Oleh: Mathildis Amboysa Mamus

ETIKA merupakan norma dasar yang sangat berpengaruh pada pembentukan karakter, dan seperangkat prinsip moral yang menentukan benar atau salahnya perilaku seseorang atau kelompok.

Dengan beretika seseorang bisa tahu mana perilaku yang benar atau mana yang salah, baik atau jahat.

Etika menjadi kode moral perilaku suatu masyarakat, organisasi, indidvidu, kelompok atau negara untuk melindungi nilai-nilai, norma-norma, dan prinsip-prinsip yang membentuk dasar moralitas individu dan masyarakat.

Etika juga mencakup pemikiran tentang keadilan, kebaikan, dan kewajiban moral.

Nilai adalah keyakinan, prinsip, atau standar yang dijadikan sebagai dasar untuk menilai atau menentukan kebaikan, kebenaran, atau kepentingan.

Nilai adalah keyakinan stabil dan bertahan lama tentang apa yang penting dalam berbagai situasi. Nilai-nilai inilah yang dianggap sebagai kekuatan pendorong internal seseorang.

Nilai-nilai mencerminkan keyakinan, preferensi, atau pandangan individu atau kelompok tentang apa yang dianggap penting, baik, atau bernilai dalam kehidupan.

Nilai-nilai dapat bersifat personal, sosial, atau budaya, dan memainkan peran penting dalam membentuk sikap, perilaku, dan keputusan seseorang.

Nilai-nilai juga dapat menjadi landasan moral yang membimbing tindakan individu dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar lainnya.

Dalam konteks nilai dan etika itu, korupsi merupakan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai moralitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pada hakikatnya perbuatan koruptif  itu  merugikan hak orang lain, dan juga rakyat.

Di Indonesia korupsi seolah-olah merupakan hal yang biasa didengar dan  dilihat oleh masyarakat.

Anehnya para pelakunya itu tidak merasa bersalah apalagi malu bahkan sampai bersumpah bahwa dirinya tidak melakukan korupsi.

Dan bahkan korupsi yang dilakukan tidak secara kebetulan, melainkan sudah terencana atau direncanakan dengan matang.

Unsur itu bisa diketahui sejak  tahap proses perencanaan dan awal pelaksanaan anggaran.

Perilaku koruptif pada hakikatnya disebabkan oleh lemahnya mental, moral, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh seseorang.

Mengapa lemah? Hal itu bisa disebabkan oleh  proses pendidikan yang ada. Misalnya pendidikan yang menitikberatkan pada aspek pengetahuan tanpa memberikan porsi yang cukup bagi pendidikan karakter yakni pengembangan aspek sikap, nilai, dan perilaku.

Apa sebenarnya penyebab terjadinya perilaku koruptif? Ada beberapa teori penyebab baik karena pengaruh  faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal terjadi akibat dorongan (pengaruh) pihak luar atau lingkungan.

Dan, faktor internal penyebab korupsi datangnya dari dalam diri peribadi atau individu.

Seperti dikemukakan dengan tepat oleh Budhram, ‘korupsi memiliki dampak korosif yang luas, mulai dari melemahkan demokrasi dan supremasi hukum, hingga menyediakan lahan subur bagi berkembangnya kejahatan terorganisir dan terorisme’.

Ini adalah pusat dari banyak penyakit politik, ekonomi dan sosial di banyak negara.

Dia  hadir di mana-mana dalam aneka bentuk dan cara untuk melakukan tindakan koruptif.

Korupsi adalah tantangan terbesar dalam kehidupan bernegara dan masyarakat. Untuk mengatasinya tidak cukup dengan tindakan hukum, tetapi harus mengacu pada etika dan nilai-nilai.

Unsur etika penting sekali ditanamkan dalam diri siapapun  bahwa korupsi itu merupakan sebagai masalah moral dan penyakit sosial.

Korupsi bukan sekedar persoalan tindakan berstatus hukum melainkan persoalan watak dan karakter pribadi manusia.

Ingin melakukan korupsi, kekuasaan disalahgunakan demi keuntungan peribadi atau penggunaan jabatan publik untuk keuntungan peribadi.

Korupsi sepertinya sulit dihentikan atau diberantas karena terus terjadi dan merasuk ke semua level pemerintahan.

Skandal korupsi dan tuduhan ketidakjujuran pasti mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara  dan pejabat publik.

Akibatnya, muncul sikap apatis publik, termasuk dalam berdemokrasi di suatu negara.

Tindakan korupsi dampaknya buruk terhadap banyak aspek kehidupan publik, juga berdampak negatif terhadap kinerja perekonomian.

Untuk mencegah dan menghilangkan korupsi, maka mutlak itu dibangun etika dan nilai.

Etika dan nilai merupakan kunci dalam mengatasi wabah korupsi. Dengan itu, siapapun bisa memiliki  kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya etika dan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan itu juga terbentuk nilai-nilai positif seperti kejujuran, tanggung jawab, peduli, disiplin, mandiri, berani, kerja keras, sederhana, dan keadilan sebagai landasan dalam  bertindak dan mengambil keputusan.

Untuk itu, perlu memang membina karakter yang kuat melalui pendidikan, pelatihan, dan pembinaan moral untuk membentuk individu yang memiliki kesadaran moral yang tinggi.

Etika sangat diperlukan dalam kehidupan  berbangsa dan bernegara. Tanpa etika kehidupan berbangsa dan bernegara jauh dari kondisi ideal yang diinginkan.

Etika akan membantu seseorang  dalam membuat dan mengambil keputusan yang tepat.

Membangun etika dan nilai mutlak. Dia sebagai landasan moral yang membimbing tindakan individu dalam mengatur hidupnya agar  bertindak secara bertanggung jawab, hidup ke arah yang lebih baik, dan responsif.

Dengan adanya etika dan nilai ini, maka bisa mencegah tindakan koruptif dan hal-hal negatif lainnya.

Semakin kita beretika dan memegang teguh nilai-nilai moral, maka bisa mencegah terus mewabahnya korupsi dan pada suatu titik akan hilang dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. *

Penulis, adalah Mahasiswi STIPAS Santo Sirilus Ruteng, Manggarai, Flores-NTT

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *