BAJAWA, FLORESPOS.net – Bupati Ngada Andreas Paru, Selasa (5/3/2024) melantik dan mengambil sumpah Edeltrudis Ngole atau yang sering disapa Eda Ngole sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Ngada.

Eda Ngole yang sebelumnya merupakan Sekretaris pada Dinas yang sama dilantik di Aula Setda Ngada didampingi Ferdin Djawa Suri yang adalah Kepala Badan Keuangan Kabupaten Ngada dan Yosep Bhara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada selaku Saksi awam serta Saksi Rohani RD. Paul Azi.

Bupati Ngada Andreas Paru mengatakan bahwa jabatan yang diemban dalam perjalanannya tentu ada dinamika dan beberapa waktu terakhir jabatan eselon 2 diemban oleh pejabat kelahiran di atas tahun 70-an.

Hal ini berarti regenerasi mulai terjadi yang tentunya pejabat yang dilantik disesuaikan dengan perkembangan zaman juga dinamika organisasi.

Jabatan merupakan sesuatu yang tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa namun merupakan suatu hal yang biasa dalam sebuah organisasi termasuk Pemerintah Daerah itu sendiri.

Pergantian pejabat harus dilihat dari perspektif kebutuhan organisasi. Kepada pejabat terlantik dirinya memesan khusus bahwa sebagian besar masyarakat Kabupaten Ngada berprofesi sebagai petani sehingga kehadiran Dinas Pertanian sungguh bermanfaat dan dirasakan eksistensinya terhadap para petani itu sendiri.

Sebagai seorang pemimpin yang akan menggerakkan segenap bawahan baik secara struktural maupun yang di luar struktur juga menggandeng potensi yang ada, SDM dalam dan luar Kabupaten Ngada di sektor apa saja agar dapat diramu memajukan sektor pertanian di Kabupaten Ngada.

Sebagai pimpinan dinas yang membawahi bawahan yang cukup banyak termasuk para PPL yang saat ini juga dihadapkan dengan persoalan keterbatasan fiskal daerah sehingga inovasi harus segera dilakukan.

Pertanian menjadi tumpuan utama dalam rangka pengembangan potensi Kabupaten Ngada.

Sebagai seorang kepala dinas Pertanian saat ini menurutnya tidaklah mudah dengan dihadapi persoalan fiskal daerah juga kelangkaan pupuk hingga harga beras yang tidak stabil juga persoalan lainnya terkait sektor pertanian.

” Lakukan terobosan dan inovasi dengan merangkul kekuatan lain. Jangan andalkan kerja sendiri atau ego sektoral,” pesannya.

Kopi yang merupakan brand Kabupaten Ngada lewat Kopi Arabika Flores Bajawa saat ini menuju kepada keadaan yang sungguh memprihatinkan sementara harga kopi saat ini menjanjikan.

“Di Jakarta Kopi Arabika Flores Bajawa sudah tembus dengan harga Rp200.000 per kg. Harga kopi Bajawa saat ini paling mahal di Indonesia,” katanya.

Hal yang memprihatinkan adalah banyak pohon kopi yang telah ditebang dan diganti dengan tanaman lainnya di samping tidak ada perhatian yang serius bagi petani kopi dengan tidak menjaga mutu kopi merupakan pekerjaan berat yang harus segera dicari solusinya.

Dirinya meminta agar segera dilakukan konsolidasi terhadap semua komponen seperti Kepala Bidang dan seksi,PPL, kelompok tani atau kekuatan lainnya agar sektor pertanian mendapat kekuatan dan warna baru dan berbeda bagi para petani di Kabupaten Ngada.

Hadir pula pada kesempatan tersebut Wakil Bupati Ngada Raymundus Bena, segenap staf ahli, para asisten serta sejumlah pimpinan perangkat daerah Kabupaten Ngada.*

Penulis: Wim de Rozari/Editor: Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *