Oleh: RD. Donnie Migo

Selasa, 28 November 2023

(Selasa Pekan Biasa ke XXXIII)

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Pada hari ini Injil Lukas (21:5-11) mengisahkan kepada kita sekalian tentang bagaimana panggilan kita untuk memuliakan Allah.

Sebab kadang kita begitu terlena dengan keindahan duniawi dan kita menjadi lupa untuk memuliakan Allah sebagai pencipta segala yang indah dan menarik itu. Kenyataan ini mengundang untuk merefleksikan diri, sudah seberapa sering kita memuliakan Allah?

Tuhan Yesus dalam injil hari ini mengingatkan kita akan konsekuensi dari orang-orang yang lupa memuliakan Allah.

Mereka ini akan mudah tersesat dan mudah diprovokasi untuk memenuhi keinginan-keinginan orang atau kelompok tertentu untuk melakukan pemberontakan.

Dua konsekuensi ini merupakan awasan bagi kita sekalian agar jangan sampai kita pun akan bersikap demikian.

Penyesatan dan pemberontakan baik secara virtual atau tidak sudah menjadi bagian dari penyebaran informasi saat ini.

Oleh sebab itu jangan sampai generasi muda Gereja menjadi terkejut dengan situasi dunia yang penuh dengan kecenderungan-kecenderungan seperti ini; suatu situasi tanpa iman, di mana Allah tidak dimuliakan, sehingga yang ada hanya konflik yang berkepanjangan.

Dalam bacaan pertama dari kitab kedua Makabe, Eleazar menekankan satu hal yang penting agar tidak menyesatkan orang lain, yakni dengan hidup apa adanya, bukan hidup berpura-pura.

Sikap pura-pura dalam arti tertentu juga merujuk kepada penyesatan, sebab apa yang ditampilkan belum tentu sebagaimana kenyataannya.

Di sini dibutuhkan kehati-hatian, agar mampu melihat suatu fenomena secara kritis; baik dengan kacamata intelektual dan kacamata iman, jangan sampai kita terlalu cepat percaya dengan “fenomena pura-pura” yang akan mengiring kita kepada penyesatan.

Memuliakan Allah dengan sepenuh hati membantu kita untuk jauh dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan, dan kecenderungan untuk melakukan pemberontakkan.

Muliakanlah Allah kita melalui nafas kehidupan yang kita nikmati, muliahkanlah Dia melalui keindahan alam yang kita lihat dan melalui berbagai sukacita yang kita alami.

Dengan membangun kebiasaan demikian maka kita akan terlindungi dari upaya penyesatan dan pemberontakan, sehingga yang kita kagumi adalah Allah yang tinggal di dalam bait Allah, bukan permata-permata apalagi bahan-bahan persembahan yang hanya menghiasi bait Allah. *

RD. Donnie Migo, Imam Keuskupan Maumere, Mahasiswa Global Programs (Missouri School of Journalism) pada University of Missouri, USA

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *