Oleh : Sebastianus Torino Sina

KEHIDUPAN manusia yang bermula dari kesederhanaan kini menjadi kehidupan yang bisa dikategorikan sangat modern. Memasuki zaman dimana semua berbasis teknologi mau tidak mau kita harus mengikuti.

Sekarang banyak sekali masyarakat yang mulai aktif menggunakan sosial media sebagai bentuk pemanfaatan teknologi, terutama pada kalangan mahasiswa mungkin media sosial bukanlah hal yang baru bagi mereka.

Seiring berjalannya waktu dan dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin canggih maka komunikasi akan mudah dilakukan oleh-oleh khalayak.

Banyaknya mahasiswa yang memanfaatkan media sosial, dimana dalam sisi positifnya dapat meningkatkan pengetahuan dan sisi yang sebaliknya memberikan pengaruh negatif seperti kurangnya menghargai waktu dan terpaparnya pola perilaku mengikuti apa yang menjadi trend media sosial.

Keberadaan media sosial yang sudah menjadi bagian dari pola kehidupan mahasiswa, sedikit banyak akan memberikan pengaruh dalam pembentukan atau perubahan terhadap identitas diri pengguna media sosial.

Maraknya penggunaan media sosial di berbagai kalangan menunjukkan peran media sosial yang sudah merambah di semua aspek kehidupan khususnya dibidang informasi.

Penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa pada kenyataanya lebih berisiko daripada orang dewasa menurut psikolog Elizabeth Santosa.

Selain itu meningkatnya pengguna situs jejaring sosial yang sebagian besar diantaranya adalah remaja, merupakan fenomena yang berkembang saat ini.

Berakibat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan media sosial ini juga berdampak bagi pengguna. Jiwa remaja yang labil dan emosional sering salah dalam menafsirkan apa yang mereka dapatkan baik dari media massa maupun dari situs pertemanan.

Keadaan yang seperti demikian menjadikan remaja ajang coba-coba apa yang ditawarkan kepada mereka melalui media-media tersebut yang kemudian memunculkan perubahan perilaku baik itu yang positif maupun negatif pada diri remaja.

Di samping itu mahasiswa juga beranggapan bahwa dengan handphone atau smartphone yang dimilikinya akan mampu mengukuhkan identitas diri dengan gaya maupun bersosial media.

Mahasiswa yang berada di fase akhir remaja, dimana nantinya mereka akan berinteraksi dengan masyarakat, keberadaan media sosial ini dapat memberi peran dalam proses pengukuhan identitas diri tersebut.

Hal ini tentunya jauh dari karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa ideal adalah beriman, bersemangat, banyak membaca, waspada, memiliki orientasi yang jelas, bermanfaat bagi orang lain, pandai menyesuaikan diri, berpikir jernih, kreatif, inovatif, disiplin, peduli terhadap lingkungan memiliki cita-cita yang tinggi, berpendirian kokoh, dan rendah hati.

Identitas diri dalam media sosial dapat menjadi cair dan berubah-ubah. Perangkat di media sosial memungkinkan siapapun untuk menjadi siapa saja, bahkan bisa menjadi pengguna yang berbeda sekali dengan realitanya, seperti pertukaran identitas kelamin, hubungan perkawinan sampai pada foto profil.

Media tidak lagi menampilkan realitas, tetapi sudah menjadi realitas tersendiri, bahkan apa yang ada di media lebih nyata (real) dari realitas itu sendiri.

Dalam penggunaan sosial media tersebut, mahasiswa sering mengesampingkan waktu dan tempat dalam pemakaian sosial media.

Penggunaan media sosial disesuaikan dengan fungsinya yang positif, meski terkadang dibukanya akun-akun negatif, dimana masing-masing mempunyai peran dan fungsinya sesuai dengan kepribadian masing masing mahasiswa.

Perubahan perilaku mahasiswa terkait penggunaan media sosial tidaklah terlalu besar pengaruhnya, mengingat penggunaan media massa tersebut sudah dilakukan untuk jangka waktu yang lama.

Media Sosial dapat dimaknai sebagai alat penghubung modern yang dapat menghubungkan antar individu di berbagai belahan dunia, meskipun jejaring sosial memiliki segelintir pengaruh positif terhadap kelakuan individu/seseorang.

Namun perlu diingat, jejaring sosial ternyata mempunyai lebih banyak sisi/pengaruh negatifnya terhadap seseorang, hingga dapat mempengaruhi seseorang bertingkah di luar batasan orang normal, seperti pamer perjalanan wisata, pamer kecepatan speedometer, memotret makanan, hingga menyebabkan “Dehumanisasi”/ seseorang lebih peduli pada dunia maya di internet daripada lingkungan nyata di sekitarnya, pada seseorang yang terkena dampak negatifnya.

Pencegahan pengaruh negatif dari jejaring sosial dapat dilakukan mulai dari orang-orang terdekat individu tersebut, seperti Orang tua, teman, dan saudara, dan kita sebagai manusia juga harus bersikap kritis dan waspada jangan mudah terbawa arus modern yang sekarang sedang melanda kehidupan, jangan pernah menjadikan jejaring jejaring sosial tersebut menjadi seperti sebuah kebutuhan pokok dalam kehidupan, namun jadikan jejaring sosial sebagai media yang bermanfaat untuk membantu kehidupan manusia bukan malah menghambatnya dan menyebabkan ketidaknormalan.

Terkait identitas diri mahasiswa dalam penggunaan media sosial, bahwa media tersebut penggunaannya lebih disesuaikan dengan suasana hati.

Juga dalam adanya pemakaian nama samaran dalam akun yang dibuatnya menunjukkan bahwa mahasiswa belum memiliki rasa tanggung jawab yang penuh terhadap apa yang telah ditulis dan diunggahnya.

Banyaknya akibat yang ditimbulkan dari media sosial khususnya terkait perubahan tingkah laku para pemakainya, maka diperlukan adanya suatu bentuk tembok pembatas sebagai pemisah perubahan tingkah laku yang ditawarkan oleh media sosial tersebut, benteng tangguh dari diri pribadi dan juga positive thinking harus ditanamkan.

Apapun sarana yang kita gunakan untuk memudahkan suatu tindakan atau perbuatan kita, hendaknya disesuaikan dengan identitas diri yang telah ditanamkan kepada kita sejak kecil. *

Penulis, adalah: Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Jawa Timur

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *