LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus mengintensifkan “program” bincang santai bersama para pihak/stakeholders demi kebaikan kepariwisataan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) ke depan.

Hal dimaksud biar lebih dekat dengan BPOLBF. Biar tidak kaku membicarakan, mendiskusikan kebaikan kepariwisataan setempat yang lebih baik, termasuk menyelesaikan masalah. Supaya ke depannya kepariwisataan Labuan Bajo dan sekitarnya maju, bermutu, berkualitas, sempurna.

Sebagai badan yang dibentuk untuk mengakselerasi pengembangan pariwisata di DPSP Labuan Bajo dan sekitarnya, BPOLBF terus memperkuat kolaborasi dan koordinasi bersama dengan mengintensifkan komunikasi lintas stakeholder industri parekraf di Labuan Bajo.

Sehubungan dengan itu, selain melakukan publikasi aktif melalui media massa dan digital, komunikasi interaktif dua arah juga dilaksanakan secara offline melalui tatap muka dan bincang santai bersama para pelaku industri parekraf di Labuan Bajo.

Hal ini diharapkan menjadi ruang bagi para stakeholder untuk bersama-sama berdiskusi tentang bagaimana menuntaskan permasalahan kepariwisataan yang ada di Labuan Bajo.

Inisiatif tentang ini adalah Frans Teguh selaku Plt. Direktur Utama BPOLBF, dikolaborasi dan difasilitasi bersama RP. Marsel Agot, SVD yang juga merupakan tokoh masyarakat sekaligus aktivis lingkungan dan pelaku parekraf Labuan Bajo, dilakukan secara kasual di Taman Green Prundi Hotel Labuan Bajo pekan pertama Pebruari 2024.

Frans Teguh berharap, bentuk koordinasi dan kolaborasi melalui gaya komunikasi kasual dapat mencairkan kekakuan dan menciptakan suasana saling terbuka bagi seluruh pihak yang hadir dalam menyampaikan berbagai kendala, keluhan, serta masukan kepada BPOLBF, terutama terkait isu strategis pengembangan DPSP Labuan Bajo selama ini.

Kata Frans Teguh, pihaknya ingin ada suasana yang terbangun bahwa BPOLBF tidak jauh, tidak susah untuk dijangkau, dan tidak sulit untuk diajak bicara.

Tugas dan fungsi dari BPOLBF mempercepat perkembangan kepariwisataan di daerah, lalu mendorong perkembangan pariwisata yang bisa melibatkan peran aktif masyarakat, bisa memberikan manfaat secara ekonomi, dan juga bisa meningkatkan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki tanpa menggantikan identitas atau mengambil kewenangan dari kelembagaan yang sudah ada, melainkan berusaha untuk memastikan bahwa koordinasi dan kolaborasi antara daerah dan pusat dalam upaya mempercepat pembangunan kepariwisataan yang ada di Labuan Bajo dapat berjalan dengan baik.

“Karena itu mari kita sering-sering duduk dan bicara bersama tentang bagaimana mengentaskan masalah- masalah kepariwisataan yang ada di Labuan Bajo ini,” ungkap Frans Teguh.

Selanjutnya, dalam bincang santai ke depannya secara rutin dan berkala akan dilakukan dengan para ststakeholder disampaikan beberapa insight terkait hal-hal yang akan dikerjakan BPOLBF sepanjang tahun 2024 baik di wilayah otoritatif dan koordinatif, antara lain seperti strategi penanganan krisis bencana kepariwisataan, peningkatan kualitas SDM, komunikasi melalui koordinasi aktif bersama Pemda, _Calender Of Event_ berkelanjutan, serta pengembangan Kawasan Parapuar yang merupakan Kawasan Pariwisata Terpadu yang dikelola BPOLBF.

Salah satu fokus utama Pemerintah hingga saat ini adalah pengembangan SDM. Pariwisata memiliki kriteria dan kualifikasi standar SDM yang harus lebih dipersiapkan. Sehingga harus didorong dengan adanya sekolah- sekolah pariwisata seperti SMK Pariwisata, Perguruan Tinggi Pariwisata. Kemudian memperbanyak pelatihan dan peningkatan skill bagi para pelaku parekraf, karena membangun pariwisata sama dengan membangun SDM berkualitas.

Sementara untuk Calender of Event pada Februari ini akan launching, sehingga para travel agent juga bisa melihat peluang ini untuk bisa mengajak para wisatawan untuk berkunjung ke Labuan Bajo, jelas Frans Teguh.

Terkait pengembangan kawasan Parapuar yang merupakan kawasan otorita yang dikelola BPOLBF, pada 23 Januari 2024 lalu BPOLBF telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama 2 investor yaitu Dusit Internasional dan Eiger Indonesia. MoU ini merupakan langkah awal pergerakan investasi di dalam Kawasan Parapuar sebelum nantinya akan diturunkan menjadi PKS (Perjanjian Kerja Sama).

Beberapa aktivitas outdoor akan menjadi atraksi wisata baru di kawasan yang kami kembangkan bersama Eiger Indonesia, seperti glamping dan tracking activity.

Selain itu, kehadiran Dusit Internasional ke depannya akan menambah jumlah sebanyak 150 kamar untuk Labuan Bajo. Ini tentu menambah pilihan atraksi dan akomodasi di destinasi yang saling terintegrasi, tegas Frans Teguh.

Pada kesempatan itu, Yakobus Stefanus Muda, salah satu anggota Asosiasi Travel Agent (ASITA) mengapresiasi program pengembangan pariwisata yang telah dilakukan BPOLBF. Menurutnya BPOLBF telah memberi peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi di Labuan Bajo.

“Kami bersyukur dan memberikan apresiasi kepada BPOLBF karena telah membuat Labuan Bajo menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi, ” ujarnya.

Dengan melihat peningkatan kunjungan wisatawan yang meningkat dari tahun ke tahun dari 1,700 dan tahun 2023 lalu menjadi 400 ribuan kunjungan, ini merupakan suatu pencapaian yang luar biasa, ungkap Muda.

Masih Mudah, terlepas dari permasalahan internal maupun kinerja antar kelembagaan, ada tantangan-tantangan baru ketika pengembangan Labuan Bajo secara massif di bidang pembangunan infrastruktur, telah mencapai tahap yang sudah maksimal, ini hal yang perlu kita banggakan dari seluruh destinasi yang ada di Indonesia, tandasnya.

Bincang santai dan kegiatan- kegiatan lain yang serupa akan terus berjalan dan secara rutin dilakukan sehingga komunikasi antar BPOLBF dan para stakeholders lintas instansi dan lembaga pemerintah di daerah, berbagai asosiasi, akademisi, komunitas, media, dan pelaku industri parekraf lainnya bisa semakin baik kedepannya. *

Penulis: Andre Durung I Editor:Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *