LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Anggota DPR RI, Benny Kabur Harman (BKH), mendorong wartawan  bongkar habis mafia tanah di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan segala modus operandinya, karena meresahkan masyarakat.

BKH menyampaikan itu ketika berdiskusi dengan wartawan dari berbagai media massa di Labuan Bajo baru-baru ini.

Menurutnya, mafia tanah di Labuan Bajo dan sekitarnya berbahaya, mengorbankan masyarakat, mengorbankan rakyat kecil. Ini merampok hak rakyat dengan segala macam cara.

Mafia tanah di Labuan Bajo, kata dia, sistimatis. Diduga melibatkan oknum kepala desa, oknum BPN dan lain- lain. Caranya melalu proses hukum dengan merekayasa hukum, merekayasa kasus, pemalsuan sertifikat tanah orang, ada permainan hukum.

Cara demikian berujung di pengadilan. Tujuannya agar pihak ketiga menang, supaya orang berduit ingin kuasai tanah itu. Ingin mendapatkan tanah melalui tangan-tangan calo.

Oleh karena itu, mafia tanah di Labuan Bajo Mabar harus diungkap semua, tidak bisa dibiarkan. Memprihatinkan, meresahkan masyarakat. Kasihan rakyat kecil, mereka jadi korban. Banyak laporan soal ini. Wartawan, media massa, bisa mengungkapkan semua praktek mafia tanah ini, ujar BKH.

Maraknya Mafia tanah di Labuan Bajo tidak terlepas dari penetapan ibu kota Mabar itu sebagai kota super premium, berarti kelas dunia. Banyak pihak yang ingin berinvestasi di Labuan Bajo, berarti butuh lahan/tanah, calo-calo tanah beraksi.

Labuan Bajo sebagai kota dunia tentu butuh kepastian hukum untuk investasi, kata BKH.

Menyangkut mafia tanah di Labuan Bajo, BKH “berjanji” akan menyampaikannya kepada Menteri Agraria RI, ungkapnya.

BKH berpandangan, meski Labuan Bajo sudah dibaptis menjadi kota super premium tetapi ada bunyi musik yang besar-besar, buka sampai pagi. Ada anjing berkeliaran, masih ada kandang kambing, kandang babi di belakang rumahnya. *

Penulis: Andre Durung I Editor: Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *