Catatan Redaksi:

Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota berpulang ke pangkuan llahi  di RS Carolus Jakarta pada Minggu (19/11/2023) malam pukul 18.21 WIB.

Ada banyak kenangan indah dari sosok Uskup Pertama Keuskupan Maumere itu di mata orang-orang yang mengenalnya, termasuk dari Uskup Manokwari-Sorong Mgr. Hilarion Datus Lega.

Berikut beberapa kenangan terindah tentang sosok Uskup Sensi di mata Uskup Datus Lega, baik saat mengenyam pendidikan/pembinaan di Seminari Tinggi Ritapiret, maupun saat menjadi imam dan menjadi Uskup.

Siapa dan apa Uskup Sensi di mata Uskup Datus Lega:

1). Berjumpa langsung Mgr. Vincentius Sensi Potokota di Mataloko, 24 September 2023, saya membatin, Uskup Agung Ende ini tidak bakal lama lagi hidupnya.

Ia nampak parah. Masih suka tersenyum manis, khas dia. Tapi jelas ia menyembunyikan kesakitan. Ia tidak merayakan sampai akhir ekaristi pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) UNIO itu.

Akan tetapi masih ikut sebagian resepsi pembukaan malam itu dan luar biasa. Ikut sesi pertama 25 September. Sensi yang saya kenal seperti akan selesai dengan hidupnya di dunia fana ini.

2). Saya bersyukur masih sempat mengunjungi dia di RS Carolus Jakarta, 25 Oktober 2023. Dahsyat. Lain dari perjumpaan di Mataloko persis sebulan lalu.

Wajahnya merah, tidak pucat. Mengobrol lancar, tanpa ditanya. Singkat kata, Sensi makin sembuh seperti sedia kala. Ternyata itu pertemuan terakhir sampai dengan maut menjemputnya Minggu 19 November  2023.

3). Apa yang selalu menarik dari Sensi? Bagi saya tentu.

Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong Mgr. Hilarion Datus Lega

Pertama, Penampilan fisik atletisnya yang (amat) padu dengan ketampanannya. Terpaut empat tahun dalam usia tahbisan, Sensi bagi saya  orang yang dalam Bahasa Generasi Z sekarang cuakepp buangettt. Hidup bersama di Ritapiret, empat sampai lima tahun.

Kedua, Ia tidak pernah diragukan  dalam hal kepemimpinan. Sebagai mahasiswa di urusan Senat dan sebagai frater, Ia pernah Ketua Umum.

Sensi adalah juga dirigen handal dan pernah menjadi kapten kesebelasan sepakbola Ritapiret, ketika berhadapan dengan PSN Ngada dalam laga uji coba menjelang El Tari Memorial Cup. Kedudukan akhirnya imbang 2-2.

Paling terkesan gol penyeimbang dicetak degan heading (baca:tandukan) jitu Sensi, ketika kesebelasan kami tertinggal 1-2.

Ketiga, Terus terang, saya kenal intensif Sensi. Ia salah seorang rekan senior yang episkopabilis. Meski saya lebih dahulu menjadi Uskup (2003), saya yakin Sensi bakal menjadi Uskup pula (2006).

Ia Uskup pertama Keuskupan Maumere. Lantaran tugas yang sama setiap tahun pasti berjumpa sejak  tahun 2006 itu dalam rapat tahunan Konfrensi Wali Gereja (KWI).

Pertemanan seperti seiring seperjuangan. Dari rekan Uskup NTT yang suka sekali saya candai (baca: ganggu-ganggu), kecuali Mgr. Frans Kopong Kung, ya Sensi itulah. Sensi dari angkatan imamat 1980. Kopong dari 1982, dan saya dari tahun 1984. Dekat-dekatlah. Itulah pertemanan.

Keempat, Satu yang mengikat kami bersama, hemat saya adalah  bahwa kami  berbangga menjadi uskup  dari sebuah alma mater yang sama Ritapiret.

Lama sekali sesudah Izak Doera menjadi Uskup di Sintang-Kalbar (1977) baru datang Longinus da Cunha sebagai Uskup Agung Ende (1996). Ini dua alumni kebanggan Ritapiret. Mereka ini seperti bidan yang melahirkan dan guru  yang meloloskan serta ilham yang memunculkan barisan uskup-uskup jebolan Ritapiret.

Ben Bria di Denpasar (2000), Kopong 2001 di Larantuka, saya 2003 di Sorong, Sensi 2006 di Maumere, kemudian ditransfer ke Ende 2007; Domi Saku (2007) di Atambua. Lalu, hampir berturutan muncul Silvester San, Hubert Leteng, Norberto Amaral, dan Edwaldus Sedu, serta Sipri Hormat.

Bila mana saya dipandang tidak berlebihan, masih akan banyak dilahirkan uskup-uskup (bahkan mungkin Kardinal dari Ibu bernama Ritapiret. Itulah kebanggaan.

Kelima, Terakhir, saya tulis ini sebetulnya sehubungan dengan rasa bangga saya akan Mgr. Vincentius Sensi Potokota yang baru seminggu lalu meninggal dunia dalam damai  Tuhan. Beristirahatlah Sensi dalam keabadian. RIP. *

Ditulis oleh Mgr. Hilarion Datus Lega, Uskup Manokwari-Sorong. 26 November 2023-Hari Raya Kristus Semesta Alam

Silahkan dishare :

1 Komentar

  1. Sungguh sikap kenabian yang dikisahkan oleh Uskup Manokwari pada mendiang Uskup Sensi adalah Sahabat sejati. Kini tiba saatnya Kathedral telah kosong, Gembala umat telah tiada. dalam Kevakuman ini pasti akan diorbitkan sosok bersahaja untuk mengambil posisi sebagai Gembala umat.
    Selamat jalan Yang Mulia Doakan Umat Mu. Rest in Peace..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *