ENDE, FLORESPOS.net-Berpulangnya Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota meninggalkan duka yang mendalam bagi umat di Keuskupan Agung Ende. Uskup Sensi bukan saja sekadar gembala umat di Keuskupan Agung Ende tetapi sosok yang juga sebagai guru dan orangtua.

Senator asal NTT, Angelius Wake Kako (AWK) kepada Florespos.net, Rabu (22/11/2023) menceritakan kenangannya bersama sang gembala sejak masih kuliah, Anggota PMKRI hingga menjabat sebagai anggota DPD RI.

Salah satu orang muda yang cukup dekat dengan Uskup Sensi ini mengatakan dimatanya Uskup Sensi bukan sekadar sang gembala tetapi seorang guru dan orangtua.

Uskup Sensi selalu  memberikan pokok pikirannya di tengah situasi pelik baik dalam konteks lokal maupun nasional. Selalu memberikan motivasi dan penguatan untuk berjuang demi orang kecil dan konsisten sebagai kader yang militan.

“Secara pribadi, bagi saya Mgr Sensi selain sebagai gembala umat di Keuskupan Agung Ende, juga sebagai guru dan orangtua. Beliau selalu memberikan solusi ditengah situasi pelik baik di Ende maupun konteks nasional saat diskusi dengannya,” kata AWK.

AWK mengatakan dirinya dekat dan bersama Uskup Sensi sejak tahun 2008 saat baru bergabung menjadi anggota PMKRI Ende.

Saat itu AWK berdiskusi dan meminta pikiran dari Uskup Sensi terkait masalah sosial kemasyarakatan dan lingkungan.

Salah satu kesannya kala itu saat dirinya meminta Uskup Sensi memberikan penguatan agar konsisten melawan kebijakan pemerintah yang merusak lingkungan yaitu tambang pasir besi di Ende. Dan saat itu perjuangan bersama itu berhasil.

Komunikasi dan diskusi dengan Mgr Sensi Potokota lebih intes saat dirinya terpilih dan menahkodai PMKRI pusat. Kala itu Uskup Sensi juga menjabat sebagai ketua komisi Kerawam KWI periode 2015 -2022.

AWK juga mengakui  Uskup Sensi sangat berperan baginya saat mengambil keputusan untuk berangkat ke Jakarta dan bertarung ke PMKRI pusat.

“Komunikasi saya dengan bapak Uskup Sensi lebih intens ketika saya ketua PMKRI pusat. Saya lebih sering berdiskusi dengannya tentang isu nasional dan dinamika kebangsaan,” katanya.

Hingga pada tahun 2016, kata AWK ketika dirinya mengambil langkah berani melakukan perlawanan dengan melaporkan Risieq Shihab dan setelah itu ia mendapatkan banyak tantangan dan teror. Saat itu Uskup Sensi adalah uskup pertama yang meneleponnya dan memberikan penguatan.

“Uskup Sensi adalah uskup pertama yang menelepon memberikan penguatan dan itu menjadi motivasi bagi saya dan saya merasakan gereja hadir,” kenang AWK.

Baginya Uskup Sensi juga adalah orangtua yang selalu memberikan nasihat di setiap kesempatan bertemu atau via telpon. Uskup Sensi adalah orangtua yang selalu berpesan tentang masa depan dan harapan hidup kaum kecil.

“Bagi saya uskup adalah orangtua yang selalu memberikan nasihat dan saat saya nikah uskup Sensi yang berkat. Saat uskup Sensi dirawat di Semarang dan Jakarta saya selalu berkunjung melihat kondisinya”.

Anggota DPD RI dari NTT ini juga masih memegang pesan – pesan sang gembala kepada dirinya saat menjadi ketua PMKRI pusat dan saat dilantik jadi Senator.

AWK mengatakan  pesan kepadanya itu adalah menjadi kader yang militan itu harus lahir dari keterbatasan bukan kemewahan karena itu adalah bagian dari pembinaan dan pembentukan karakter.

Jangan berhenti mengunjungi orang- orang kecil dan orang- orang yang terlibat dalam perjuangan ditengah keterbatasan waktumu dalam pelayanan.

“Pesan itu saya masih ingat, saya pegang dan saya lakukan dalam pelayanan. Terima kasih yang mulia, selamat jalan dan bahagia di keabadian”. *

Penulis: Willy Aran I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *