan gairah solidaritas. Dalam Ekaristi, Gereja mengalami Roti Kudus yang ‘mudah terpecah’ dan ‘Darah Suci yang tertumpah dan mengalir.’ Yesus Tuhan yang ‘lemah itu’ sungguh bersatu dengan segala kelemahan yang dialami manusia. Di situlah terlahirlah panggilan bagi semua Gereja untuk bersolider bagi yang lemah dan terluka, serentak mengingatkan kita bahwa rapuh, lemah, dan tak berdaya kita.

Akan tetapi, apakah Ekaristi akan berujung pada ketidakpastian? Pada situasi kegelapan tanpa akhir?

“All my springs are ini you”. Segala mata airku ada di dalammu (Mazmur 87:7). Itulah tema Kongres Ekaristi Internasional  yang berlangsung  di Budapest (Hongaria), 5 hingga 12 September 2021. Ekaristi tak cuma menjadi kekuatan bagi Gereja untuk berziarah dalam pelbagai situasi tak menentu. Ketika bangsa manusia harus melewati kenyataan hidup yang mencemaskan, tetapi bahwa dalam Ekaristi selalu terpancarlah dan mengalirlah mata air kehidupan yang datang dari Tuhan sendiri.

Sekali lagi, saat lonceng gereja berdentang memanggil, marilah segera bergegas ke Rumah Tuhan. Di situ, Tuhan menanti. Untuk menyapa, dan lalu memeluk kita. Karena Ia tahu betapa berat jalan yang telah kita lewati.

Verbo Dei Amorem Spiranti 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment